Lompat ke konten
Layanan dan Program UPZ Abdurrahman Assanad - Abdurrahman As-Sanad Jati Mulur Sukoharjo
Potret Ulama Dalam Islam

Potret Ulama Dalam Islam

Di hadapan para ulama, umat Islam pada umumnya tunduk dan patuh dengan sepenuh hati. Kepatuhan ini lahir secara tulus, bukan dibuat-buat, karena adanya kesadaran bahwa merekalah rujukan dalam memahami dan menjelaskan agama. Pendapat mereka dijadikan pegangan dalam berbagai persoalan, baik urusan agama maupun dunia.

Bahkan para penguasa pun sering kali tidak berani mendahului ulama. Mereka memahami bahwa di hati umat, ulama memiliki pengaruh yang besar—bahkan dapat melampaui kekuasaan itu sendiri.

Karena itulah, sangat mungkin penguasa yang zalim melakukan berbagai cara untuk melemahkan pamor ulama yang lurus di mata umat. Di antaranya dengan mengangkat figur-figur baru yang dilabeli sebagai “ulama”, namun sejatinya dapat dikendalikan untuk kepentingan tertentu, sehingga umat—terutama yang awam—mudah terperdaya.

Di sisi lain, ada pula orang-orang yang memiliki ilmu agama, namun tidak ikhlas dalam menggunakannya. Ilmu tersebut justru dijadikan sarana untuk meraih kepentingan dunia.

Dalam kondisi seperti ini, menjadi penting bagi kita untuk memahami hakikat ulama yang benar-benar layak diteladani dan diikuti.

Pengertian Ulama

Secara Bahasa

Ulama’ (عُلَمَاءُ) adalah bentuk jamak dari ‘alim (عَالِمٌ), berasal dari kata ‘ilmu (عِلْمٌ) yang berarti pengetahuan. Jadi, ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu.

Kriteria ulama dalam Al-Qur’an

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa ulama sejati bukan sekadar pintar, tetapi ilmunya melahirkan rasa takut kepada Allah SWT.

Keterangan para Ulama

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menjelaskan, “Ulama adalah orang yang takut kepada Allah, mengetahui hukum-hukum Allah, dan mengamalkannya.”

Imam Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa’adah mengatakan, “Ulama adalah orang yang mengenal Allah, mengenal perintah-Nya, dan takut kepada-Nya.”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan bahwa ulama adalah orang yang mengetahui kekuasaan Allah atas segala sesuatu, sehingga ilmunya melahirkan rasa khasyyah (takut) kepada Allah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi menyebutkan bahwa ulama adalah orang yang berilmu tentang syariat Allah, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Tidak disebut ulama jika hanya berilmu tetapi tidak mengamalkannya.

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa ulama bukan sekadar orang yang banyak tahu. Ada tiga unsur penting yang harus ada:

  1. Berilmu syar’i: memahami Al-Qur’an, Sunnah, dan hukum-hukum Allah
  2. Memiliki khasyyatullah: ilmunya melahirkan rasa takut kepada Allah
  3. Beramal dan berdakwah: mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya kepada orang lain

Keutamaan Ulama

1. Pewaris para nabi

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ

“Ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu.” (HR. Abu Dawud 3641, Tirmidzi 2682, Hasan Shahih)

2. Derajatnya diangkat oleh Allah SWT

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

3. Lebih utama dari ahli ibadah

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ

“Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” (HR. Tirmidzi 2685, Shahih)

4. Dimintakan ampun oleh seluruh makhluk

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi, hingga semut di lubangnya dan ikan di laut, mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi 2685)

Pembagian Ulama: Ulama Rabbani dan Ulama Su’

A. Ulama Rabbani (Ulama yang Lurus)

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa rabbaniyyin adalah orang yang mendidik manusia secara bertahap, dari ilmu yang kecil menuju ilmu yang besar. Mereka adalah ulama yang mengajar, mengamalkan, dan ikhlas.

وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“Akan tetapi jadilah kalian orang-orang rabbani, karena kalian mengajarkan Al-Kitab dan mempelajarinya.” (QS. Ali Imran: 79)

Ciri-ciri ulama rabbani:

1. Mengamalkan ilmunya

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

“Wahai orang-orang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan?” (QS. As-Shaff: 2)

2. Ikhlas dan tidak menjual agama

وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًاۖ

“Janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah.” (QS. Al-Baqarah: 41)

3. Berani menyampaikan kebenaran, termasuk di hadapan penguasa zalim

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa zalim.” (HR. Ahmad 11058, Hasan)

4. Berusaha menyatukan umat

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ

“Berpeganglah kalian semua pada tali Allah dan jangan bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)

5. Zuhud terhadap dunia

Imam Syafi’i berkata: “Tidak pantas orang yang berilmu tunduk kepada orang bodoh karena urusan dunia.”

Sufyan Al-Jazairi dalam Ashnaful ‘Ulama’ wa Aushofuhum menyebutkan bahwa ulama rabbani akan senantiasa ada di setiap zaman. Ini merupakan bentuk rahmat dari Allah SWT bagi manusia. Sebagaimana dalam hadis riwayat Muslim: “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tetap berada di atas kebenaran…”

B. Ulama Su’ (Ulama Buruk)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menjelaskan bahwa ulama su’ adalah orang yang menjadikan ilmu sebagai alat untuk meraih dunia, baik berupa jabatan, harta, maupun popularitas.

Ciri-ciri ulama su’:

1. Menyembunyikan kebenaran

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ… أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ

“Sungguh orang-orang yang menyembunyikan bukti-bukti yang jelas dan petunjuk yang Kami turunkan… mereka itulah yang dilaknat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 159)

2. Menjual fatwa demi kepentingan dunia

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ

“Manusia yang paling berat azabnya pada hari kiamat adalah orang alim yang tidak diberi manfaat oleh Allah dengan ilmunya.” (HR. Ad-Darimi 292)

3. Menyesatkan umat demi penguasa

Dengan dalih “taat kepada ulil amri” dalam segala hal, baik yang haq maupun yang batil.

إِذَا رَأَيْتُمُ الْعَالِمَ يُخَالِطُ السُّلْطَانَ فَاعْلَمُوا أَنَّهُ لِصٌّ

“Jika kalian melihat seorang alim sering mendatangi penguasa, maka waspadalah.” (HR. Tirmidzi 2259)

Sufyan Ats-Tsauri menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah “pencuri agama”, yaitu ketika kedekatan tersebut dilakukan untuk kepentingan dunia, mencari muka, atau mengorbankan kebenaran. Adapun jika dalam rangka menasihati dan menegakkan kebenaran, maka itu termasuk tugas yang mulia.

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَلْبِسُوْنَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ

“Wahai Ahli Kitab, mengapa kalian mencampuradukkan yang haq dan yang batil serta menyembunyikan kebenaran, padahal kalian mengetahuinya?” (QS. Ali Imran: 71)

4. Berselisih karena dengki

“Manusia itu umat yang satu, lalu Allah mengutus para nabi… Tidaklah berselisih tentang Kitab kecuali orang-orang yang telah diberi Kitab, karena dengki di antara mereka.” (QS. Al-Baqarah: 213)

5. Ilmunya tidak menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT

Hasan Al-Bashri berkata: “Ilmu itu ada dua: ilmu di lisan (sebagai hujjah atas manusia), dan ilmu di hati (itulah yang bermanfaat).”

Perumpamaan ulama su’ dalam Al-Qur’an:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا… فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ

“Bacakan kepada mereka kisah orang yang telah Kami beri ayat-ayat Kami, lalu dia melepaskan diri darinya… Maka perumpamaannya seperti anjing.” (QS. Al-A’raf: 175–176)

Ini menggambarkan orang yang mengetahui kebenaran, namun meninggalkannya demi kepentingan dunia.

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Jika engkau melihat seorang ulama sering berada di pintu penguasa, maka patutlah engkau mencurigai keadaan agamanya. Sebab Nabi bersabda bahwa ulama adalah orang-orang yang dipercaya oleh para rasul atas hamba-hamba Allah, selama mereka tidak bergaul (mencari muka) dengan penguasa.” (Hilyatul Auliya’)

Kitab Rujukan Tentang Ulama

Beberapa kitab penting yang membahas tentang ulama dan adabnya:

  1. Akhlaqul Ulama – Al-Ajurri
  2. I’lamul Muwaqqi’in – Ibnul Qayyim
  3. Ihya’ ‘Ulumiddin (Kitab Ilmu) – Al-Ghazali
  4. Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim – Ibnu Jama’ah
  5. Syarah Shahih Muslim – Imam Nawawi

Wallahu a’lam bish-shawab.

Aktif didunia dakwah di perserikatan Muhammadiyah, ketakmiran Masjid Jamik Abdurrahman Assanad, Yayasan Al Qoyyim dan IRMAS Sukoharjo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *