Lompat ke konten
Menggapai Kesempurnaan Ubudiyah Ust Husein

Menggapai Kesempurnaan Ubudiyah

Sebagai seorang muslim, ubudiyah atau ketundukan kepada Allah Ta’ala adalah suatu hal yang sudah menjadi kewajiban. Hendaknya kita selalu berusaha untuk menyempurnakan ibadah-ibadah kita kepada-Nya, karena sesungguhnya kesempurnaan ubudiyah akan berpengaruh terhadap pahala yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya seseorang yang melakukan shalat, maka ada di antara mereka yang mendapat pahala setengahnya, ada yang sepertiganya, ada yang seperdelapannya. Hal itu tergantung pada kesempurnaan hamba tersebut dalam mendirikan shalat.” (HR. Ahmad).

Maka, dalam menggapai kesempurnaan ibadah kita, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.

1. Ubudiyah yang Dilandasi dengan Ilmu

Ketika seseorang beribadah tanpa ilmu, maka ibadahnya tidak akan sampai atau minimal tidak sempurna. Sebagaimana seseorang yang ingin membuat almari, akan tetapi dia bukan ahli dalam hal itu. Jika almari tersebut jadi, tetapi tidak indah dipandang, atau bahkan lebih buruk lagi, tidak jadi sama sekali, walhasil ia hanya membuang-buang waktu dan kayu.

Begitu juga dalam ibadah kita kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana sebuah pepatah mengatakan, “Setiap niat baik itu tidak menjadi kebaikan jika tidak mengetahui caranya.”

Maka dalam ibadah, para ulama ushul memberikan kaidah:

الأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ حَرَامٌ إِلَّا مَا دَلَّ عَلَيْهِ دَلِيْل

“hukum asal dalam ibadah adalah haram (tidak boleh dilakukan), kecuali ada dalil yang menunjukkan”.

Yang perlu kita ketahui, hukum dalam ibadah adalah hukum yang ditetapkan berdasarkan dalil oleh para ahli ilmu, khususnya para mujtahid. Sehingga jika kita menemukan adanya perbedaan hukum dalam suatu masalah, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Perbedaan itu dapat terjadi karena perbedaan cara pandang para ulama dalam memahami sebuah dalil. Yang terpenting, semua itu tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Salah satu contohnya adalah qunut dalam shalat Subuh. Qunut Subuh bukanlah identitas sebuah kelompok tertentu, akan tetapi hal ini sudah menjadi perbedaan sejak munculnya para imam madzhab. Imam Syafi’i rahimahullah dan Imam Malik rahimahullah mensunnahkan qunut dalam Subuh, sedangkan Imam Ahmad rahimahullah dan Imam Abu Hanifah rahimahullah tidak mensunnahkannya. Keduanya mempunyai dalil masing-masing, dan hal ini sudah menjadi perkara yang dikenal dalam pembahasan fikih.

Contoh lainnya adalah dzikir setelah shalat. Di antara kita ada yang berdzikir dengan suara pelan dan ada yang berdzikir dengan suara keras. Keduanya memiliki landasan dari hadits yang shahih.

Dalil dzikir dengan suara pelan adalah hadits dari Abu Dzar radhiallahu’anhu. Beliau menceritakan bahwa sebagian sahabat mengadukan kepada Rasulullah ﷺ tentang orang-orang kaya yang memiliki kesempatan mendapatkan banyak pahala karena mereka dapat berinfak dan bersedekah, sedangkan orang-orang miskin tidak memiliki kemampuan seperti itu. Maka Rasulullah ﷺ memberikan amalan berupa membaca tasbih, tahmid, dan tahlil setelah shalat.

Para sahabat yang miskin pun mengamalkannya dengan sirr. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, amalan tersebut diketahui oleh para sahabat yang kaya dan mereka pun ikut mengamalkannya. Para sahabat yang miskin kemudian mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab bahwa itu adalah karunia Allah Ta’ala yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. (HR. Muslim).

Adapun dalil dzikir dengan jahr adalah hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma. Beliau mengatakan:

“Kami tidak mengetahui selesainya shalat Nabi ﷺ sehingga kami mendengar bacaan dzikir dari dalam masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka dalam hal amalan ibadah, jangan sampai kita mengatakan kepada saudara muslim lainnya, “Kamu beda manhaj,” hanya karena berbeda dalam cara beribadah. Selama sama-sama berpijak kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka perbedaan dalam masalah fikih tidak serta-merta menjadikan kita berbeda manhaj..

Maka di sinilah perlunya kita terus belajar dalam tata cara ibadah kita, sehingga kita tidak mudah menyalahkan orang lain yang berbeda cara ibadahnya. Terlebih ketika amalan tersebut memiliki landasan dari Sunnah Rasulullah ﷺ.

Namun, mengetahui tata cara ibadah yang benar saja belum cukup. Ibadah juga membutuhkan hati yang hadir di dalamnya.

2. Menghadirkan Khauf, Raja’, dan Mahabbah dalam Ibadah

Tiga hal ini termasuk dalam amalan hati. Maka, dengan kata lain, selain anggota badan kita yang melakukan ibadah, hati kita pun harus ikut andil dalam peribadahan.

Allah Ta’ala berfirman:

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِࣖ ۝٩

“(Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad ﷺ), ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?’ Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Dengan rasa khauf, yaitu takut akan tidak diterimanya amal, kita akan termotivasi untuk terus beramal dan memperbaiki amalan tersebut. Sebagaimana perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah, perhatian seorang mukmin terhadap perbaikan amal merupakan perkara yang sangat penting.

Dengan rasa raja’, yaitu harapan akan rahmat Allah Ta’ala dan diterimanya amal, akan tumbuh dalam diri seorang beriman harapan dan semangat untuk terus beribadah.

Dengan mahabbah, yaitu cinta terhadap amalan itu, maka seorang muslim akan selalu merindukan amalan yang serupa dan tidak akan pernah bosan dalam mengamalkannya.

Sehingga dengan tiga amalan hati ini, seorang muslim akan terhindar dari rasa bosan, malas, dan menunda-nunda dalam melakukan ibadah.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Akan merasakan lezatnya iman orang yang ridha kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad ﷺ sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim).

3. Memiliki Keinginan yang Kuat dan Benar dalam Beribadah

Keinginan yang kuat dalam beribadah akan menghilangkan rasa malas dan menunda-nunda amalan dari diri kita. Terkadang kita sudah mengetahui ilmu tentang sebuah ibadah dan mengetahui keutamaannya, akan tetapi rasa malas membuat kita tidak segera mengamalkannya. Maka, ilmu yang kita miliki harus diiringi dengan keinginan dan kemauan untuk mengamalkannya.

Keinginan yang kuat juga akan membuat kita tetap berusaha beribadah meskipun terkadang merasa berat. Jangan sampai kita hanya beramal ketika sedang semangat, tetapi ketika rasa malas datang, kita meninggalkannya. Karena dengan keinginan yang kuat dan terus berusaha, insya Allah kita akan lebih mudah untuk istiqamah dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

4. Selalu Berteman dengan Orang yang Rajin Beribadah

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Furqan ayat 27-29:

وَيَوۡمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيۡهِ يَقُوۡلُ يٰلَيۡتَنِى اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِيۡلًا‏ ٢٧ يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِىۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيۡلًا‏ ٢٨ لَقَدۡ اَضَلَّنِىۡ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَآءَنِىۡۗ وَكَانَ الشَّيۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا‏ ٢٩

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit kedua tangannya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, ‘Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.’” (QS. Al-Furqan: 27-29)

Begitu pentingnya teman, maka Allah Ta’ala mengingatkan dalam ayat ini bahwa orang yang semasa di dunia berteman dengan orang zalim sehingga ia lalai dari ibadah kepada Allah Ta’ala akan menyesal kelak di hari kiamat.

Maka sebaliknya, orang yang di dunia ini berteman dengan orang shalih yang selalu mengajak kepada kebaikan dan kebenaran, insya Allah tidak akan menyesal kelak di hari kiamat.

Sehingga Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

“Aku menyukai orang-orang shalih meskipun aku belum termasuk dari mereka, dengan berharap kelak akan mendapatkan syafaat dari mereka di hari kiamat.”

Itulah beberapa hal yang harus kita perhatikan untuk menggapai kesempurnaan ibadah kita kepada Allah Ta’ala.

Ibadah yang benar membutuhkan ilmu, agar kita mengetahui bagaimana beribadah sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala syariatkan. Namun, ilmu saja tidak cukup. Hati juga harus ikut hadir dalam ibadah, dengan rasa takut, harapan, dan cinta kepada Allah Ta’ala.

Ibadah yang benar membutuhkan ilmu, sedangkan ibadah yang hidup membutuhkan hati.

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita semua ke jalan yang benar dan memberikan taufik-Nya, hingga kelak kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan sedang beribadah. Aamiin.

Referensi

  • Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah, Ma’arijul Qabul.
  • Syaikh Abdul Majid Az-Zindani rahimahullah, Al-Iman.
  • Syaikh Sulaiman Al-Asqar rahimahullah, Al-Wadhih fi Ushul Fiqh.
  • Imam Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah, Umdatul Ahkam.
  • Imam Nawawi rahimahullah, Arba’in Nawawiyah.
  • Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan rahimahullah, Kitab Tauhid.

Pengampu Ta’limul Kitab Ma'had Abdurrahman As-Sanad.
Alumni Mulazamah di Ma'had 'Aly Darul Wahyain, Magetan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *