Lompat ke konten
Hikmah Sadarkah Sebenarnya Siapa Diri Kita

Sadarkah Sebenarnya Siapa Diri Kita?

Kesadaran adalah hal terpenting yang harus dimiliki oleh setiap orang. Jika seseorang tidak punya kesadaran akan siapa sebenarnya dirinya, maka ia akan terombang-ambing tanpa arah.

Sebagaimana orang gila yang kita temui di beberapa ruas jalan. Karena tidak sadarnya, orang gila akan melakukan apa saja semaunya sendiri. Ada yang berbicara sesuatu yang tidak jelas, yang penting mulutnya terbuka. Ada orang gila yang memakai baju compang-camping, bahkan tidak menggunakan sehelai baju pun karena ia tidak sadar.

Begitu juga kita sebagai manusia. Sifat sadar ini amatlah penting. Akan tetapi, banyak orang yang ketika hidup di dunia ini tidak sadar akan siapa sebenarnya dirinya. Sebagaimana perkataan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu:

كُلُّ النَّاسِ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا

“Setiap manusia sebenarnya sedang tidur, dan jika mati barulah mereka sadar.”

Mengejar yang akhirnya ditinggalkan. Mengumpulkan yang akhirnya dilepaskan. Membanggakan yang akhirnya dilupakan. Membangun sesuatu yang suatu hari mungkin tak lagi kita nikmati.

Hari-hari terus berjalan, kesibukan terus berganti, tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya, untuk apa semua ini?

Maka jangan sampai kita nanti sadar ketika sudah tiada, karena saat itu tidak ada manfaatnya. Dalam tulisan ini, mari kita bermuhasabah agar semasa hidup di dunia ini kita hidup dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya.

Lalu, apa saja yang harus kita sadari?

Ketika kita ditanya siapa sebenarnya kita, maka kita harus menyadari bahwa kita hanyalah manusia, bukan hewan. Karena hewan dan manusia Allah ﷻ ciptakan dengan tujuan penciptaan yang berbeda.

Nah, jika kita sudah sadar bahwa kita adalah manusia, maka ada beberapa hal yang harus kita sadari.

Kita Hidup untuk Beribadah kepada Allah ﷻ

Sadarilah bahwa manusia adalah makhluk Allah ﷻ yang diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya sepanjang hayat.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah yang bermakna tunduk dan patuh hanya kepada Allah ﷻ dalam segala lini kehidupan.

Maka ibadah paling utama setelah shalat wajib, puasa Ramadhan, serta zakat bagi yang mampu adalah sesuai dengan profesi kita masing-masing.

Jika kita seorang pedagang, maka tidak curang dalam timbangan dan barang dagangan.

Jika kita adalah orang yang kaya, maka ibadah utamanya adalah bershadaqah dengan harta kita.

Jika kita seorang petani, maka ibadah yang paling utama setelah shalat wajib dan puasa wajib adalah menyerahkan hasil pertanian hanya kepada Allah ﷻ. Bahkan jika ada tanaman yang dimakan hewan atau dicuri orang, maka hal tersebut bisa menjadi nilai sedekah bagi petani.

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman, lalu tanaman itu dimakan oleh manusia, hewan, atau burung, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Jika kita sebagai pejabat, maka ibadah yang paling utama adalah membuat kebijakan atau aturan yang membuat nyaman masyarakat, dengan aturan tersebut tidak menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ.

Jika kita menjadi orang yang berilmu, maka ibadah utamanya adalah menyampaikan ilmu dengan amanah.

Jika kita bukan siapa-siapa, maka cukup untuk tidak menyakiti orang lain.

Maka segala bentuk perilaku, perbuatan, atau pekerjaan dan profesi kita bisa bernilai ibadah jika kita kerjakan dengan penuh keikhlasan dan rasa tunduk kepada Allah ﷻ.

Jadi, kalau ada pedagang yang curang, pejabat yang tidak adil atau melakukan korupsi, atau ulama yang tidak menyampaikan ilmunya karena suatu hal, sebenarnya dia belum sadar akan siapa sebenarnya dirinya.

Sadar Bahwa Kematian Pasti Akan Datang

Kematian adalah suatu kepastian yang akan datang kepada setiap yang bernyawa. Sebagaimana firman Allah ﷻ:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh, dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Sadarilah bahwa kematian akan datang tanpa izin terlebih dahulu, tidak kenal waktu, dan tanpa pandang bulu.

Siapa pun kita, berapa pun usia kita, setinggi apa pun jabatan dan pendidikan kita, dan sebanyak apa pun harta yang dititipkan kepada kita, kematian pasti akan menjumpai.

Inilah yang harus kita sadari, bahwa mati itu pasti dan penuh misteri. Maka mari kita rangkai dan bingkai kematian ini dengan indah, dengan selalu berbuat ibadah sesuai profesi kita.

Karena Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

Setiap hamba akan dibangkitkan (dari kuburnya) sesuai dengan keadaan tatkala dirinya meninggal (HR. Muslim)

Semua Amal Akan Dipertanggungjawabkan

Sadarilah bahwa seluruh perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ﷻ kelak.

Hal ini berbeda dengan makhluk Allah ﷻ lainnya. Hal itulah mengapa Umar bin Khattab radhiallahu’anhu pernah bersenandung, “Andai aku hanyalah seekor lembu yang diberi makan oleh majikannya, lalu setelah gemuk itu disembelih oleh majikan, dimasak, dan dagingnya dimakan. Setelah itu selesai tanpa ada pertanggungjawaban.

Sedangkan bagi kita manusia, kematian bukanlah akhir segalanya. Akan tetapi, kematian justru menjadi awal dari segalanya.

Allah ﷻ berfirman:

أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36)

Rasulullah Muhammad ﷺ juga menjelaskan beberapa perkara yang akan ditanyakan kepada manusia pada hari kiamat:

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan.” (HR. Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi)

Jika kita sadar bahwa semua perbuatan kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban, maka jangan sampai kita menjadi orang yang lalai. Tapi jadilah kita orang yang pandai.

Siapakah Orang yang Pandai dan Cerdas?

Apa pun profesi kita, apakah rakyat jelata, orang kaya raya, pengusaha, pejabat, dan apa pun itu, maka kita bisa menjadi orang yang pandai dan cerdas menurut Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang cerdas adalah yang bermuhasabah atas dirinya dan beramal untuk apa yang setelah kematian. Orang lemah adalah siapa saja yang dirinya mengikuti hawa nafsunya lalu ia berangan-angan terhadap Allah.” (HR. Ahmad)

Maka orang yang cerdas adalah mereka yang selalu menyiapkan amalan untuk kehidupan setelah kematian kelak.

Siapa pun dan apa pun profesi kita, maka kita berhak mendapat gelar orang yang cerdas menurut Rasulullah Muhammad ﷺ.

Penutup

Pada akhirnya, kesadaran tentang siapa diri kita bukan sekadar mengetahui bahwa kita adalah manusia. Lebih dari itu, kita harus sadar bahwa kita adalah hamba Allah ﷻ yang hidup dengan tujuan, akan menghadapi kematian, dan akan mempertanggungjawabkan seluruh kehidupan yang telah kita jalani.

Maka selama Allah ﷻ masih memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup, mari kita gunakan kesempatan tersebut untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal shalih, menjalankan profesi dengan amanah, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Jangan sampai kita baru tersadar ketika kematian telah datang. Sebab saat itu, kesempatan untuk beramal telah berakhir.

Allah ﷻ menggambarkan penyesalan orang yang telah tiba ajalnya:

رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Semoga Allah ﷻ memberikan kepada kita kesadaran untuk mengenal hakikat diri, istiqamah dalam beribadah, mempersiapkan kematian, dan menjadi orang-orang yang cerdas dengan memperbanyak bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Pengampu Ta’limul Kitab Ma'had Abdurrahman As-Sanad.
Alumni Mulazamah di Ma'had 'Aly Darul Wahyain, Magetan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *