Lompat ke konten
403 Forbidden

403

Forbidden

Access to this resource on the server is denied!


Proudly powered by LiteSpeed Web Server

Please be advised that LiteSpeed Technologies Inc. is not a web hosting company and, as such, has no control over content found on this site.

Agar Puasa Ramadhan Mendapat Pahala Berlipat Ust Husein

Agar Puasa Ramadhan Mendapat Pahala Berlipat

Tidak terasa, kita telah berada di pertengahan bulan Sya’ban. InsyaAllah, Ramadhan akan segera menyapa. Bulan yang penuh keberkahan, bulan di mana umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

Puasa di bulan Ramadan sejatinya adalah momentum besar untuk meraih pahala yang sangat banyak, bahkan tidak terbatas. Sebab, pahala puasa tidak ditakar seperti amalan lainnya. Allah Ta’ala sendiri yang menyiapkan balasannya kelak pada hari kiamat.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika amalan lain dilipatgandakan pahalanya antara sepuluh hingga tujuh ratus kali, maka pahala puasa bisa jauh lebih besar dari itu, sesuai dengan kehendak Allah.

Namun, besarnya pahala puasa Ramadhan tidak otomatis diraih oleh setiap orang yang berpuasa. Rasulullah ﷺ justru mengingatkan agar puasa yang kita jalani tidak berhenti sebatas rutinitas menahan lapar dan dahaga semata.

رُبَّ صَائِمٕ لاَ يَجِدُ مِنْ صِياَمِهِ إِلاَّ الجُوْعَ وَ الْعَطَسَ

“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”

Lalu, bagaimana agar pahala puasa Ramadhan kita terjaga, bahkan mendatangkan pahala yang berlipat?

Para ulama menjelaskan bahwa seluruh amal ibadah bermula dari satu fondasi utama, yaitu ibadah yang dikerjakan di atas ilmu. Dengan ilmu, melaksanakan puasa di bulan Ramadhan bukan sekedar melakukan kewajiban, tetapi juga menjadi wasilah meraih pahala besar, ampunan Allah Ta’ala dan mengantarkan seorang hamba kepada derajat taqwa.

Ibadah dengan Ilmu: Memahami Hukum Puasa Ramadhan

Sebelum berbicara tentang pahala yang berlipat, sangatlah penting untuk mengetahui hukum dan kaifiyah puasa Ramadhan. Sebab, ibadah tidak akan bernilai jika tidak dikerjakan sesuai dengan tuntunan syariat.

Siapa yang Wajib Berpuasa?

Puasa Ramadhan diwajibkan atas setiap muslim yang memenuhi syarat berikut:

  • Beragama Islam
  • Baligh
  • Berakal
  • Mampu berpuasa
  • Tidak sedang berada dalam kondisi yang menghalangi puasa (udzur syar’i)

Adapun mereka yang berada dalam kondisi terhalangi dari puasa, seperti wanita haid dan nifas, orang yang sakit, musafir, lanjut usia renta, atau memiliki uzur lain yang diakui syariat, maka Allah Ta’ala memberikan keringanan sesuai ketentuan-Nya, baik dengan qadha maupun fidyah.

Rukun Puasa

Rukun puasa ada dua, dan keduanya harus terpenuhi agar puasa sah:

  1. Niat di malam hari
    Yaitu berniat dalam hati untuk berpuasa sebelum terbit fajar. Niat tempatnya di hati dan tidak disyaratkan untuk dilafalkan. Untuk puasa wajib seperti Ramadhan, niat dilakukan setiap malam.
  2. Menahan diri (imsak) dari perkara yang membatalkan puasa
    Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan kesadaran dan pilihan sendiri.

Perkara yang Membatalkan Puasa

Di antara perkara yang dapat membatalkan puasa adalah:

  • Makan dan minum dengan sengaja
  • Muntah dengan sengaja
  • Haid dan nifas
  • Berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan
  • Keluar mani dengan sengaja
  • Hilang akal sepanjang hari (gila atau pingsan)
  • Murtad (keluar dari Islam)

Mengetahui hal-hal ini sangat penting agar puasa tidak rusak tanpa disadari.

Dengan memahami hukum puasa Ramadhan, kita menjaga keabsahan ibadah. Setelah itu, barulah puasa dihiasi dengan niat yang lurus dan amalan-amalan terbaik agar pahalanya sempurna.

Agar Pahala Terjaga dan Berlipat

1. Menjaga dan Meluruskan Niat: Ikhlas Puasa Karena Allah

Setelah memahami hukumnya, hal pertama yang harus diperhatikan adalah untuk terus menjaga dan meluruskan niat, yaitu berpuasa semata-mata karena iman dan mengharap pahala dari Allah SWT.

Menjaga dan meluruskan niat ini akan membantu kita menghindari perbuatan yang membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Dengan terus mengingatkan diri, kita tidak menjadi hamba yang merugi karena menyia-nyiakan Ramadhan dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Menjaga Lisan, Bukan Sekadar Menahan Lapar

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَا يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh darinya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi puasa yang sesungguhnya adalah menahan diri dari perbuatan sia-sia dan ucapan kotor (HR. Ibnu Hibban).

Karena itu, baik saat puasa maupun di luar puasa, kita dituntut untuk menjaga lisan. Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam Bidayatul Hidayah menyebutkan dosa-dosa lisan yang sering diremehkan, seperti: berbohong, ingkar janji, ghibah, berdebat tanpa faidah, membanggakan diri, berkata kasar, mencela makhluk Allah, mendoakan keburukan, bercanda berlebihan, dan mengejek orang lain.

Semua dosa lisan ini dapat menggerus pahala puasa. Rasulullah ﷺ bahkan pernah menggambarkan ghibah secara nyata, ketika dua wanita yang berpuasa diminta membuka mulut, lalu keluar dari mulut mereka daging busuk. Beliau bersabda, “Mereka tadi memakan daging saudaranya.” Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Hujurat bahwa ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri.

Maka, menjaga lisan adalah kunci penting agar puasa kita tidak sia-sia.

3. Mengisi Hari Puasa dengan Amalan Terbaik

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, para salaf shalih menjadikan Ramadhan sebagai bulan untuk memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَـٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ يَرْجُونَ تِجَـٰرَةًۭ لَّن تَبُورَ (٢٩) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ غَفُورٌۭ شَكُورٌۭ (٣٠)

“Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir [35]: 29–30)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menawarkan tiga amalan besar yang sangat menguntungkan.

a. Membaca Kitabullah, Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil. Rasulullah ﷺ juga rutin bertadarus—membaca, mempelajari, dan mentadabburi Al-Qur’an—bersama Malaikat Jibril setiap malam di bulan Ramadhan.

Ibnu Abbas radhiallahu’anhu berkata:

“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan di bulan Ramadhan ketika bertemu dengan Malaikat Jibril. Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk mudarasah (mempelajari) Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)

Karena itu, sudah sepantasnya kita memotivasi diri dengan membuat target di bulan Ramadhan: berapa kali khatam, serta surat atau juz mana yang ingin kita pahami maknanya. Dengan membaca dan mentadabburi, insyaAllah Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk hidup.

b. Mendirikan Shalat

Selain shalat wajib, Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperbanyak shalat sunnah, seperti shalat rawatib, qiyam Ramadhan (shalat tarawih), shalat dhuha dan sholat sunnah lainnya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Shalat rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib, berjumlah sepuluh atau dua belas rakaat sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Aisyah, dan Ummu Habibah. Di antaranya dua rakaat sebelum Subuh, dua (atau empat) rakaat sebelum dan dua rakaat setelah Dhuhur, dua rakaat setelah Maghrib, serta dua rakaat setelah Isya. Keutamaannya, Allah akan membangunkan rumah di surga bagi orang yang menjaganya.

c. Memperbanyak Sedekah

Ramadhan adalah bulan dimudahkannya segala kebaikan. Salah satu sedekah yang sangat dianjurkan adalah memberi makan orang yang berpuasa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا

“Barang siapa memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.”

4. Memperbanyak Doa, Karena Doa Orang Berpuasa Mustajab

Orang yang berpuasa memiliki kedudukan istimewa dalam berdoa. Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ

“Ada tiga doa yang mustajab: doa orang yang berpuasa, doa orang yang dizalimi, dan doa seorang musafir.”

Maka, jangan sia-siakan kesempatan berharga ini untuk memperbanyak doa, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Penutup

Setiap orang memiliki kesibukan dan kondisi yang berbeda. Karena itu, amalan yang dilakukan pun bisa berbeda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun, setiap amalan yang dikerjakan dengan ikhlas mengharap ridho Allah SWT dan dilakukan secara istiqamah, insyaAllah bernilai besar meskipun terlihat sedikit.

Inilah sebagian adab dan tuntunan dalam menjalani puasa Ramadhan. Jika adab-adab ini kita jaga, insyaAllah puasa kita akan semakin sempurna, penuh makna dan bernilai tinggi di sisi Allah Ta’ala. Maka, mari kita sambut Ramadhan dengan ilmu, niat yang lurus, dan berlomba-lomba dengan amal terbaik—mulai dari diri kita sendiri, ibda’ binafsik, tanpa menunggu orang lain.

Referensi

  • Salsabil fi Ma’rifati Dalil, Syaikh Shalih Ibrahim Al-Bahily
  • Kumpulan Shalat Sunnah dan Keutamaannya, Sa’id Al-Qahtani
  • Akhlakul Mukmin, Amru Khalid
  • Mukhalifat Ramadhan, Syaikh Abdul Aziz
  • Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali

Pengampu Ta’limul Kitab Ma'had Abdurrahman As-Sanad.
Alumni Mulazamah di Ma'had 'Aly Darul Wahyain, Magetan.