Lompat ke konten
Masuk Surga Karena Tetangga

Masuk Surga karena Tetangga

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berinteraksi dengan orang lain, dan salah satu orang yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah tetangga.

Karena begitu dekatnya hubungan kita dengan tetangga, Islam memberikan perhatian yang besar terhadap hak dan adab bertetangga. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah ﷺ memberikan banyak nasihat agar kita senantiasa berbuat baik kepada tetangga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًا ۙ

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. (QS. An-Nisa: 36)

Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tetangga dekat dan tetangga jauh di antara orang-orang yang diperintahkan untuk kita perlakukan dengan baik. Ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada tetangga bukan sekadar perkara hubungan sosial, tetapi merupakan bagian dari ajaran Islam.

Tetangga dalam pandangan para ulama mempunyai beberapa pengertian, yaitu:

  • Pertama: orang yang tinggal serumah denganmu.
  • Kedua: orang yang rumahnya menempel dengan rumahmu.
  • Ketiga: orang yang terletak empat puluh rumah di sampingmu.
  • Keempat: orang yang tinggal satu negeri bersamamu.

Dengan demikian, pembahasan tentang tetangga tidak semestinya dipahami secara sempit hanya sebatas orang yang rumahnya berdampingan dengan kita. Yang terpenting adalah menyadari bahwa orang-orang yang berada di sekitar kehidupan kita memiliki hak yang perlu kita perhatikan.

Besarnya perhatian Islam terhadap tetangga juga dapat kita lihat dalam sabda Rasulullah ﷺ:

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ.

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jibril terus memberi wasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku menyangka tetangga akan mendapat warisan.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa begitu seringnya Jibril ‘Alaihissalam memberikan nasihat kepada beliau untuk berbuat baik kepada tetangga. Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan tetangga dalam agama Islam. Tanpa memandang agamanya, tetangga tetap memiliki hak yang harus kita perhatikan.

Perhatian yang begitu besar terhadap tetangga menunjukkan bahwa berbuat baik kepada mereka bukan sekadar akhlak sosial yang dianjurkan, tetapi juga berkaitan dengan keimanan seorang muslim.

Tanda Beriman: Berbuat Baik kepada Tetangga

Karena pentingnya berbuat baik kepada tetangga, maka hal tersebut menjadi salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang. Sebaik apa pun ibadah seorang muslim, tetapi jika ternyata tetangganya tidak mendapatkan kebaikan darinya, maka imannya masih dinilai kurang sempurna, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ! الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman! Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan atau gangguannya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Dalam hadits lainnya, beliau ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah menyakiti tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

Dalam riwayat lain dengan redaksi: “…hendaklah berbuat baik kepada tetangganya…”

Para ulama seperti Imam Nawawi rahimahullah, Syaikh bin Baz rahimahullah, Syaikh Utsaimin rahimahullah dan lainnya mengatakan bahwa maksud tidak beriman dalam hadits tersebut adalah tidak sempurna imannya. Sehingga, salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang dapat dilihat dari bagaimana sikapnya kepada tetangganya.

Hal ini juga menunjukkan bahwa kualitas ibadah seseorang tidak hanya tercermin dari banyaknya ibadah yang ia lakukan, tetapi juga dari bagaimana ibadah tersebut membentuk akhlak dan sikapnya dalam bermuamalah dengan orang lain. Hal ini dapat kita lihat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu’anhu. Beliau berkata:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah ﷺ, ada seorang perempuan yang terkenal dengan banyak melaksanakan shalat, puasa, dan sedekah, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya.’ Beliau ﷺ bersabda, ‘Ia di neraka.’

Laki-laki itu berkata, ‘Wahai Rasulullah ﷺ, sesungguhnya ada seorang perempuan yang terkenal dengan sedikit puasa, sedekah, dan shalatnya. Ia hanya bersedekah dengan sepotong keju, tetapi ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya.’ Maka beliau ﷺ bersabda, ‘Ia di surga.’” (HR. Ahmad).

Hadits ini memberikan pelajaran yang sangat penting. Banyaknya ibadah tidak boleh menjadikan seseorang merasa cukup dengan kesalehan dirinya, sementara orang lain justru merasa terganggu dan tersakiti oleh lisannya. Ibadah yang benar semestinya juga memberikan pengaruh kepada akhlak dan muamalah seseorang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dalam surat Al-Ma’un tentang orang yang mendustakan agama. Di antara cirinya adalah sikap keras terhadap anak yatim, tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin, lalai dari shalat, berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan kepada orang lain.

Karena itu, dalam kehidupan seorang muslim, antara ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akhlak kepada manusia tidak semestinya dipisahkan. Kesungguhan seseorang dalam beribadah juga seharusnya terlihat dari bagaimana ia menjaga lisannya, menghormati hak orang lain, dan tidak menyakiti orang-orang di sekitarnya, termasuk tetangganya.

Meraih Surga dengan Berbuat Baik kepada Tetangga

Sungguh mudah untuk meraih surga, dan di antara jalan untuk mendapatkannya adalah berbuat baik kepada tetangga. Rasulullah ﷺ bersabda:

لا يدخل الجنة من لا يؤمن جاره بوئقه

“Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” (HR. Muslim).

Hadits ini kembali menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap hak tetangga. Berbuat baik kepada tetangga bukan hanya bagian dari akhlak yang mulia, tetapi juga menjadi salah satu jalan menuju keselamatan dan surga.

Maka, setelah mengetahui hal ini, marilah kita memulai dari diri kita masing-masing —ibda’ binafsi— untuk berbuat baik kepada tetangga.

Akhlak Rasulullah ﷺ dalam Memuliakan Tetangga

Jika kita telah mengetahui keutamaan berbuat baik kepada tetangga, maka tentunya agama Islam telah memberikan contoh bagaimana berbuat baik kepada tetangga kita. Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan yang amat mulia. Di antara akhlak beliau ﷺ kepada tetangga adalah:

  • Menyampaikan ucapan selamat tatkala tetangga sedang gembira. Ketika tetangga non-Muslim bergembira karena hal-hal pribadi seperti melahirkan, menikah, atau membangun rumah, kita sebagai seorang muslim boleh mengucapkan selamat atas hal tersebut. Akan tetapi, jika kegembiraannya berkaitan dengan agama mereka, seperti hari raya mereka, maka sebagai seorang muslim tidak boleh mengucapkan selamat atas hari raya mereka.
  • Menjenguknya tatkala sakit. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah ﷺ yang menjenguk tetangga Yahudi ketika sakit. Kemudian, setelah itu orang Yahudi tersebut masuk Islam.
  • Berta’ziyah ketika ada keluarganya yang meninggal dunia. Ta’ziyah dalam hal ini bermakna menghibur orang yang masih hidup, bukan mendoakan tetangga non-Muslim yang meninggal. Sebab, mendoakan orang kafir yang sudah meninggal adalah hal yang dilarang oleh agama.
  • Menolongnya jika tetangga meminta pertolongan dan meminjaminya jika dia ingin meminjam. Bahkan, kalau perlu, kita menawarinya sebelum tetangga berkata atau meminta untuk meminjam.
  • Memberikan makanan, karena hal ini bisa membuahkan rasa kasih sayang dan saling tolong-menolong di antara tetangga.

Nabi ﷺ bersabda:

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai kaum muslimat, jangan sampai ada seorang wanita merasa hina untuk bersedekah kepada tetangganya walau hanya dengan satu kaki kambing.” (Muttafaqun ‘alaih).

Nabi ﷺ pernah bersabda kepada Abu Dzar radhiallahu’anhu:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

“Wahai Abu Dzar, jika kamu memasak daging berkuah, maka banyakkanlah airnya dan berikan kepada tetanggamu.” (HR. Muslim).

Aisyah radhiallahu’anha pernah berkata kepada Nabi ﷺ, “Aku punya dua tetangga, lalu kepada yang mana bila aku hendak memberi hadiah?” Beliau menjawab:

إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

“Kepada tetangga yang paling dekat pintunya kepadamu.” (Muttafaqun ‘alaih).

  • Tidak mengganggu dan menyakiti, baik dengan lidah, pandangan mata, telinga, ataupun tangan. Kita tidak boleh mengintip ke dalam rumahnya, tidak boleh mengawasi, atau menyuruh anak-anak untuk memukul anak tetangga, karena semua ini hanya akan menghasilkan pertentangan dan permusuhan.
  • Ikut menjaga dan melindunginya dari kezaliman.
  • Memaafkan kesalahannya, sabar menghadapi gangguannya, dan membalas keburukan dengan kebaikan. Jika dia dihadapi dengan cara ini, niscaya dia akan menjadi baik dan lurus akhlaknya serta mengubah kebencian menjadi kecintaan, sebagai pengejawantahan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34).

Tetangga, Saksi Akhlak Kita

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Sebaik-baik teman di sisi Allah Ta’ala adalah yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah Ta’ala adalah yang paling baik kepada tetangganya.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata: Hadits Hasan).

Abdullah bin Mas’ud pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa saya telah berbuat baik dan berbuat buruk?” Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk bertanya kepada tetangganya dengan bersabda:

إِذَا سَمِعْتَ يَقُولُونَ قَدْ أَحْسَنْتَ فَقَدْ أَحْسَنْتَ، وَإِذَا سَمِعْتَهُمْ يَقُولُونَ قَدْ أَسَأْتَ فَقَدْ أَسَأْتَ

“Jika engkau mendengar tetanggamu mengatakan bahwa engkau telah berbuat baik, berarti memang engkau telah berbuat baik. Dan jika engkau dengar mereka mengatakan bahwa engkau telah berbuat jahat, maka berarti engkau memang telah berbuat jahat.” (Ibnu Majah).

Ketika Mendapati Tetangga yang Tidak Baik

Jika seorang muslim diuji dengan tetangga yang jahat, maka hendaklah dia bersabar terhadapnya. Sebab, kesabarannya akan menjadi sarana untuk bisa melepaskan dan menyelamatkan diri darinya.

Pernah ada seorang lelaki yang datang menghadap Nabi ﷺ untuk mengadukan soal tetangganya. Beliau ﷺ kemudian bersabda, “Bersabarlah!” Hal itu disabdakan oleh beliau ﷺ berulang kali. Pada kali yang ketiga atau keempat, beliau ﷺ berkata, “Keluarkan barang-barangmu ke jalan.”

Dia pun kemudian mengeluarkan barang-barangnya ke jalan. Lalu orang-orang yang lewat di situ bertanya, “Ada apa gerangan denganmu?” Dia menjawab, “Tetanggaku telah menyakitiku.”

Akhirnya mereka pun mengutuk tetangga jahat tersebut, sehingga tetangganya itu mendatangi orang yang mengadu sambil berkata, “Ambillah barang-barangmu itu kembali dan bawa masuk ke dalam rumah. Demi Allah, aku tidak akan mengulang perbuatanku lagi.”

Begitu besar hak tetangga dan begitu mulianya kedudukan tetangga, sehingga Islam memberikan motivasi, ajaran, ancaman, bahkan solusi. Maka, setiap kita adalah tetangga dan mempunyai tetangga. Oleh karena itu, sudah sangat pantas bagi kita semua untuk bersegera dalam satu kebaikan ini.

Wallahu a’lam.

Referensi

  • Riyadhush Shalihin, Imam Nawawi rahimahullah
  • Minhajul Muslim, Abu Bakar Al-Jazairi rahimahullah
  • Ensiklopedi Wanita Muslimah, Haya binti Mubarak
  • Akhlakul Mukmin, Amru Khalid
  • Syarah Hadits Arba’in Nawawiyah, Syaikh Utsaimin rahimahullah

Pengampu Ta’limul Kitab Ma'had Abdurrahman As-Sanad.
Alumni Mulazamah di Ma'had 'Aly Darul Wahyain, Magetan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *