Lompat ke konten
260821 Tetap Di Atas Sunnah Kala Semangat Menguat Tatkala Langkah Melemah Feat

Tetap di Atas Sunnah: Kala Semangat Menguat, Ketika Langkah Melemah

Tetap Di Atas Sunnah Kala Semangat Menguat Tatkala Langkah Melemah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

“Setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap semangat memiliki masa futur (lemah/kendur). Barang siapa masa futurnya tetap berada di atas sunnahku, maka sungguh ia telah beruntung. Dan barang siapa masa futurnya menuju selain itu, maka sungguh ia telah binasa.”

Takhrij dan derajat: HR. Ahmad dalam Musnad no. 6958. Syaikh Syu’aib al-Arnauth menilai sanadnya shahih ‘ala syarth al-syaikhain, yaitu shahih di atas syarat al-Bukhari dan Muslim. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan ath-Thabrani dengan beberapa perbedaan lafaz.

Mufradat (Kosakata)

  • Syirrah (شِرَّة) — berarti semangat, kegairahan, atau dorongan yang kuat dalam melakukan sesuatu.
  • Fatrah (فَتْرَة) — berasal dari akar kata ف ت ر (fa-ta-ra), yang bermakna melemah, kendur, atau berkurang kekuatannya. Fatrah berarti keadaan ketika semangat atau kekuatan mengalami penurunan.
  • Sunnatī (سُنَّتِي) — berarti sunnahku, yaitu jalan, tuntunan, dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.
  • Aflaha (أَفْلَحَ) — berasal dari akar kata ف ل ح (fa-la-ha), yang berkaitan dengan keberuntungan, keberhasilan, dan kemenangan. Aflaha berarti beruntung, berhasil, atau memperoleh kemenangan.
  • Halaka (هَلَكَ) — berasal dari akar kata ه ل ك (ha-la-ka), yang bermakna binasa, celaka, hancur, atau mengalami kerugian.

Syarah (Penjelasan)

Dalam perjalanan beribadah, semangat kita tidak selalu sama. Ada masa ketika hati terasa ringan untuk beramal. Bangun malam terasa mudah, membaca Al-Qur’an terasa menyenangkan, menghadiri kajian terasa bersemangat, dan berbagai amal kebaikan ingin dilakukan.

Namun ada juga masa ketika semangat itu menurun. Bangun malam terasa berat, membaca Al-Qur’an mulai berkurang, menghadiri kajian terasa malas, dan amal-amal yang sebelumnya mudah dilakukan menjadi terasa berat.

Rasulullah ﷺ menggambarkan keadaan ini dengan sabdanya:

لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ

“Setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap semangat memiliki masa futur (lemah/kendur).”

Syirrah adalah masa ketika seseorang sedang memiliki semangat yang kuat dalam beramal. Sedangkan fatrah adalah masa ketika semangat tersebut melemah.

Naik turunnya semangat seperti ini merupakan bagian dari perjalanan manusia. Karena itu, ketika suatu saat semangat kita tidak lagi seperti sebelumnya, jangan langsung merasa bahwa diri kita telah gagal. Yang lebih penting adalah melihat ke mana kita berjalan ketika semangat itu sedang melemah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ

“Barang siapa masa futurnya tetap berada di atas sunnahku, maka sungguh ia telah beruntung.”

Inilah yang perlu kita jaga: bukan hanya semangat dalam beramal, tetapi juga arah perjalanan kita. Bahkan setiap hari, dalam setiap rakaat shalat, kita memohon kepada Allah Ta’ala:

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Doa ini menunjukkan bahwa seorang muslim selalu membutuhkan petunjuk Allah Ta’ala agar tetap berada di jalan yang benar. Ketika semangat sedang tinggi, kita membutuhkan petunjuk agar semangat tersebut digunakan sesuai sunnah. Ketika semangat melemah, kita juga membutuhkan petunjuk agar kelemahan itu tidak membawa kita keluar dari jalan ketaatan.

Ketika sedang bersemangat, jangan sampai kita berlebihan dan melakukan sesuatu yang tidak dituntunkan. Sebaliknya, ketika semangat sedang menurun, jangan sampai kita meninggalkan kewajiban atau mulai menjauh dari ketaatan.

Mungkin jumlah amal kita berkurang. Mungkin ibadah sunnah yang sebelumnya banyak dilakukan sekarang hanya mampu dilakukan sebagian. Namun selama kewajiban tetap dijaga, yang haram tetap ditinggalkan, dan kita masih berusaha melakukan kebaikan sesuai kemampuan, jangan biarkan melemahnya semangat membawa kita keluar dari jalan ketaatan.

Yang berubah boleh jadi kadar amal kita, tetapi jangan sampai arah perjalanan kita berubah.

Karena itu, futur tidak selalu berarti kebinasaan. Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika melemahnya semangat membuat kita semakin jauh dari Allah Ta’ala: mulai meninggalkan kewajiban, meremehkan dosa, atau mengikuti jalan yang menyelisihi syariat.

Jika kelemahan semangat sampai membuat kita terjatuh dalam dosa, jangan biarkan keadaan itu berlarut-larut. Segeralah kembali kepada Allah Ta’ala dan bertaubat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak menunda taubat ketika terjatuh dalam kesalahan. Jangan biarkan satu kesalahan membuat kita semakin jauh. Ketika menyadari kesalahan, segeralah kembali kepada Allah Ta’ala dan bertaubat.

Faedah Hadits

1. Semangat dalam beramal adalah nikmat yang perlu diarahkan dengan sunnah.

Ketika sedang bersemangat, jangan sampai kita berlebihan atau melakukan sesuatu yang tidak dituntunkan.

2. Futur bukan berarti kita telah gagal.

Setiap orang bisa mengalami masa kuat dan masa lemah. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga diri ketika semangat sedang menurun.

3. Tetaplah berada di jalan yang lurus.

Setiap hari kita memohon kepada Allah Ta’ala, “Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm” — “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Kita membutuhkan petunjuk Allah Ta’ala bukan hanya ketika sedang bersemangat, tetapi juga ketika sedang lemah, agar langkah kita tetap berada di atas ketaatan dan sunnah.

4. Ketika futur, kewajiban tetap harus dijaga.

Jika kemampuan melakukan amal sunnah sedang berkurang, jangan sampai kewajiban ikut ditinggalkan. Shalat tetap dijaga, yang haram tetap ditinggalkan, dan kebaikan tetap diusahakan sesuai kemampuan.

5. Istiqamah dalam ketaatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 783)

Karena itu, jangan meremehkan amal kecil yang terus kita jaga. Membaca Al-Qur’an beberapa ayat setiap hari, bersedekah rutin meskipun sedikit, atau menjaga dzikir setelah shalat bisa menjadi kebiasaan yang besar nilainya ketika dilakukan dengan istiqamah.

6. Jika futur membawa kepada maksiat, segera kembali kepada Allah Ta’ala.

Jangan menunggu sampai keadaan semakin jauh. Ketika terjatuh dalam dosa, segera bertaubat, memperbaiki diri, dan kembali melangkah di jalan ketaatan.

Penutup

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa istiqamah bukan berarti selalu berada dalam keadaan semangat yang tinggi. Istiqamah adalah tetap berada di jalan yang benar dalam berbagai keadaan.

Ketika semangat sedang tinggi, kita beramal dengan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Ketika semangat sedang melemah, kita tetap menjaga kewajiban dan tidak meninggalkan jalan sunnah.

Semoga ketika Allah Ta’ala memberikan kita semangat, kita gunakan kesempatan itu untuk memperbanyak kebaikan. Dan ketika semangat itu melemah, semoga Allah Ta’ala menjaga kita agar tetap berada di atas sunnah, segera bertaubat ketika terjatuh dalam kesalahan, dan terus melangkah dalam ketaatan meskipun perlahan. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *