Lompat ke konten
Layanan dan Program UPZ Abdurrahman Assanad - Abdurrahman As-Sanad Jati Mulur Sukoharjo
Tiket Masuk Ke Gerbang Taman Cinta

Tiket Masuk ke Gerbang Taman Cinta

عَنْ أَبِي الْعَبَّاس سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللّٰهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ، فَقَالَ: ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللّٰهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ.

Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad As-Sa‘idi radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku mengerjakannya, Allah akan mencintaiku dan manusia pun mencintaiku.” Beliau ﷺ bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia mencintaimu.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Mājah dan lainnya dengan sanad hasan)

Makna Cinta (Al-Mahabbah)

Al-maḥabbah adalah kecenderungan hati yang terus-menerus dan meluap-luap. Sebagian ulama mendefinisikannya sebagai mendahulukan kepentingan yang dicintai di atas kepentingan yang lain. Ada pula yang mengatakan bahwa cinta adalah ketaatan kepada yang dicintai, baik ia berada di dekat kita maupun tidak.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa cinta itu terasa “tenang namun gelisah, dan gelisah namun tenang”. Hati akan selalu gelisah dan tidak tenteram kecuali bersama yang dicintainya. Namun ketika berada di sisinya, hati menjadi tenang dan damai. Maka mahabbah hakikatnya adalah kegelisahan hati yang terus-menerus karena memikirkan sang kekasih, dan ketenangan yang hadir saat bersanding dengannya.

Cinta yang Layak Dipersembahkan

Puncak kesempurnaan cinta adalah ketundukan, kepatuhan, dan ketaatan kepada yang dicintai. Inilah kebenaran besar yang menjadi sebab diciptakannya langit dan bumi, dunia dan akhirat. Karena itu, sudah sepantasnya cinta sejati hanya diperuntukkan bagi Dzat Yang Maha Sempurna, yaitu Allah Ta‘ala semata, serta segala sesuatu yang Dia cintai.

Cinta yang tulus akan rela berkorban demi meraih rida kekasihnya, menjauhi hal-hal yang merenggangkan hubungan dengannya, serta mencintai segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada-Nya.

Zuhud, Gerbang Utama Menuju Cinta

Zuhud adalah pintu gerbang utama untuk meraih cinta Allah ﷻ dan cinta manusia. Perintah untuk zuhud terhadap dunia dan terhadap apa yang dimiliki manusia merupakan penegasan tentang rendahnya nilai dunia, cepatnya kefanaan, dan dekatnya kehancuran semua itu. Di saat yang sama, zuhud mengarahkan hati agar lebih memperhatikan kepentingan akhirat yang abadi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata, “Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi akhirat.”

Imam Ahmad rahimahullāh menjelaskan bahwa zuhud berdiri di atas tiga perkara:

  1. Meninggalkan yang haram, dan ini adalah zuhudnya orang-orang awam.
  2. Meninggalkan sikap berlebihan dalam perkara halal, dan ini adalah zuhudnya orang-orang khusus.
  3. Meninggalkan segala kesibukan selain Allah ﷻ, dan ini adalah zuhudnya orang-orang yang memiliki ma‘rifat.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullāh berkata:
“Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Namun, zuhud adalah ketika engkau lebih yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Dan ketika musibah menimpamu, pahala dari musibah itu lebih engkau cintai daripada seandainya engkau tidak tertimpa musibah sama sekali.”

Hakikat Dunia dan Kehidupan yang Sebenarnya

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjelaskan kehinaan dunia, kefanaannya, dan bahwa dunia pasti akan lenyap. Kehidupan dunia tidak kekal, hanyalah senda gurau dan permainan. Adapun kehidupan yang benar-benar hidup, yang tidak berakhir dan tidak binasa, adalah kehidupan akhirat.

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabūt: 64)

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Ketika dunia tidak lagi menguasai hati, maka jalan menuju cinta Allah ﷻ pun terbuka lebar. Inilah tiket masuk ke “gerbang taman cinta”: hati yang ringan dari dunia, dan penuh harap kepada kehidupan yang abadi.

Seorang dai yang aktif dalam pembinaan umat dan pelayanan masjid. Beliau mengemban berbagai amanah dakwah, di antaranya di bidang Dakwah dan Ibadah Masjid Jami’ Abdurrahman Assanad, sebagai penasihat Yayasan Al Qoyyim, Ketua PRM Jati, serta anggota bidang Kaderisasi, SDM, dan KMM PCM Bendosari. Selain itu, beliau juga terlibat dalam dakwah Yayasan IRMAS dan bertugas sebagai musyrif tahfidz di MIM 01 PK Sukoharjo, sekaligus berkhidmat sebagai marbot Masjid Jami’ Abdurrahman Assanad Jati dengan membersihkan dan merawat rumah Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *