Lompat ke konten
Layanan dan Program UPZ Abdurrahman Assanad - Abdurrahman As-Sanad Jati Mulur Sukoharjo
Ujian Hidup Dan Keimanan Bukan Hukuman Tapi Tanda Cinta

Ujian Hidup dan Keimanan: Bukan Hukuman, Tapi Tanda Cinta

Bagi orang yang beriman, hidup di dunia ini sejatinya adalah sebuah ujian. Nilainya akan kita lihat kelak di sisi Allah SWT. Karena itu, Allah SWT dalam banyak ayat mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan ini.

Di antaranya firman Allah SWT:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad [90]: 4)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa makna “susah payah” di sini adalah bahwa manusia selama hidup di dunia akan selalu berada dalam keadaan penuh perjuangan dan kesulitan.

Sebagaimana ikan yang hidup di air—jika keluar dari air, maka ia akan mati—begitu juga manusia. Selama masih hidup di dunia, ia tidak akan lepas dari kesusahan. Jika tidak lagi merasakan itu, berarti ia telah meninggalkan dunia ini.

Allah SWT juga berfirman:

الٓمٓ (١) أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَـٰذِبِينَ (٣)

“Alif Lām Mīm. Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja setelah mengatakan ‘kami beriman’, sementara mereka belum diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 1–3)

Dalam ayat lain:

“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui siapa yang bersungguh-sungguh dan bersabar di antara kalian.” (QS. Muhammad [47]: 31)

Dari sini kita memahami bahwa ujian adalah sesuatu yang pasti dalam kehidupan seorang mukmin.

Ujian Bukan Tanda Kebencian

Yang perlu kita pahami, ujian yang Allah SWT berikan bukan tanda bahwa Allah membenci atau menghukum kita. Justru sebaliknya, ujian adalah tanda bahwa Allah SWT mencintai hamba-Nya.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ ِمنْهُ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Dia akan mengujinya.” (HR. Bukhari)

Maka, semakin kuat iman seseorang, biasanya semakin berat pula ujiannya. Bahkan Rasulullah SAW menyebutkan bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih setelahnya.

Hikmah di Balik Ujian

1. Ujian adalah Bukti Cinta Allah SWT

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الجّزَاءَ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً اِبْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِضَى وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخْطَ

“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridho, maka baginya keridhaan Allah. Dan siapa yang tidak ridho, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan)

2. Ujian adalah Penghapus Dosa

Bagi seorang mukmin, pada hakikatnya ujian adalah kenikmatan. Karena melalui ujian itulah dosa-dosa dihapus.

Rasulullah SAW bersabda:

مَايَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةً

“Ujian akan terus menimpa seorang mukmin, baik pada dirinya, anaknya, maupun hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain disebutkan, jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka balasan atas kesalahannya disegerakan di dunia.

3. Semua Ketidaknyamanan adalah Ujian

Bahkan sekecil apa pun yang tidak membuat nyaman seorang mukmin adalah ujian. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, gangguan, hingga duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ujian Sesuai Kemampuan Hamba

Semua ujian yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya pasti sesuai dengan kemampuannya.

لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Karena itu, sebesar apa pun ujian yang kita hadapi, kita harus yakin bahwa kita mampu memikulnya dengan pertolongan Allah SWT.

Beberapa Tipe Manusia dalam Menghadapi Ujian

Setiap orang berbeda dalam menyikapi ujian. Dan di situlah terlihat kadar keimanan seseorang.

1. Tidak Ridho dan Tidak Sabar

Tipe ini sering berkeluh kesah ketika diuji, terutama saat mengalami kesempitan hidup. Allah SWT berfirman:

وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ

“Adapun manusia apabila diuji dengan disempitkan rezekinya, maka ia berkata: ‘Tuhanku telah menghinakanku.’” (QS. Al-Fajr [89]: 16)

Orang seperti ini mendapatkan dua musibah: ujian itu sendiri dan hilangnya pahala karena tidak sabar.

2. Bersabar

Ini adalah sikap yang sangat baik bagi seorang mukmin. Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, semua urusannya baik baginya.” (HR. Muslim)

Orang yang bersabar akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT.

3. Bersyukur

Lebih tinggi dari sabar adalah bersyukur. Ia memahami bahwa ujian adalah jalan untuk mengangkat derajat dan menghapus dosa.

4. Ridho

Inilah tingkatan tertinggi. Ia ridho atas semua ketentuan Allah SWT karena yakin bahwa semuanya adalah yang terbaik.

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Penutup

Begitulah gambaran ujian dalam kehidupan seorang mukmin. Maka mari kita introspeksi diri: kita berada di tipe yang mana saat menghadapi ujian?

Semoga kita tidak termasuk golongan yang berkeluh kesah. Dan semoga Allah SWT memberikan kita taufik untuk bisa bersabar, bersyukur, bahkan sampai pada derajat ridho atas semua ketentuan-Nya. Aamiin.

Pengampu Ta’limul Kitab Ma'had Abdurrahman As-Sanad.
Alumni Mulazamah di Ma'had 'Aly Darul Wahyain, Magetan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *