Bagaimana mungkin seseorang bisa merasa selamat dari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu bahwa itu perbuatan jahil?
Inilah yang pernah direnungkan oleh seorang sahabat mulia, Hudzaifah bin Yaman radhiallahu’anhu — beliau dikenal dengan julukan istimewa: pemegang rahasia Rasulullah ﷺ. Di saat kebanyakan sahabat berlomba bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kebaikan, Hudzaifah radhiallahu’anhu justru memilih bertanya tentang keburukan.
Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab dengan cerdas:
“Aku takut jika keburukan itu terjadi sementara aku tidak tahu kalau ia adalah keburukan, kemudian aku melakukan keburukan tersebut.” (HR. Bukhari)
Hudzaifah radhiallahu’anhu menanyakan kepada Rasulullah ﷺ perihal keburukan bukan untuk dikerjakan, akan tetapi agar ia bisa terhindar dan selamat darinya.
Maka hendaknya kita pun mengetahui keburukan apa saja yang Allah Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an. Setidaknya ada 4 wajah keburukan yang Allah Ta’ala sebutkan dengan kata “jahiliyah” — kebodohan — karena sesungguhnya setiap keburukan lahir dari kebodohan pelakunya.
Pertama: Hukmul Jahiliyah
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 50:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (QS. Al-Maidah: 50)
Imam As-Sa’di rahimahullah menjelaskan: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?” maksudnya, apakah dengan berpaling dan menjauhnya mereka darimu karena mereka mencari hukum jahiliyah?
Hukum Jahiliyah itu adalah semua hukum yang bertentangan dengan apa yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya ﷺ. Karena pilihan yang ada hanya dua: hukum Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ, atau hukum jahiliyah.
Siapa yang berpaling dari yang pertama (hukum Allah Ta’ala), maka dia akan ditimpa yang kedua — yang berpijak kepada kebodohan, kezaliman, dan kesewenang-wenangan. Itulah mengapa Allah Ta’ala menyebutnya jahiliyah. Adapun hukum Allah Ta’ala, maka ia berpijak kepada ilmu, keadilan, cahaya, dan petunjuk.
“Siapa yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” Orang yang yakin adalah orang yang mengetahui perbedaan antara dua hukum itu, lalu membedakannya dengan keyakinan bahwa hukum Allah Ta’ala secara akal dan syariat wajib untuk diikuti. Keyakinan adalah ilmu yang sempurna yang mendorong kepada amal perbuatan.
Maka tidak heran jika hari ini di sebagian besar negara di dunia terjadi kezaliman dan kesewenang-wenangan dalam pemerintahan — tidak lain karena hukum yang dipakai adalah hukum jahiliyah.
Sebagaimana para ulama tafsir menyimpulkan, hukum jahiliyah adalah setiap aturan/undang-undang yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, bahkan bertentangan dengannya.
Kedua: Tabarruj Jahiliyah
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 33:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Makna jahiliyah terdahulu adalah jahiliyah di masa kekafiran sebelum datangnya Islam. Adapun jahiliyah sekarang adalah jahiliyah berupa kemaksiatan yang tetap terjadi setelah Islam datang.
Pengertian Tabarruj
Tabarruj berasal dari kata Arab “baraja” yang berarti nampak dan menonjol. Dalam syariat Islam, tabarruj adalah tindakan seorang wanita yang memperlihatkan perhiasan dan kecantikannya — yang seharusnya ditutupi — kepada laki-laki yang bukan mahramnya.
Beberapa ulama menjelaskannya sebagai berikut:
- Ibnu Katsir rahimahullah: wanita yang keluar rumah dengan berjalan di hadapan laki-laki dalam keadaan berlenggak-lenggok, bermake-up, serta mempertontonkan kecantikan wajah dan tubuhnya.
- Imam Al-Qurthubi rahimahullah: memperlihatkan sesuatu yang seharusnya disembunyikan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah: menampakkan perhiasan dan kecantikan yang wajib ditutupi.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa tabarruj adalah perilaku wanita yang dengan sengaja memperlihatkan atau menonjolkan bagian tubuh, perhiasan, atau kecantikannya kepada laki-laki yang bukan mahramnya — baik melalui cara berpakaian, berhias, berbicara, maupun bertingkah laku yang dapat mengundang perhatian lawan jenis.
Dalil Larangan Tabarruj
Allah Ta’ala juga berfirman dalam QS. An-Nur ayat 31:
“…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya…”
Dan Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim:
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan itu. (2) Wanita-wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)
Bentuk-Bentuk Tabarruj
Tabarruj dapat terwujud dalam berbagai bentuk, di antaranya:
- Berpakaian tipis atau ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh — meskipun secara teknis “sudah menutup aurat.”
- Menggunakan wewangian menyengat ketika keluar rumah.
- Berhias berlebihan dengan make-up mencolok di luar rumah.
- Berlenggak-lenggok atau berjalan dengan gaya yang menarik perhatian.
- Berbicara dengan nada menggoda kepada lawan jenis.
- Memperlihatkan perhiasan yang seharusnya tersembunyi.
- Mengenakan pakaian yang menyerupai laki-laki.
- Membuka aurat di hadapan yang bukan mahram.
- Mengenakan hijab tapi masih memperlihatkan bagian dada atau rambut.
- Berperilaku yang mengundang syahwat lawan jenis.
Para ulama sepakat bahwa tabarruj hukumnya haram dalam Islam, berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits yang telah disebutkan.
Batasan Berhias (Tazayyin) yang Diperbolehkan
Meski Islam melarang tabarruj, bukan berarti wanita muslimah dilarang total untuk berhias. Ada batasan-batasan yang diperbolehkan, di antaranya:
- Berhias untuk suami secantik mungkin di dalam rumah — bahkan bisa menjadi kewajiban agar suami tidak tergoda kepada selainnya ketika di luar rumah.
- Menggunakan perhiasan yang tidak berlebihan dan tidak dimaksudkan untuk pamer.
- Memakai pakaian indah yang tetap menutup aurat dengan sempurna.
- Merawat kebersihan dan kerapian diri sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah Ta’ala.
- Menggunakan wewangian secukupnya di lingkungan sesama wanita dan di rumah.
- Memakai make-up natural untuk keperluan tertentu seperti acara pernikahan.
- Merawat kesehatan kulit dan rambut tanpa bermaksud memamerkan.
- Berhias sewajarnya saat berkumpul bersama keluarga dan mahram.
Yang terpenting adalah niat yang benar dan tidak melanggar batasan syariat. Seorang muslimah berhias untuk menjaga kebersihan, kesehatan, dan kerapian diri — bukan untuk menarik perhatian lawan jenis atau bersaing dalam penampilan.
Maka jelaslah perbedaan antara tabarruj (bersolek untuk ditampakkan kepada yang bukan mahram) dengan tazayyin (berhias dalam batas yang diperbolehkan syariat).
Ketiga: Himyatul Jahiliyah
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Fath ayat 26:
إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka fanatisme (hamiyyah) jahiliyah.” (QS. Al-Fath: 26)
Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, ketika orang-orang kafir Quraisy mempertahankan fanatisme jahiliyah dalam hati mereka karena tidak ingin mengakui risalah Muhammad ﷺ. Di antara buktinya adalah penolakan mereka untuk menulis “Bismillahirrahmanirrahim” dan penolakan mereka atas kalimat “Ini adalah perjanjian Muhammad Rasulullah” dalam naskah perjanjian. (Tafsir Al-Muyassar)
Maka fanatisme jahiliyah inilah yang harus kita hindari. Suatu ketika, para sahabat Anshar dan Muhajirin radhiallahu’anhum terlibat pertikaian — masing-masing pihak memanggil kelompoknya sendiri, hingga hampir terjadi bentrokan antara dua kelompok terbaik umat ini. Ketika itu Rasulullah ﷺ keluar dan bersabda:
“Tinggalkanlah hal seperti ini karena ini termasuk perkara jahiliyah. Karena kalian telah disatukan dengan satu nama yaitu Islam.” (HR. Bukhari)
Maka di zaman modern ini, ketika begitu banyak kelompok, jamaah, dan organisasi yang semuanya berafiliasi kepada Islam, hendaknya kita tidak saling menyalahkan satu dengan lainnya. Hendaknya kita berlapang dada bahwa mereka semua — dari organisasi manapun — adalah saudara kita seiman. Kita bergerak sesuai kebijakan organisasi masing-masing, tanpa terjebak pada fanatisme golongan.
Sebagaimana Syaikh Abu Basyir rahimahullah mengingatkan dalam kitabnya Thoifah Manshurah, bahwa banyak umat Islam hari ini yang tanpa sadar terjebak pada fanatisme golongan — yang sejatinya itu pun termasuk fanatisme jahiliyah modern. Mudah-mudahan kita semua, dari manapun organisasi kita, tetap bisa berjalan bersama demi menegakkan Islam sesuai bidang masing-masing, tanpa saling menjatuhkan. Aamiin.
Keempat: Dzannul Jahiliyah
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 154:
قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ
“Sebagian kelompok telah dikuasai oleh kepentingan diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar kepada Allah Ta’ala — itulah sangkaan yang jahiliyah (bodoh).” (QS. Ali Imran: 154)
Di antara bentuk prasangka jahiliyah yang disebutkan para mufassirin adalah:
- Menyangka bahwa perintah Rasulullah ﷺ salah, dan bahwa beliau ﷺ tidak akan ditolong serta seruan yang beliau ﷺ bawa tidak akan sempurna.
- Keraguan orang-orang yang imannya belum kuat — ada pula yang menyebut mereka ini sebagai orang-orang munafik.
- Sangkaan bahwa seandainya Muhammad ﷺ benar-benar Nabi dan Rasul Allah Ta’ala, tentu beliau ﷺ tidak akan dikalahkan dalam peperangan — atau sangkaan bahwa Allah Ta’ala tidak menyempurnakan agama-Nya.
- Dan yang paling relevan hari ini: sangkaan bahwa Islam tidak akan bangkit kembali.
Itulah beberapa bentuk sangkaan jahiliyah menurut para mufassirin.
Mudah-mudahan kita semua dihindarkan oleh Allah Ta’ala dari keburukan-keburukan yang Ia sebutkan dalam Kitab-Nya dan Rasulullah ﷺ jelaskan dalam Sunnahnya — sehingga kita benar-benar selamat, dan kelak dimasukkan ke dalam surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.




