
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ تُحَرَّمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: عَلَى كُلِّ هَيِّنٍ، لَيِّنٍ، قَرِيبٍ، سَهْلٍ
“Maukah kalian aku beritahukan tentang orang yang diharamkan atasnya api neraka?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Yaitu setiap orang yang memiliki sifat hayyin, layyin, qarib, dan sahl.” (HR. At-Tirmidzi no. 2488 dan Ibnu Hibban no. 470).
Derajat Hadits: Hasan Gharib menurut Imam At-Tirmidzi. Syekh Al-Albani menilainya shahih dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2488. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 470.
Mufradat (Kosakata)
Beberapa kosakata penting dalam hadits ini:
- Hayyin – هَيِّنٌ
- Akar kata: هَانَ – يَهُونُ.
- Arti harfiah: ringan, mudah, tidak berat.
- Makna konteks hadits: pribadi yang tenang, tidak kasar, tidak mudah marah, dan tidak menyulitkan orang lain.
- Layyin – لَيِّنٌ
- Akar kata: لَانَ – يَلِينُ.
- Arti harfiah: lunak, lembut.
- Makna konteks hadits: pribadi yang lembut dalam perkataan dan perbuatan, serta tidak keras dalam memperlakukan orang lain.
- Qarib – قَرِيبٌ
- Akar kata: قَرُبَ – يَقْرُبُ.
- Arti harfiah: dekat.
- Makna konteks hadits: pribadi yang dekat dengan orang lain, mudah didekati, dan tidak membuat orang merasa segan atau takut untuk berinteraksi dengannya.
- Sahl – سَهْلٌ
- Akar kata: سَهُلَ – يَسْهُلُ.
- Arti harfiah: mudah, lapang, tidak sulit.
- Makna konteks hadits: pribadi yang mudah dalam bergaul, baik dalam berinteraksi, dan tidak mempersulit urusan orang lain.
Syarah (Penjelasan)
Hadits ini memberikan gambaran tentang salah satu karakter seorang muslim yang mendapatkan keutamaan besar di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan ibadah dalam bentuk ritual, tetapi juga membimbing umatnya untuk memiliki akhlak yang baik dalam berinteraksi dengan sesama manusia.
Pertama: Hayyin (Pribadi yang Tenang dan Tidak Kasar)
Sifat hayyin menggambarkan seseorang yang memiliki ketenangan dan kewibawaan dalam dirinya. Ia tidak mudah terpancing emosi, tidak tergesa-gesa dalam bereaksi, dan tidak menjadikan amarah sebagai dasar dalam memperlakukan orang lain.
Orang yang memiliki sifat ini tidak mudah terpancing emosi ketika menghadapi perbedaan pendapat. Ia mampu mengendalikan diri dan tidak tergesa-gesa dalam memberikan tanggapan.
Namun, ketenangan bukan berarti lemah dalam memegang prinsip. Seorang muslim tetap tegas dalam perkara yang benar, tetapi ketegasannya tidak menjadikannya kasar dan sewenang-wenang.
Kedua: Layyin (Pribadi yang Lembut)
Sifat layyin berkaitan dengan kelembutan dalam berinteraksi, baik melalui perkataan maupun perbuatan.
Orang yang lembut tidak mudah melukai perasaan orang lain dengan ucapan yang kasar. Ia memperhatikan bagaimana menyampaikan nasihat, menegur kesalahan, dan memberikan tanggapan.
Kelembutan bukan berarti membenarkan semua perbuatan orang lain atau mengorbankan kebenaran demi menyenangkan manusia. Seseorang tetap bisa mengingkari kemungkaran dan menjelaskan kesalahan, tetapi dilakukan dengan cara yang baik dan tidak melampaui batas.
Ketiga: Qarib (Pribadi yang Dekat dan Mudah Didekati)
Sifat qarib menggambarkan seseorang yang memiliki kedekatan dengan orang lain. Ia tidak membangun jarak karena kesombongan, kedudukan, ilmu, ataupun status sosial.
Orang lain merasa nyaman ketika berada di dekatnya. Ia bersedia mendengarkan, menyapa, dan memberikan perhatian kepada orang-orang di sekitarnya.
Sifat ini penting dalam kehidupan bermasyarakat. Terkadang, seseorang memiliki banyak ilmu dan kedudukan, tetapi orang-orang di sekitarnya justru merasa sungkan untuk mendekat karena sikapnya yang terlalu kaku dan menjaga jarak.
Sebaliknya, pribadi yang memiliki sifat qarib mampu membuat orang lain merasa diterima dan dihargai.
Keempat: Sahl (Pribadi yang Mudah dalam Bermuamalah)
Sifat sahl menggambarkan seseorang yang mudah dalam berinteraksi dan tidak gemar mempersulit urusan orang lain.
Ia tidak suka mencari-cari kesulitan, tidak berlebihan dalam menuntut haknya, dan memiliki kelapangan dalam menghadapi kekurangan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, sifat ini dapat terlihat dari kesediaan membantu, memudahkan urusan, memaafkan kekeliruan, serta tidak memperpanjang persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik.
Rujukan Syarah
Keterangn kosakata dan makna hadits merujuk pada:
- Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami’ At-Tirmidzi, karya Al-Imam Abul ‘Ala Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfuri, penjelasan hadits no. 2488.
- Syarhus Sunnah, karya Al-Imam Al-Baghawi, jilid 6, halaman 480.
Faedah Hadits
Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dan terapkan dari hadits ini:
1. Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari jalan keselamatan.
Keselamatan seorang muslim tidak hanya berkaitan dengan ibadah yang tampak, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan orang lain. Jangan sampai seseorang rajin beribadah, tetapi lisannya menyakiti dan perilakunya membuat orang lain merasa tidak nyaman.
2. Mengendalikan emosi merupakan tanda kematangan pribadi.
Tidak setiap perkataan harus dibalas. Tidak setiap perbedaan harus diperdebatkan. Belajarlah untuk tenang ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.
3. Kelembutan tidak menghilangkan ketegasan dalam prinsip agama.
Kita harus mampu membedakan antara kelembutan dalam berinteraksi dan sikap mengalah dalam perkara kebenaran. Seorang muslim tetap berpegang teguh pada prinsip agama, tetapi tidak menjadikan kekasaran sebagai cara menyampaikannya.
4. Jangan membangun jarak dengan orang lain karena kesombongan.
Kedudukan, jabatan, kekayaan, maupun ilmu tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semestinya semakin baik pula akhlaknya dalam bergaul.
5. Mudahkan urusan orang lain selama tidak melanggar syariat.
Jangan gemar mempersulit sesuatu yang sebenarnya bisa dipermudah. Dalam kehidupan bermasyarakat, keluarga, maupun organisasi, biasakan mencari jalan keluar daripada memperpanjang persoalan.
6. Nasihat yang baik membutuhkan kelembutan.
Ketika melihat kesalahan, jangan terburu-buru menghakimi. Perhatikan cara menyampaikan nasihat agar orang yang dinasihati dapat menerima dan mengambil manfaat darinya.
Allah Ta’ala berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
7. Akhlak yang baik harus dimulai dari lingkungan terdekat.
Jangan hanya bersikap ramah kepada orang yang baru dikenal, tetapi justru kasar kepada keluarga, teman dekat, atau orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan kita. Keluarga dan lingkungan terdekat merupakan tempat pertama untuk membuktikan kualitas akhlak seseorang.
8. Bagi penuntut ilmu, ilmu harus tercermin dalam akhlak.
Seorang muslim yang sedang menuntut ilmu agama hendaknya tidak hanya bersemangat menambah hafalan dan pengetahuan, tetapi juga memperbaiki sikap dan akhlaknya. Jangan sampai bertambahnya ilmu justru membuat seseorang mudah merendahkan orang lain, merasa lebih baik daripada sesamanya, atau sulit menerima nasihat.
Ilmu semestinya membimbing seseorang menjadi pribadi yang semakin tawadhu, lembut, dan baik dalam bermuamalah dengan orang lain.
Penutup
Empat sifat yang disebutkan Rasulullah ﷺ dalam hadits ini memberikan pelajaran bahwa seorang muslim hendaknya menjadi pribadi yang menenangkan, bukan meresahkan; mendekatkan, bukan menjauhkan; memudahkan, bukan mempersulit.
Akhlak mulia tidak cukup hanya dipahami dan dibicarakan, tetapi perlu diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Ketenangan, kelembutan, kedekatan dengan sesama, dan kemudahan dalam bermuamalah hendaknya menjadi bagian dari kepribadian seorang muslim.
Mari kita mulai memperbaiki diri. Lebih tenang dalam menghadapi persoalan, lebih lembut dalam bertutur kata, lebih mudah didekati, dan lebih lapang dalam bermuamalah. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memiliki akhlak mulia dan mendapatkan keselamatan dari api neraka. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.










