Lompat ke konten
Makna Kemerdekaan Sejati Agar Penjajah Tidak Berganti Wajah Ust Yunus Supanto

Makna Kemerdekaan Sejati: Agar Penjajah Tidak Berganti Wajah

Menyongsong Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Setiap 17 Agustus kita menyuarakan pekik: “Merdeka, merdeka, merdeka!” Namun dahulu, di tengah perjuangan mengusir penjajah, ada pekik lain yang juga menggema: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!”

Dua kalimat ini sesungguhnya menyimpan pesan yang sangat dalam.

“Merdeka!” adalah tekad untuk terbebas dari penjajahan. Sedangkan “Allahu Akbar!” mengingatkan bahwa di atas semua kekuatan manusia, ada Allah Ta’ala Yang Maha Besar. Bahwa kemerdekaan bukan sekadar bebas mengatur negeri dengan kehendak sendiri, tetapi juga amanah yang harus dijalankan di bawah petunjuk-Nya.

Sebab sebuah bangsa bisa saja merdeka dari penjajah asing, tetapi belum tentu merdeka dari penjajahan hawa nafsu.

Penjajah itu bisa berganti wajah. Dulu datang dari negeri seberang. Hari ini bisa lahir dari tubuh bangsa sendiri: korupsi, keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, kolusi, dan kezaliman kepada rakyat.

Maka jangan sampai kita berhasil mengusir penjajah asing, tetapi justru melahirkan penjajah pribumi dengan watak kolonialisme penjajah asing (Londo Ireng). Negeri merdeka, tetapi rakyat tetap tertindas. Bendera berkibar, tetapi keadilan diinjak. Kekuasaan berada di tangan anak bangsa sendiri, tetapi wataknya tidak jauh berbeda dengan penjajah yang dahulu kita lawan.

Di sinilah kita perlu kembali memahami: apa hakikat kemerdekaan menurut Islam?

Hakikat Kemerdekaan Sejati Dalam Islam

Islam tidak memandang kemerdekaan sekadar sebagai kebebasan dari kekuasaan bangsa lain. Kemerdekaan yang paling hakiki adalah ketika manusia hanya tunduk dan menghamba kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونَ

Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya’budūn.

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Manusia diciptakan untuk beribadah. Maka kemerdekaan yang paling tinggi bukanlah bebas melakukan apa saja yang kita inginkan, tetapi terbebas dari penghambaan kepada selain Allah Ta’ala.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,

الْحُرِّيَّةُ الْحَقِيقِيَّةُ هِيَ عُبُودِيَّةُ اللهِ وَحْدَهُ

Al-hurriyyatul-haqiqiyyatu hiya ‘ubudiyyatullāhi wahdah.

“Kemerdekaan yang sejati adalah menjadi hamba Allah semata.” (Al-Jawabul Kafi, hlm. 94).

Tampaknya kalimat ini seperti bertentangan dengan pengertian kemerdekaan yang selama ini kita pahami. Namun justru di situlah letak hakikatnya.

Sebab manusia pada dasarnya tidak pernah benar-benar bebas. Jika ia tidak menjadi hamba Allah Ta’ala, ia akan menjadi hamba yang lain.

Ada yang diperbudak oleh harta. Ada yang tunduk kepada jabatan dan kekuasaan. Ada yang hidup demi pujian dan popularitas. Ada pula yang menjadikan hawa nafsu sebagai penguasa tertinggi dalam hidupnya.

Ia merasa bebas, padahal sebenarnya sedang diperbudak.

Karena itu, tauhid adalah pembebasan yang paling besar. Ketika seorang manusia hanya takut kepada Allah Ta’ala, ia tidak akan mudah tunduk kepada manusia. Ketika ia hanya berharap kepada Allah Ta’ala, ia tidak akan menjual prinsip demi kepentingan dunia. Dan ketika ia sadar bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah Ta’ala, ia akan berpikir seribu kali sebelum menzalimi orang lain.

Inilah kemerdekaan yang harus menjadi ruh bagi sebuah bangsa.

Ketika “Merdeka” Tanpa “Allahu Akbar”

Persoalannya bukan hanya bagaimana sebuah bangsa mendapatkan kemerdekaan, tetapi bagaimana kemerdekaan itu dijaga. Sebab setelah penjajah pergi, masih ada satu musuh yang tidak otomatis ikut pergi: hawa nafsu manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

Afa ra’aita manittakhadza ilāhahu hawāh.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23).

Ketika hawa nafsu menjadi penentu kebenaran, manusia akan membenarkan apa pun yang menguntungkan dirinya. Yang salah bisa dibuat seolah-olah benar. Yang zalim bisa dibela. Amanah bisa dikhianati demi kepentingan.

Jika penyakit ini masuk ke dalam kekuasaan, lahirlah kezaliman.

Dan ketika kezaliman dilakukan oleh anak bangsa sendiri terhadap rakyatnya sendiri, di situlah kita perlu waspada terhadap lahirnya penjajah pribumi.

Mungkin tidak ada lagi kapal penjajah yang datang dari negeri seberang. Tidak ada lagi tentara asing yang menguasai tanah air. Tetapi jika rakyat terus diperas, hukum dapat dibeli, jabatan diperdagangkan, dan kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi, bukankah itu juga bentuk penjajahan?

Rasulullah ﷺ bersabda,

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Ittaqūzh-zhulma fa innazh-zhulma zhulumātun yaumal-qiyāmah.

“Takutlah kalian kepada kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 2578).

Kezaliman tetaplah kezaliman, siapa pun pelakunya. Ia tidak menjadi benar hanya karena dilakukan oleh orang sebangsa, seagama, atau sesama anak negeri.

Di sinilah makna “Allahu Akbar” menjadi sangat penting.

“Allahu Akbar” sebagai Pengawal Kemerdekaan

“Allahu Akbar” berarti Allah Maha Besar.

Ketika kalimat ini benar-benar hidup di dalam hati, manusia akan sadar bahwa sebesar apa pun kekuasaannya, ia tetap kecil di hadapan Allah Ta’ala.

Seorang pemimpin boleh memiliki jabatan tinggi, tetapi ia tetap hamba. Seorang pejabat boleh memiliki kewenangan besar, tetapi ia tetap akan dihisab. Seorang yang kaya boleh memiliki harta yang berlimpah, tetapi semua itu pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan.

Rasulullah ﷺ bertakbir ketika penaklukan Khaibar:

اللهُ أَكْبَرُ خَرِبَتْ خَيْبَرُ

Allāhu akbaru kharibat Khaibar.

“Allahu Akbar, telah binasa Khaibar.” (HR. Al-Bukhari no. 2945).

Takbir mengajarkan bahwa kemenangan bukanlah alasan untuk menyombongkan kekuatan manusia. Semua kemenangan pada hakikatnya berada di bawah kehendak Allah Ta’ala.

Karena itu, bagi bangsa yang telah merdeka, “Allahu Akbar” seharusnya menjadi pengawal agar kemerdekaan tidak kehilangan arah.

Fungsi “Allahu Akbar” bagi bangsa yang merdeka:

  • Kontrol: Mengingatkan bahwa Allah Ta’ala Maha Melihat, sehingga kekuasaan tidak digunakan untuk berbuat zalim.
  • Tauhid Tujuan: Mengingatkan bahwa perjuangan dan pembangunan negeri bukan semata-mata untuk mengejar dunia, tetapi juga untuk mencari ridha Allah Ta’ala.
  • Keadilan: Karena Allah Ta’ala Maha Adil, maka hukum, kebijakan, dan kekuasaan harus ditegakkan dengan keadilan.

Ketika keyakinan ini hidup, seorang pemimpin tidak akan melihat jabatan sebagai kesempatan untuk berkuasa sesuka hati. Ia akan melihatnya sebagai amanah.

Ia tidak bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari negeri ini?” tetapi, “Apa yang akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala?”

Di situlah “Allahu Akbar” bukan sekadar pekik perjuangan, tetapi menjadi rem bagi kesombongan dan pengaman bagi kekuasaan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ هُوَ ذِرْوَةُ سَنَامِ الْإِسْلَامِ

Al-jihādu fī sabīlillāhi huwa dzirwatu sanāmil-islām.

“Jihad di jalan Allah adalah puncak tertinggi Islam.” (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 28, hlm. 7).

Perjuangan tidak berhenti setelah penjajah asing pergi. Ada perjuangan lain yang tidak kalah berat: menjaga agama, menjaga amanah, menegakkan keadilan, dan melawan kezaliman yang bisa tumbuh dari dalam diri bangsa sendiri.

Musuh dari luar lebih mudah dikenali. Tetapi musuh yang bersemayam dalam hati—keserakahan, ambisi, dan cinta dunia—sering kali justru lebih sulit ditaklukkan.

Merdeka, Mencintai Tanah Air, dan Tetap Mengagungkan Allah Ta’ala

Para ulama memahami bahwa membela negeri dan menjaga kemaslahatan umat tidak bertentangan dengan tauhid.

Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari rahimahullah pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu bukti bahwa perjuangan mempertahankan negeri juga dapat dibangkitkan dengan kekuatan iman. Takbir “Allahu Akbar!” menggema bersama semangat untuk mempertahankan kemerdekaan. Kini, 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri.

Rasulullah ﷺ sendiri menunjukkan kecintaan kepada tanah kelahirannya. Ketika meninggalkan Makkah, beliau bersabda,

وَاللهِ إِنَّكِ لَأَحَبُّ أَرْضِ اللهِ إِلَيَّ

Wallāhi innaki la-aḥabbu arḍillāhi ilayya.

“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah negeri Allah yang paling aku cintai.” (HR. At-Tirmidzi no. 3925).

Mencintai tanah air adalah sesuatu yang wajar. Namun cinta itu harus tetap berada di bawah tauhid. Kita mencintai negeri bukan untuk membenarkan segala sesuatu yang dilakukan atas nama negeri, tetapi agar negeri ini menjadi tempat yang aman, adil, dan baik bagi manusia untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Karena itu, “Merdeka!” dan “Allahu Akbar!” bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru harus berjalan bersama.

Merdeka adalah jasadnya. Allahu Akbar adalah ruhnya.

Kemerdekaan tanpa iman hanya akan menjadi kebebasan tanpa arah. Dan kebebasan tanpa arah sangat mudah dibajak oleh hawa nafsu.

Sebaliknya, kemerdekaan yang dijaga dengan tauhid akan melahirkan rasa tanggung jawab. Kekuasaan dipandang sebagai amanah. Kekayaan dipandang sebagai titipan. Dan kehidupan di dunia dipandang sebagai jalan menuju akhirat.

Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata,

الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ

Ad-dunyā mazra’atul-ākhirah.

“Dunia adalah ladang akhirat.” (Ihya’ ‘Ulumiddin, jilid 4).

Maka mengisi kemerdekaan pun semestinya menjadi bagian dari bekal menuju akhirat.

Bukan hanya membangun negeri agar maju, tetapi juga agar adil. Bukan hanya menciptakan kesejahteraan, tetapi juga menjaga amanah. Bukan hanya menjadi bangsa yang kuat, tetapi juga menjadi bangsa yang takut kepada Allah Ta’ala.

Penutup

Setiap kali kita meneriakkan “Merdeka!”, jangan lupa bahwa ada pekik lain yang dahulu mengiringi perjuangan itu: “Allahu Akbar!”

Sebab kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajah asing. Kita juga harus berusaha membebaskan diri dari penjajahan hawa nafsu, keserakahan, dan kezaliman.

Jangan sampai penjajah asing telah pergi, tetapi penjajah pribumi justru tumbuh. Jangan sampai negeri telah merdeka, tetapi rakyat belum merasakan keadilan. Jangan sampai kita memiliki kebebasan, tetapi kehilangan arah.

Maka, dalam menyongsong kemerdekaan, mari kita jaga tiga hal:

  • Membela dan menjaga tanah air sebagai amanah yang harus dipelihara.
  • Menegakkan keadilan dan menolak segala bentuk kezaliman.
  • Memperkuat tauhid dan takwa, agar kemerdekaan tidak berubah menjadi jalan bagi lahirnya penjajah pribumi.

Semoga Allah Ta’ala menjaga negeri ini, memperbaiki para pemimpinnya, menumbuhkan ketakwaan di tengah rakyatnya, dan menjadikan kemerdekaan yang kita nikmati sebagai nikmat yang membawa keberkahan.

Sebab kemerdekaan yang paling kita butuhkan bukan hanya kemerdekaan dari penjajahan manusia, tetapi juga kemerdekaan dari segala sesuatu yang menjauhkan kita dari penghambaan kepada Allah Ta’ala.

Aktif didunia dakwah di perserikatan Muhammadiyah, ketakmiran Masjid Jamik Abdurrahman Assanad, Yayasan Al Qoyyim dan IRMAS Sukoharjo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *