Hari ini kita berada di salah satu bulan yang dimuliakan Allah Ta’ala, yaitu bulan Dzulhijjah. Pada bulan ini terdapat syariat Allah yang menjadi salah satu rukun Islam, yaitu ibadah haji. Selain itu, bagi kaum muslimin yang belum mampu berhaji, terdapat amalan-amalan mulia seperti puasa Arafah yang pahalanya sangat besar, shalat Iduladha, serta ibadah qurban.
Ibadah qurban bermula dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Namun, Nabi Ibrahim AS bukan hanya teladan dalam berqurban. Beliau adalah teladan dalam seluruh aspek kehidupan.
Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Allah Ta’ala juga memerintahkan umat Islam untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim:
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukan termasuk orang-orang musyrik.’” (QS. An-Nahl: 123)
Bahkan Allah memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang enggan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim:
وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ
“Dan tidak ada yang membenci agama Ibrahim kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 130)
Maka di bulan yang mulia ini, marilah kita bermuhasabah: sudahkah kita meneladani Nabi Ibrahim dengan baik?
Berikut beberapa pelajaran dari millah Nabi Ibrahim yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.
1. Tunduk kepada Allah, Menjauhi Syirik, dan Bersyukur
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukan termasuk orang-orang musyrik. Dia selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl: 120–121)
Dari ayat ini terdapat beberapa pelajaran penting:
a. Berserah Diri Hanya kepada Allah
Makna Islam sejatinya adalah istislam lillah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dengan tunduk kepada syariat-Nya. Seorang muslim hendaknya menjadikan syariat Islam sebagai pedoman hidupnya, sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat).
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.’” (QS. Al-An’am: 162)
b. Menjauhi Kesyirikan
Nabi Ibrahim adalah sosok yang sangat jauh dari kesyirikan. Inilah perkara yang paling wajib dijauhi oleh setiap muslim.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah, maka ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim)
Allah Ta’ala juga berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)
c. Selalu Bersyukur atas Nikmat Allah
Nabi Ibrahim senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Syukur adalah sebab datangnya keberkahan.
Betapa banyak orang diberi harta melimpah, namun karena tidak bersyukur justru terjerumus dalam berbagai dosa, bahkan korupsi dan kezaliman. Sebaliknya, banyak orang yang hartanya sederhana namun hidup penuh ketenangan karena pandai bersyukur.
Dengan syukur, nikmat akan bertambah dan menjadi berkah. Sebaliknya, kufur nikmat akan mendatangkan kesempitan dan musibah.
2. Peduli terhadap Sesama Mukmin
Di antara ajaran Nabi Ibrahim adalah memiliki kepedulian terhadap sesama orang beriman.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ ۖ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا
“Dan ketika para utusan Kami datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka berkata, ‘Kami akan menghancurkan penduduk negeri ini, karena penduduknya orang-orang zalim.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya di negeri itu ada Luth.’” (QS. Al-‘Ankabut: 31–32)
Perhatian Nabi Ibrahim kepada Nabi Luth menunjukkan besarnya kepedulian beliau terhadap sesama mukmin.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)
Dalam hadis lain beliau bersabda:
“Tidaklah seseorang menelantarkan saudaranya sesama muslim pada suatu tempat yang kehormatannya terampas dan harga dirinya terlecehkan, kecuali Allah akan menelantarkannya pada saat ia membutuhkan pertolongan.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Al-Albani)
Maka di momen bulan penuh keberkahan ini, marilah kita wujudkan kepedulian kepada saudara-saudara seiman. Di antaranya adalah peduli kepada tetangga dengan selalu mempermudah urusan mereka. Hal ini juga merupakan bukti kesempurnaan iman seorang muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia memuliakan tetangganya.” (HR. Muslim)
Di antara bentuk sederhana memuliakan tetangga adalah berbagi makanan kepada mereka, meskipun hanya semangkuk sayur.
Kepedulian juga hendaknya diwujudkan kepada saudara dan kerabat dekat kita. Apa yang kita sukai tentu juga disukai oleh saudara kita, dan apa yang kita benci tentu mereka pun membencinya. Jika kita tidak suka disakiti maka jangan menyakiti orang lain. Jika kita senang diberi hadiah, maka berilah hadiah kepada saudara kita. Dengan saling memberi akan tumbuh rasa cinta di antara sesama muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Terlebih lagi kepedulian kepada saudara-saudara kita di Gaza, Palestina, yang setiap waktu terus mengalami penderitaan dan kesulitan.
Syaikh Muhammad bin Salim dalam kitab 40 Cara Menolong Saudara Muslim yang Ditindas menjelaskan bahwa di antara bentuk kepedulian kepada kaum muslimin yang tertindas adalah:
- Berniat membantu dan membela mereka karena Allah.
- Mengikuti dan menyebarkan informasi tentang keadaan mereka.
- Memboikot produk-produk yang mendukung Israel la’natullah atau kezaliman terhadap kaum muslimin.
- Mendoakan mereka dalam setiap kesempatan.
3. Pendidikan Anak dalam Keluarga
Di antara keteladanan Nabi Ibrahim yang sangat penting bagi para orang tua adalah keberhasilannya mendidik Nabi Ismail AS menjadi anak yang saleh.
Pelajaran ini dapat diambil dari doa-doa dan perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim yang Allah kisahkan dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam Surah Ibrahim ayat 35–37 dan Surah Al-Baqarah ayat 127.
a. Menjadikan Rumah sebagai Tempat yang Aman dan Nyaman
Keluarga yang tenang dan penuh kebaikan akan membantu tumbuhnya keimanan dan akhlak anak. Nabi Ibrahim berdoa agar negeri dan keluarganya diberi keamanan, karena lingkungan yang baik sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak.
b. Menjauhkan Anak dari Kesyirikan dan Maksiat
Orang tua memiliki kewajiban menjaga anak-anaknya dari segala bentuk penyimpangan akidah dan dosa. Nabi Ibrahim sangat khawatir dirinya dan keturunannya terjatuh ke dalam kesyirikan, sehingga beliau terus berdoa agar dijauhkan darinya.
c. Membiasakan Anak Mendirikan Shalat
Pendidikan shalat harus ditanamkan sejak dini agar menjadi kebiasaan hingga dewasa. Nabi Ibrahim juga berdoa agar dirinya dan keturunannya termasuk orang-orang yang menjaga shalat.
d. Mendekatkan Anak dengan Masjid dan Lingkungan Ibadah
Masjid adalah tempat pendidikan iman dan akhlak terbaik bagi anak-anak muslim. Anak yang dekat dengan masjid akan lebih mudah tumbuh dalam suasana ibadah dan kebaikan.
e. Melatih Anak Menjadi Pribadi yang Bertanggung Jawab dengan Membantu Bekerja
Ketika anak telah memasuki usia baligh, hendaknya orang tua mulai melatih mereka menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab. Anak tidak lagi diperlakukan seperti anak kecil, tetapi mulai diajak membantu berbagai pekerjaan dan kegiatan yang bermanfaat agar mereka memahami tanggung jawab dalam kehidupan.
Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS ketika mengajak Nabi Ismail AS membantu membangun dan meninggikan Ka’bah, sebagaimana Allah kisahkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 127.
Dengan melibatkan anak dalam pekerjaan, amal usaha, dan berbagai aktivitas kebaikan, mereka akan belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, kerja sama, dan kesungguhan dalam menjalani kehidupan.
Jika pendidikan anak dibangun di atas pondasi-pondasi ini, insyaAllah anak-anak akan tumbuh menjadi generasi saleh seperti Nabi Ismail AS.
4. Siap Berkorban demi Agama Allah Ta’ala
Ajaran Nabi Ibrahim berikutnya adalah kesiapan beliau dan keluarganya untuk berkorban demi tegaknya agama Allah Ta’ala.
Ibadah qurban mengajarkan bahwa seorang muslim harus siap mengorbankan apa saja yang ia cintai demi tegaknya agama Allah.
- Orang yang memiliki harta berkorban dengan hartanya.
- Orang yang memiliki ilmu berkorban dengan waktu dan ilmunya.
- Orang yang memiliki jabatan berkorban dengan kekuasaan dan pengaruhnya.
- Orang biasa pun dapat berkorban dengan tenaga dan bantuan sosialnya.
Allah Ta’ala berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)
Di antara bentuk pengorbanan para sahabat adalah ketika Ummu Sulaim menyerahkan putranya, Anas bin Malik RA, kepada Rasulullah ﷺ agar dapat berkhidmat dan membantu beliau dalam segala urusan.
Penutup
Itulah sebagian pelajaran dari kehidupan Nabi Ibrahim AS yang hendaknya kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk mengikuti millah Nabi Ibrahim, menjadi hamba yang bertauhid, peduli terhadap sesama, mampu mendidik keluarga dengan baik, serta siap berkorban demi agama-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.





