Lompat ke konten
Adab Istidzan Etika Bertamu Memuliakan Ruan Rumah Dalam Islam

Adab Isti’dzan: Etika Bertamu dan Memuliakan Tuan Rumah dalam Islam

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur berbagai aspek kehidupan, baik hubungan seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun hubungan antarsesama manusia.

Agar mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, seorang muslim hendaknya menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia. Hal ini sering disebut dengan istilah hablu minallah wa hablu minannas.

Di antara perkara yang Allah Ta’ala atur dalam hubungan antarsesama manusia adalah adab ketika memasuki rumah, baik rumah sendiri maupun rumah orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nur: 27)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini:

“Ini adalah adab yang syar’i. Allah Ta’ala mengajarkan adab ini kepada orang-orang yang beriman, yaitu meminta izin sebelum masuk ke rumah orang lain. Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman agar tidak masuk ke rumah orang lain hingga mereka meminta izin terlebih dahulu. Setelah meminta izin, kemudian mengucapkan salam. Hendaknya meminta izin dilakukan sebanyak tiga kali. Jika diizinkan untuk masuk, maka silakan masuk. Jika tidak diizinkan, hendaknya kembali pulang. Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih, bahwa Abu Musa ketika meminta izin kepada Umar bin Khathab sebanyak tiga kali, Umar tidak mengizinkannya. Lalu Abu Musa pulang.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 10: 204)

Beberapa Adab Ketika Bertamu

Dalam bertamu, ada beberapa adab yang perlu kita perhatikan.

1. Memberi Kabar Sebelum Berkunjung

Sebaiknya kita memberi kabar dan meminta izin terlebih dahulu mengenai waktu kunjungan. Hal ini agar kedatangan kita tidak mengganggu waktu tuan rumah.

Pada zaman sekarang, komunikasi semakin mudah. Karena itu, kita bisa menghubungi orang yang akan kita kunjungi terlebih dahulu agar kedatangan kita tidak mengganggu tuan rumah.

2. Mengucapkan Salam dan Meminta Izin Sebelum Masuk

Ketika telah sampai di rumah yang akan dikunjungi, hendaknya kita mengucapkan salam dan meminta izin untuk masuk. Hal ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الاستئذانُ ثَلاثٌ ، فإن أذنَ لَكَ وإلَّا فارجِعْ

“Meminta izin (untuk masuk rumah) itu tiga kali. Jika diizinkan, maka itu yang diinginkan. Jika tidak diizinkan, maka pulanglah.” (HR. Muslim no. 2153)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan:

“Yang merupakan sunah Nabi, bagi orang yang meminta izin untuk masuk rumah orang lain hendaknya ia mengucapkan salam, kemudian baru meminta izin setelah itu. Yaitu dengan berdiri di depan pintu, di posisi yang tidak terlihat oleh orang yang ada di dalam rumah. Kemudian mengucapkan, ‘Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?’ atau ucapan semisalnya. Jika tidak ada yang menjawab, maka diulang kedua kali dan ketiga kali. Jika masih tidak ada yang menjawab, hendaknya pulang.” (Al-Majmu’, 4: 618–619)

Mengucapkan Salam Ketika Masuk Rumah, Baik Ada Penghuninya Maupun Tidak

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتَ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS. An-Nur: 61)

Ibnu Juraij berkata, “Telah memberitahukan kepadaku Abu Az-Zubair, ‘Aku pernah mendengar Jabir bin Abdullah berkata, “Apabila kamu masuk ke dalam rumah keluargamu, maka ucapkanlah salam kepada mereka dengan salam penghormatan yang diberkahi dan baik di sisi Allah.”’”

Mujahid meriwayatkan dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Jika kamu masuk masjid, maka ucapkanlah salam kepada Rasulullah ﷺ. Jika kamu masuk ke rumah keluargamu, ucapkanlah salam kepada mereka. Jika kamu masuk ke dalam suatu rumah yang tidak ada penghuninya, ucapkanlah:

السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

‘Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang saleh.’”

3. Tidak Mengintip ke Dalam Rumah

Di antara hikmah disyariatkannya meminta izin sebelum masuk rumah adalah untuk menjaga pandangan. Rasulullah ﷺ bersabda:

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya disyariatkannya meminta izin itu karena untuk menjaga pandangan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam hadis lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda:

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اطَّلَعَ فِي بَيْتِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَقَدْ حَلَّ لَهُمْ أَنْ يَفْقَئُوا عَيْنَهُ

“Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Suhail, dari bapaknya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ. Beliau bersabda, ‘Barangsiapa menengok ke dalam rumah seseorang tanpa izin pemiliknya, maka sungguh mereka boleh mencongkel mata orang itu.’” (HR. Muslim)

4. Menyebutkan Nama dengan Jelas Ketika Ditanya

Ketika tuan rumah bertanya siapa yang datang, hendaknya kita menyebutkan nama dengan jelas.

Dari Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

“Aku mendatangi Nabi ﷺ dan beliau sedang mandi, sementara Fatimah menutupinya dengan tabir. Beliau bersabda, ‘Man hadzihi?’ (Siapa ini?). Aku menjawab, ‘Ana Ummu Hani’ (Saya Ummu Hani’).” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Aku mendatangi Nabi ﷺ lalu mengetuk pintu. Aku berkata, ‘Ana’ (saya). Maka beliau bersabda, ‘Ana, ana?!’ Seolah beliau tidak menyukai jawaban seperti itu.” (Muttafaqun ‘alaih)

5. Menjaga Privasi di Dalam Rumah

Anak-anak yang telah baligh dan seluruh penghuni rumah hendaknya saling menjaga privasi. Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِيَسْتَـْٔذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ وَٱلَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا۟ ٱلْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَٰثَ مَرَّٰتٍ ۚ مِّن قَبْلِ صَلَوٰةِ ٱلْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعْدِ صَلَوٰةِ ٱلْعِشَآءِ ۚ ثَلَٰثُ عَوْرَٰتٍ لَّكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌۢ بَعْدَهُنَّ ۚ طَوَّٰفُونَ عَلَيْكُم بَعْضُكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتَ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum sembahyang Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَإِذَا بَلَغَ ٱلْأَطْفَٰلُ مِنكُمُ ٱلْحُلُمَ فَلْيَسْتَـْٔذِنُوا۟ كَمَا ٱسْتَـْٔذَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 59)

Imam As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut mengandung beberapa hikmah dan adab penting terkait meminta izin di dalam rumah. Di antara pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

  • Pentingnya Pendidikan Adab Sejak Dini: Ayat ini menunjukkan pentingnya membiasakan anak dengan adab meminta izin sejak kecil, agar mereka siap menjalankannya ketika telah baligh. Orang tua hendaknya memperhatikan perkembangan anak dan membimbingnya secara bertahap untuk memahami tanggung jawab syariat yang mulai berlaku ketika baligh, termasuk menjaga aurat, menjaga pandangan, serta memahami adab meminta izin dan batasan privasi di dalam rumah.
  • Perubahan Adab Setelah Baligh: Ketika anak telah mencapai usia baligh (al-hulum), ia tidak lagi termasuk dalam pengecualian yang berlaku bagi anak-anak. Baligh ditandai dengan keluarnya mani, baik melalui mimpi basah maupun sebab lainnya. Pada perempuan, haid juga merupakan tanda baligh. Apabila tanda-tanda tersebut belum muncul, usia 15 tahun hijriah menjadi batas baligh menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’i. Setelah baligh, adab meminta izin sebagaimana orang dewasa mulai berlaku baginya.
  • Kewajiban Meminta Izin Setiap Kali Hendak Masuk: Anak yang telah baligh wajib meminta izin ketika hendak memasuki ruang pribadi orang lain, termasuk ruang orang tua, baik pada tiga waktu yang disebutkan dalam QS. An-Nur: 58 maupun di luar waktu tersebut. Ketentuan ini menunjukkan bahwa setelah baligh, meminta izin bukan lagi sekadar adab yang dibiasakan, melainkan bagian dari tanggung jawab syariat dalam menjaga privasi.
  • Kesempurnaan dan Hikmah Syariat: Penutup ayat, Wallahu ‘Alimun Hakim, mengingatkan bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Ketentuan meminta izin ditetapkan berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya, serta mengandung tuntunan untuk menjaga kehormatan dan privasi anggota keluarga.

Adab isti’dzan merupakan tuntunan Islam yang mengajarkan kita untuk menghormati privasi dan menjaga kehormatan sesama. Adab ini tidak hanya berlaku ketika bertamu ke rumah orang lain, tetapi juga perlu dibiasakan di dalam rumah sendiri, termasuk dalam mendidik anak-anak agar memahami batasan dan adab meminta izin.

Semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk memahami dan mengamalkan adab-adab yang telah disyariatkan-Nya, sehingga terjalin hubungan yang baik dan penuh penghormatan di antara sesama. Aamiin.

Wallahu a’lam.

Pengampu Ta’limul Kitab Ma'had Abdurrahman As-Sanad.
Alumni Mulazamah di Ma'had 'Aly Darul Wahyain, Magetan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *