Salah satu rukun iman yang harus kita yakini adalah iman kepada hari akhir, dan di antara peristiwa besar hari akhir adalah terjadinya kiamat. Karena pentingnya tema ini, Allah Ta’ala menamai beberapa surat Al-Qur’an dengan nama-nama kiamat, di antaranya surat Al-Qiyamah, Al-Qari’ah, Al-Haqqah, Al-Insyiqaq, Az-Zalzalah, dan beberapa surat lainnya.
Salah satu rukun iman yang harus kita yakini adalah iman kepada hari akhir, dan di antara peristiwa besar hari akhir adalah terjadinya kiamat. Pentingnya pembahasan tentang kiamat ini tampak dari banyaknya surat dalam Al-Qur’an yang dinamai dengan nama-nama hari kiamat, di antaranya Surah Al-Qiyamah, Al-Qari’ah, Al-Haqqah, Al-Insyiqaq, Az-Zalzalah, dan beberapa surat lainnya.
Rasulullah ﷺ pun dalam banyak hadits, terutama pada fase beliau di Makkah, sering menceritakan tentang kiamat. Sampai-sampai pada suatu khutbah, ketika beliau menyampaikan dahsyatnya hari kiamat, ada seorang sahabat Badui radhiallahu’anhu yang bertanya, “Ya Rasulullah, engkau sering menyebutkan tentang kiamat, sebenarnya kapan kiamat akan terjadi?” Rasulullah ﷺ tetap melanjutkan khutbahnya, sehingga sahabat tadi bertanya hingga tiga kali. Barulah Rasulullah ﷺ menjawab:
“Wahai Fulan, jika aku kabarkan kepadamu kapan kiamat terjadi, kira-kira apa yang sudah kau siapkan untuknya?” (HR. Bukhari)
Allah Ta’ala juga mengingatkan kita agar senantiasa menyiapkan bekal untuk menghadapinya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
هذه الآية تدعو المؤمنين إلى تقوى الله وتحثهم على التفكير في أعمالهم وما أعدوه ليوم القيامة
“Ayat ini mengajak kaum beriman untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dan memotivasi mereka untuk memikirkan amalan yang telah mereka persiapkan untuk menghadapi hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah)
Jika pertanyaan itu diajukan kepada kita, apa jawaban kita?
Kiamat adalah perkara yang pasti, dan waktu terjadinya semakin dekat. Bahkan pada zaman Rasulullah ﷺ pun, beliau bersabda:
“Jarak antara aku dan kiamat seperti dua jari ini” (sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah). (HR. Muslim)
Jika pada zaman Nabi ﷺ saja sudah sedekat itu, maka tidak salah jika di zaman kita ini kita katakan kiamat sudah di ambang pintu. Jika demikian, sudahkah kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya? Mari kita bersama-sama menyiapkan bekal itu. Di antara bekal yang harus kita siapkan untuk menghadapi dahsyatnya hari kiamat adalah:
1. Bekal Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Inilah jawaban dari seorang sahabat Badui radhiallahu’anhu ketika ditanya oleh Rasulullah ﷺ tentang bekal apa yang telah ia siapkan. Ia menjawab, “Aku tidak menyiapkan bekal apa-apa, hanya saja aku mencintaimu, ya Rasulullah.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
المَرْءُ يُحْشَرُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang ia cintai.” (HR. Bukhari)
Dengan siapa kita kelak akan dibangkitkan, hari ini kita sudah bisa menentukannya. Apakah kita ingin dibangkitkan bersama orang-orang shalih, atau sebaliknya? Maka jangan sampai salah mengidolakan dan menyukai seseorang. Untuk itu, mari kita tanamkan dalam diri kita cinta kepada Nabi kita ﷺ dengan selalu mengikuti dan mempelajari sirah perjalanan beliau.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap orang berhak mengaku mencintai, akan tetapi kata cinta perlu bukti nyata. Ketika cinta tidak ada bukti nyata, maka kata itu sekadar pengakuan dusta.”
Di antara bukti cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah:
- Mengikuti dan meneladani perilaku beliau.
- Membaca sirah beliau.
- Sering membaca shalawat atas beliau.
- Mengenal keluarga beliau.
2. Amal Shalih
Bekal berikutnya yang harus kita siapkan adalah memperbanyak amal kebaikan. Mengapa kita harus memperbanyak amal kebaikan? Mari kita renungi salah satu ayat dalam surat Az-Zalzalah:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji atom), niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan keburukan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya (pula).” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Rasulullah ﷺ bersabda mengenai ayat ini, “Tidaklah diturunkan kepadaku suatu ayat yang telah mencakup segala sesuatu kecuali ayat ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, ayat ini sebenarnya sudah mencakup semua hal tentang apa yang nanti akan kita panen di hari kiamat. Sehingga Imam Ali radhiallahu’anhu berkata, “Dunia adalah tempat untuk beramal, bukan tempat untuk memanen. Dan akhirat adalah tempat memanen, bukan tempat beramal. Maka, lihatlah apa yang akan kau panen kelak.”
Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang surat Al-‘Asr, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini saja, niscaya surat ini sudah cukup bagi mereka.”
Surat Al-‘Asr menegaskan bahwa semua orang akan merugi di hari kiamat, kecuali mereka yang memiliki karakteristik berikut:
- Beriman (kepada Allah dan Rasul-Nya).
- Beramal shalih (berbuat kebaikan setelah adanya iman) — inilah poin terpenting dalam hal ini, agar kita tidak termasuk orang yang merugi kelak di hari kiamat.
- Saling menasihati dalam kebaikan dan dalam kesabaran menjalani amal iman dan amal shalih.
3. Bersahabat dengan Orang Shalih
Allah Ta’ala menyebutkan dalam surat Al-Kahfi ayat 18:
وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيْدِ
“Dan anjingnya membentangkan kedua kakinya di depan pintu gua.” (QS. Al-Kahfi: 18)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa dalam ayat ini terdapat pelajaran penting tentang faedah berteman dengan orang shalih. Seekor anjing yang tidak berakal, ketika ia menyertai orang-orang shalih, Allah angkat derajatnya bersama Ashabul Kahfi di surga kelak (Tafsir Ibnu Katsir). Begitu pula seorang muslim yang senantiasa bersama orang shalih, ia akan menyertai mereka di surga kelak. Hal ini sebagaimana perkataan Imam Syafi’i rahimahullah:
“Aku mencintai orang-orang shalih meskipun aku bukan termasuk darinya, karena aku berharap mendapat syafaat (pertolongan) mereka di hari kiamat.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya, maka perhatikanlah dengan siapa kamu berteman.”
4. Jadilah Orang yang Kelak Mendapat Naungan di Hari Kiamat
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya — di mana kelak matahari didekatkan kepada seluruh manusia hingga sedekat satu jengkal, sehingga semua manusia berkeringat, dan keringat mereka sesuai dengan kadar amal mereka. Beliau ﷺ menyebutkan, di antara manusia ada yang tenggelam dalam keringatnya sendiri hingga menutupi daun telinganya. Maka, agar kita terhindar dari hal itu, mari kita berusaha menjadi salah satu dari tujuh golongan yang akan dinaungi Allah kelak, yaitu:
- Pemimpin yang adil.
- Orang yang hatinya senantiasa terpaut/rindu kepada masjid (menunaikan shalat lima waktu di masjid).
- Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah.
- Orang yang bersedekah dengan tangan kanannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahuinya (dilakukan secara sembunyi-sembunyi).
- Pemuda yang diajak berbuat maksiat oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”
- Dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah, dan berpisah pun karena Allah.
- Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian hingga meneteskan air mata. (HR. Muttafaqun ‘Alaih)
Itulah beberapa bekal yang harus kita siapkan. Jangan sampai kita melupakannya karena silau dengan gemerlap dunia, dan jangan sampai tertipu oleh godaan setan. Karena kiamat adalah suatu kepastian yang telah Allah janjikan. Allah Ta’ala berfirman:
يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ
“Wahai manusia! Sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka, janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fatir: 5)
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat, mengaruniakan kepada kita istiqamah di atas iman dan amal shalih, mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ serta orang-orang shalih di surga-Nya, dan menaungi kita dengan naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Aamiin.





