Pada hari ini, banyak orang berbicara tentang investasi untuk masa depan. Hal ini wajar, karena masa depan memang harus dipikirkan agar menjadi lebih baik. Ada berbagai cara yang dilakukan seseorang untuk berinvestasi demi masa depan yang cerah. Di antaranya ada yang menabung harta untuk menggapai kehidupan yang lebih baik.
Bagi orang beriman, hal ini memang dibutuhkan. Namun, orang beriman juga akan berinvestasi pada sesuatu yang jauh lebih bermanfaat, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keluarga dan keturunannya, baik selama hidup di dunia ini, terlebih lagi untuk kehidupan di akhirat.
Karena sesungguhnya, masa depan bagi orang beriman adalah kehidupan setelah kematiannya. Di akhirat kelak, kebahagiaan akan dirasakan selama-lamanya. Dan mereka yang mendapatkan kebahagiaan di sana adalah orang-orang yang sangat beruntung. Maka hal itu harus diusahakan sejak berada di dunia yang fana ini. Salah satu cara untuk menggapai kebahagiaan tersebut adalah dengan menjadi orang yang shalih selama hidup di dunia.
Maka, investasi terbaik bagi seorang beriman untuk masa depannya adalah keshalihan dirinya. Allah SWT memberikan kisah nyata tentang hal ini dalam Surah Al-Kahfi.
Yaitu kisah perjalanan Nabi Musa bersama seorang anak muda bernama Yusya’ bin Nun ketika berguru kepada Nabi Khidir. Dalam kisah tersebut, terdapat peristiwa ketika Nabi Khidir membangun kembali dinding rumah milik dua anak yatim di sebuah kota yang penduduknya tidak baik. Mereka bahkan enggan menjamu musafir.
Singkat cerita, Nabi Khidir menemukan dinding rumah yang hampir roboh, lalu beliau mengajak Nabi Musa untuk memperbaikinya tanpa meminta upah sedikit pun. Nabi Musa pun mempertanyakan hal tersebut.
Kemudian Nabi Khidir menjelaskan alasannya dengan mengatakan:
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“Adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya terdapat harta simpanan bagi mereka berdua, dan ayah keduanya adalah seorang yang shalih.” (QS. Al-Kahfi: 82)
Dalam kisah ini, Ibnu Abbas mengatakan bahwa kedua anak tersebut dijaga oleh Allah dari kejahatan penduduk kota karena keshalihan ayahnya (Tafsir Ibnu Katsir).
Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa dalam ayat ini terdapat bukti bahwa seseorang yang shalih dapat menjaga keturunannya. Hal ini karena keberkahan ibadah yang ia lakukan. Bahkan kelak di akhirat, ia dapat memberi syafaat kepada keturunannya dengan mengangkat derajat mereka agar bersama-sama bergembira (Tafsir Ibnu Katsir).
Termasuk bagian dari keshalihan diri seseorang adalah membangun keshalihan keluarganya.
Allah SWT juga berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna ayat ini adalah: lakukanlah ketaatan kepada Allah dan jauhilah perbuatan durhaka kepada-Nya, serta perintahkanlah kepada keluarga kalian untuk berdzikir. Dengan itu, Allah akan menyelamatkan kalian dari neraka.
Definisi Shalih
Jika keshalihan adalah investasi terbaik bagi orang beriman, maka kita perlu mengetahui definisinya agar bisa bermuhasabah: sudahkah kita termasuk orang yang shalih?
Secara bahasa, shalih berarti baik, sesuai, pantas, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Adapun secara istilah, shalih adalah menjaga diri untuk selalu beribadah hanya kepada Allah dengan baik, takut hanya kepada Allah, dan menunaikan hak-hak Allah.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan lainnya disebutkan bahwa orang shalih adalah mereka yang baik secara lahir dan batin. Artinya, apa yang tampak tidak berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya. Meskipun terkadang melakukan kesalahan, ia akan mengakui kesalahannya.
Maka orang shalih bukanlah orang yang tidak pernah salah. Namun, ketika melakukan kesalahan, ia mengakuinya dan bersikap jujur dalam semua hal.
Dengan pemahaman ini, siapa pun kita bisa menggapai keshalihan.
- Jika kita seorang pedagang, maka tanamkan dalam diri untuk menunaikan hak Allah dalam jual beli, tidak curang dalam timbangan, dan lainnya.
- Jika kita seorang petani, maka yakini bahwa yang menumbuhkan tanaman adalah Allah SWT, sedangkan kita hanya berusaha, dan hasilnya kita serahkan kepada-Nya.
- Jika kita seorang pejabat, maka tanamkan bahwa semua yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
- Jika kita seorang pengajar, maka tanamkan rasa takut kepada Allah dengan memperbaiki niat dalam mengajar.
Ciri-Ciri Orang Shalih
Allah SWT menyebutkan di antara ciri orang shalih dalam Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 113–114:
“Di antara Ahli Kitab ada yang jujur. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari dan mereka juga sujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan bersegera dalam berbagai kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang shalih.
Dari ayat ini, terdapat beberapa ciri orang shalih:
- Jujur
- Membaca Al-Qur’an
- Shalat malam
- Amar ma’ruf
- Mencegah kemungkaran
- Bersegera dalam kebaikan
Inilah ciri-ciri orang shalih setelah mereka beriman kepada Allah dan hari akhir serta menjalankan kewajiban yang telah Allah tetapkan. Orang shalih memiliki kebiasaan-kebiasaan tersebut, atau setidaknya sebagian darinya.
Keutamaan Orang Shalih
- Allah menjaga dirinya dan keluarganya di dunia dan akhirat
Sebagaimana dalam penafsiran Surah Al-Kahfi ayat 82, keshalihan menjadi sebab Allah menjaga dirinya dan keturunannya dari keburukan.
- Mendapat doa keselamatan dari kaum muslimin
Sebagaimana dalam hadis shahih riwayat Bukhari tentang doa tasyahud:
السلام علينا و على عباد الله الصالحين
“Keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba Allah yang shalih.”
Nabi SAW bersabda bahwa doa ini mencakup seluruh hamba Allah yang shalih, baik di langit maupun di bumi (HR. Bukhari no. 831).
- Tidak menyesal ketika ajal datang
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10 bahwa seseorang akan menyesal ketika kematian datang karena belum beramal shalih. Maka dipahami bahwa orang yang shalih tidak akan menyesal ketika ajal menjemputnya.
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
- Mendapat kabar gembira saat kematian
Allah SWT berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka (saat ajal), seraya berkata: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih. Bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian.’” (QS. Fussilat: 30)
Itulah janji-janji Allah SWT bagi orang-orang yang shalih. Maka, siapa pun kita, marilah berusaha dan berlomba-lomba menjadi orang shalih dengan mengamalkan satu atau lebih dari ciri-ciri tersebut.
Referensi: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari.





