Lompat ke konten
Asma Wa Sifat Dalam Akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Asma wa Sifat dalam Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Allah Ta’ala memperkenalkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya melalui Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagai seorang muslim, kita wajib mengimani apa yang Allah dan Rasul-Nya kabarkan tentang diri-Nya. Dalam memahaminya, kita harus berpegang pada petunjuk wahyu dan menyadari keterbatasan akal manusia. Sebab, akal tidak mampu menjangkau hakikat Allah serta sifat-sifat-Nya secara menyeluruh.

Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

“Seandainya agama diukur menggunakan akal semata, tentu bagian bawah khuf (sepatu yang menutupi mata kaki) lebih pantas diusap daripada bagian atasnya. Namun, dalam praktiknya, Rasulullah ﷺ mengusap bagian atas kedua khuf beliau.”

Perkataan ini mengingatkan kita bahwa akal memiliki peran dalam memahami agama, tetapi tidak boleh menjadi tolok ukur untuk mengesampingkan petunjuk wahyu. Seorang muslim hendaknya menerima ketentuan yang bersumber dari dalil yang sahih, meskipun hikmah di balik ketentuan tersebut belum sepenuhnya dipahaminya.

Prinsip Salaf dalam Menetapkan Nama dan Sifat Allah

Terlebih dalam perkara akidah, kita harus mengembalikan pemahaman kepada dalil yang sahih. Sebagaimana perkataan yang dinukil dari Imam Syafi’i dan Imam Ahmad rahimahumallah:

“Allah disifati dengan sifat yang Allah sendiri tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya yang agung dan melalui lisan Nabi-Nya yang mulia. Maka, setiap sifat yang disebutkan dalam Al-Qur’an atau hadis sahih tentang Ar-Rahman wajib diimani dan diterima dengan sikap taslim dan qabul, serta meninggalkan perdebatan yang berupa penolakan, takwil, tasybih, dan tamtsil.”

Dari perkataan tersebut, kita dapat memahami metode salaf dalam menyikapi ayat dan hadis tentang Asma wa Sifat Allah. Secara ringkas, prinsip-prinsipnya adalah sebagai berikut.

  • Menetapkan sifat Allah berdasarkan dalil. Para salaf menetapkan nama dan sifat Allah sebagaimana yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam Al-Qur’an dan sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis yang sahih.
  • Mengimani nama dan sifat Allah. Nama dan sifat Allah wajib diimani. Seorang mukmin menerima dalil yang sahih dengan penuh ketundukan, meskipun tidak mengetahui hakikat sifat Allah.
  • Menerima dengan taslim dan qabul. Taslim berarti berserah diri dan tunduk kepada petunjuk wahyu, sedangkan qabul berarti menerima dalil, bukan menolaknya hanya karena belum memahami hakikatnya.
  • Menghindari penyimpangan dalam memahami sifat Allah. Ada beberapa bentuk penyimpangan yang harus dihindari:
    1. Radd, yaitu menolak, mengingkari, atau mendustakan dalil yang menetapkan nama dan sifat Allah.
    2. Takwil yang menyimpang, yaitu memalingkan makna yang ditunjukkan oleh dalil kepada makna lain tanpa landasan yang benar. Sebagai contoh, ketika dalil menetapkan sifat yad bagi Allah, sifat tersebut harus diimani sebagaimana ditetapkan oleh dalil, tanpa menyerupakannya dengan tangan makhluk dan tanpa menentukan bagaimana hakikatnya. Karena itu, makna yang ditunjukkan oleh dalil tidak boleh dialihkan kepada makna lain tanpa landasan yang benar.
    3. Tasybih, yaitu menyerupakan Allah atau sifat-Nya dengan makhluk.
    4. Tamtsil, yaitu menyatakan bahwa sifat Allah sama seperti sifat makhluk.
    5. Takyif, yaitu menentukan atau menggambarkan bagaimana hakikat suatu sifat Allah. Sikap yang benar adalah menetapkan sifat sebagaimana yang disebutkan dalam dalil, tanpa menentukan bentuk atau cara sifat tersebut.

Kelima hal tersebut merupakan perkara yang harus diperhatikan ketika memahami dalil tentang nama dan sifat Allah. Prinsipnya, kita menetapkan apa yang ditetapkan oleh wahyu, menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk, dan tidak berbicara tentang hakikat sifat-Nya tanpa ilmu.

Dalil Al-Qur’an tentang Batas Pengetahuan Manusia

Di antara dalil yang menjelaskan kaidah dalam memahami Asma wa Sifat adalah firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 7.

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖ ۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘ وَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖ ۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an), dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan) dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, ‘Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.’ Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ululalbab.” (QS. Ali ‘Imran: 7)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an terbagi menjadi ayat muhkamat, yaitu ayat-ayat yang jelas dan menjadi pokok rujukan, serta ayat mutasyabihat, yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Mereka memandang bahwa ayat-ayat tentang Asma wa Sifat masuk ke dalam kategori mutasyabihat, karena hakikat sifat-sifat Allah Ta’ala tidak dapat diketahui oleh manusia dan hanya Allah yang mengetahuinya.

Dalam pembahasan Asma wa Sifat, terdapat perkara yang hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh menjadikan keterbatasan pengetahuannya sebagai alasan untuk menolak dalil. Sikap yang benar adalah mengimani wahyu, menerima apa yang Allah kabarkan tentang diri-Nya, dan tidak berbicara melampaui ilmu yang dimiliki.

Ketika suatu sifat Allah disebutkan dalam Al-Qur’an atau hadis sahih, kita tidak boleh menolaknya hanya karena tidak mengetahui bagaimana hakikatnya. Tidak mengetahui hakikat suatu sifat bukan berarti menolak sifat tersebut. Kita mengimani apa yang diberitakan oleh wahyu, sedangkan hakikat dan bagaimana sifat itu tidak kita tentukan berdasarkan khayalan atau pemikiran sendiri.

Menetapkan Sifat Allah Ta’ala Tanpa Menyerupakan-Nya dengan Makhluk

Allah juga berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 11:

فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًا ۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِ ۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (pula). Dengan cara itu Dia mengembangbiakkan kamu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Ayat ini menjadi salah satu kaidah penting dalam memahami Asma wa Sifat Allah. Di dalamnya terdapat dua prinsip yang harus dipahami secara bersamaan:

  • Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya.
  • Allah menetapkan sifat bagi diri-Nya, yaitu Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Kita tidak boleh menolak sifat mendengar dan melihat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya. Namun, kita juga tidak boleh menyamakan pendengaran dan penglihatan Allah dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. Demikian pula dengan sifat-sifat Allah lainnya. Kita menetapkannya berdasarkan dalil, sesuai dengan keagungan Allah, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa menentukan bagaimana hakikat sifat-Nya.

Inilah prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah: menetapkan sifat yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, sekaligus menyucikan Allah dari segala keserupaan dengan makhluk.

Bahaya Penyimpangan dalam Memahami Nama dan Sifat Allah Ta’ala

Berhati-hatilah, jangan menyelisihi metode salaf dalam bab Asma wa Sifat serta akidah.

Dalam perkara akidah, khususnya Asma wa Sifat, metode salaf adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dan apa yang ditetapkan Rasulullah ﷺ bagi-Nya. Mereka sangat berhati-hati dalam menyikapi ayat dan hadis tentang nama dan sifat Allah serta tidak berbicara tentang perkara tersebut tanpa landasan ilmu.

Allah berfirman:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖ ۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ

“Allah memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik). Maka, bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut (Asmaulhusna) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (memahami) nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180)

Makna ilhad secara umum adalah menyimpang dari kebenaran. Para mufasir menjelaskan beberapa bentuk penyimpangan yang disebutkan dalam ayat ini.

Ibnu Abbas dan Mujahid, sebagaimana dinukil dalam penjelasan tafsir, menerangkan bahwa di antara bentuk penyimpangan kaum musyrik adalah mengambil nama-nama Allah untuk menamai sesembahan mereka. Contohnya, nama Lata yang dikaitkan dengan nama Allah, Uzza yang dikaitkan dengan Al-‘Aziz, dan Manat yang dikaitkan dengan Al-Mannan.

Imam Ali juga dinukil menjelaskan bahwa ilhad bermakna mendustakan, sedangkan makna umumnya adalah menyimpang dari tujuan yang benar.

Dalam pembahasan Asma wa Sifat, penyimpangan dapat berupa menolak atau mengingkari sifat yang ditetapkan oleh dalil, memalingkan maknanya tanpa landasan yang benar, menyerupakan Allah dengan makhluk, menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk, atau menentukan bagaimana hakikat sifat-Nya.

Karena itu, kita harus berhati-hati ketika berbicara tentang Allah. Jangan sampai kita menetapkan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh dalil atau menafikan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya.

Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

قِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ فَإِنَّهُمْ عَنْ عِلْمٍ وَقَفُوا وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ كَفُّوا

“Berhentilah sebagaimana kaum itu berhenti. Sesungguhnya mereka berhenti berdasarkan ilmu dan menahan diri dengan pandangan yang tajam.”

Nasihat ini mengajarkan bahwa dalam perkara agama, khususnya perkara gaib dan akidah, kita perlu mengetahui batas ilmu dan tidak berbicara melampaui petunjuk yang ada.

Imam Abu Umar Al-Auza’i rahimahullah juga berkata:

عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ، وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوهُ لَكَ بِالْقَوْلِ

“Berpeganglah pada atsar orang-orang terdahulu (salaf), meskipun manusia menolakmu. Waspadalah terhadap pendapat manusia, meskipun mereka menghiasinya untukmu dengan perkataan yang indah.”

Kedua nasihat tersebut mengingatkan kita agar mendahulukan petunjuk wahyu dan penjelasan generasi salaf daripada pendapat yang tidak memiliki landasan yang benar. Ini bukan berarti akal tidak digunakan. Akal tetap digunakan untuk memahami dalil, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak dalil yang sahih.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ menceritakan tentang dua orang dari kalangan Bani Israil. Salah satunya dikenal sebagai ahli ibadah, sedangkan yang lain dikenal banyak melakukan dosa. Ketika ahli ibadah itu melihat orang yang berdosa terus mengulangi perbuatannya, ia berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu.”

Allah kemudian menegur orang yang mengucapkan perkataan tersebut. Dalam riwayat itu, Allah menyatakan bahwa Dia telah mengampuni orang yang berdosa tersebut dan membatalkan amal orang yang lancang memastikan bahwa Allah tidak akan mengampuninya.

Kisah ini memberikan pelajaran tentang bahaya berbicara mengenai keputusan dan ketetapan Allah tanpa ilmu. Seseorang tidak boleh memastikan bahwa Allah tidak akan mengampuni seseorang hanya berdasarkan penilaiannya sendiri.

Pelajaran ini juga mengingatkan kita agar berhati-hati dalam membicarakan Asma wa Sifat. Jangan sampai kita menetapkan atau menafikan sifat Allah berdasarkan dugaan, khayalan, atau pendapat yang tidak memiliki landasan dalil.

Contoh Penerapan Kaidah Salaf dalam Memahami Sifat Allah

1. Menetapkan Sifat Wajah bagi Allah

Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Dia memiliki wajah. Di antara ayat yang menjelaskan hal ini adalah firman Allah dalam QS. Ar-Rahman ayat 27:

وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِ ۚ

“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)

Allah menyebutkan sifat wajah dalam sejumlah ayat Al-Qur’an. Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Al-Lalaka’i termasuk ulama yang membahas dalil-dalil tentang sifat ini dalam karya-karya mereka. Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, sifat wajah ditetapkan berdasarkan dalil. Allah memiliki wajah yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakannya dengan wajah makhluk dan tanpa menentukan bagaimana hakikatnya.

Berbeda dengan prinsip tersebut, Jahmiyah merupakan kelompok yang menyimpang dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan. Dalam pembahasan sifat Allah, Jahmiyah menolak sifat tersebut secara hakiki dan memalingkan maknanya kepada makna lain—seperti zat, kiblat, pahala, atau amal saleh—secara umum tanpa dalil syar’i yang mendasarinya.

2. Menetapkan Sifat Ridha bagi Allah

Allah berfirman:

قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Allah berfirman, ‘Inilah hari ketika kebenaran orang-orang yang benar bermanfaat bagi mereka. Bagi merekalah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.’” (QS. Al-Ma’idah: 119)

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa Dia memiliki sifat ridha. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan sifat ridha bagi Allah sebagaimana yang disebutkan dalam dalil, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa menentukan bagaimana hakikat sifat tersebut. Allah meridhai siapa yang Dia kehendaki sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Berbeda dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah, golongan Mu’athilah dikenal menolak atau meniadakan sifat-sifat Allah yang ditetapkan oleh dalil. Dalam pembahasan sifat ridha, bentuk penyimpangan yang dikritik adalah memalingkan makna ridha kepada pahala atau pujian, sehingga sifat ridha itu sendiri tidak ditetapkan sebagaimana ditunjukkan oleh dalil.

Padahal, pahala dan pujian merupakan buah atau akibat dari keridhaan Allah, bukan alasan untuk meniadakan sifat ridha yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya. Karena itu, sifat ridha harus ditetapkan berdasarkan dalil, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa memalingkan maknanya tanpa landasan yang benar.

3. Memahami Sifat Istiwa dan Tidak Menentukan Hakikatnya

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang bagaimana Allah beristiwa di atas Arasy. Salah seorang muridnya bertanya, “Wahai guruku, bagaimana Allah beristiwa?”

Beliau menjawab dengan perkataan yang masyhur:

الاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“Istiwa itu diketahui maknanya, bagaimana hakikatnya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan mempertanyakan bagaimana hakikatnya adalah bidah.”

Perkataan Imam Malik ini menjelaskan perbedaan antara mengetahui makna yang ditunjukkan oleh dalil dan mengetahui hakikat atau cara suatu sifat. Kita mengimani sifat istiwa sebagaimana disebutkan dalam wahyu, tetapi tidak mengetahui bagaimana hakikatnya.

Karena itu, kita tidak boleh menjawab pertanyaan tentang bagaimana Allah beristiwa dengan khayalan atau gambaran yang dibuat oleh akal manusia. Kita menetapkan apa yang ditetapkan oleh dalil, sesuai dengan keagungan Allah dan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.

Inilah kaidah salaf dalam memahami Asma wa Sifat Allah: menetapkan apa yang ditetapkan oleh dalil, menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk, dan tidak menentukan bagaimana hakikat sifat-Nya.

Asma Wa Sifat Allah Ta’ala Tidak Terbatas pada Jumlah Tertentu

Nama-nama Allah tidak terbatas hanya pada 99 nama atau sebagian ulama menyebut 23 nama yang dikenal manusia. Dalil menunjukkan bahwa ada nama Allah yang Dia ajarkan kepada sebagian makhluk-Nya, ada yang Dia turunkan dalam kitab-Nya, dan ada pula nama yang Dia khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Nya. Karena itu, tidak semua nama Allah diketahui oleh manusia.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ dalam hadis tentang orang yang ditimpa kesedihan dan kegundahan, yang diriwayatkan antara lain oleh Imam Ahmad:

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

“Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau gunakan untuk menamai diri-Mu sendiri, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Mu.”

Doa ini menunjukkan bahwa ada nama Allah yang Dia ajarkan kepada sebagian makhluk-Nya, dan ada pula nama yang Dia khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Nya. Dengan demikian, nama-nama Allah tidak terbatas hanya pada nama-nama yang diketahui manusia.

Adapun hadis tentang 99 nama Allah menjelaskan keutamaan khusus bagi siapa yang meng-ihsha’-nya. Para ulama menjelaskan bahwa ihsha’ tidak sekadar menghitung, tetapi juga mencakup menghimpun, memahami, dan mengamalkan nama-nama tersebut sesuai dengan penjelasan mereka.

Karena itu, hadis tentang 99 nama Allah tidak harus dipahami bahwa seluruh nama Allah hanya berjumlah 99. Penyebutan jumlah tertentu dalam sebagian daftar Asmaul Husna merupakan usaha menghimpun dan menjelaskan nama-nama Allah berdasarkan dalil, bukan berarti membatasi seluruh nama Allah hanya pada jumlah tersebut.

Wallahu a’lam.

Referensi:

  • Az-Zinad fi Syarh Lum’atul I’tiqad, karya Ali Hudhair bin Hudhair.
  • Ma’arijul Qabul, karya Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakimi rahimahullah.

Pengampu Ta’limul Kitab Ma'had Abdurrahman As-Sanad.
Alumni Mulazamah di Ma'had 'Aly Darul Wahyain, Magetan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *