Lompat ke konten
Layanan dan Program UPZ Abdurrahman Assanad - Abdurrahman As-Sanad Jati Mulur Sukoharjo
Tawadhu Merendah Agar Menjadi Tinggi Ustadz Husein

Tawadhu’: Merendah Agar Menjadi Tinggi

Kita tentu pernah mendengar anjuran untuk bersikap tawadhu’. Ketika seseorang dipuji memiliki akhlak ini, yang terbayang sering kali adalah kelembutan, kerendahan hati, dan sikap menghargai orang lain. Namun, apakah tawadhu’ sebatas itu saja? Apakah cukup hanya terlihat sopan dan tidak sombong?

Di tengah kehidupan yang penuh tekanan sosial dan persaingan, manusia sering tergoda untuk mencari pengakuan dan penghargaan. Kita ingin dihargai, dihormati, dipandang, dan diakui lebih dari orang lain. Namun Islam menawarkan jalan yang berbeda: merendah demi ditinggikan oleh Allah ﷻ. Tawadhu’ bukan sekedar etika sosial, melainkan ibadah hati yang berkaitan langsung dengan kedudukan seorang hamba di sisi Tuhannya.

Rasulullah ﷺ menegaskan keutamaan akhlak ini:

ما تواضع أحد لله إلا رفعه الله

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah ﷻ kecuali Allah ﷻ pasti meninggikannya.” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

Subhanallah… bila kita ingin derajat kita diangkat oleh Allah ﷻ, maka hendaknya kita berusaha bersikap tawadhu’. Dalam hadits lain beliau bersabda:

من تواضع لله درجة رفعه الله درجة حتى يبلغ أعلى عليين

“Barangsiapa tawadhu’ karena Allah satu derajat, niscaya Allah akan meninggikan satu derajat untuknya sampai ia mencapai derajat paling tinggi di sisi Allah.” (HR. Ahmad)

Jika kita benar-benar menginginkan derajat tinggi di sisi Allah ﷻ, maka tawadhu’ harus menjadi sifat yang selalu kita tumbuhkan. Lalu apa sebenarnya makna tawadhu’?

Makna Tawadhu’

Tawadhu’ memiliki beberapa kriteria utama:

1. Menyadari bahwa Segala Sesuatu adalah Ujian dari Allah ﷻ

Salah satu pondasi tawadhu’ adalah kesadaran bahwa seluruh keadaan hidup—kemuliaan atau kerendahan, kelapangan atau kesempitan, pujian atau kritikan—semuanya adalah ujian dari Allah ﷻ. Tidak ada satu pun nikmat yang otomatis menjadikan kita mulia; sebaliknya, semakin besar nikmat, semakin besar pula amanah dan ujian yang menyertainya.

Kesadaran ini membuat seorang hamba tidak membanggakan diri dan tidak tertipu oleh apa yang ia miliki. Ia tahu semua itu hanyalah titipan yang dapat diambil kapan saja. Ia merendah bukan karena merasa kecil, tetapi karena memahami hakikat hidup dan tujuan penciptaanya.

Allah ﷻ berfirman:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

“(Dialah, Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Dengan memahami hal ini, seseorang hamba akan terus mengingatkan dirinya: “Setiap keadaan adalah ujian. Yang dituntut dariku adalah amal terbaik, bukan merasa lebih baik.”

Inilah kesadaran yang menjaga hati tetap rendah, tidak terpedaya oleh nikmat dunia, dan terus terdorong untuk memperbaiki amal.

2. Menerima Kebenaran (al-Haq) dari Mana pun Datangnya

Pilar penting lain dari tawadhu’ adalah kemampuan untuk menerima kebenaran apa adanya, tanpa melihat siapa yang menyampaikannya. Banyak orang tampak lembut dalam perilaku, tetapi sulit menerima nasihat bila datang dari yang lebih muda, berbeda pandangan, atau tidak ia hormati. Inilah bentuk kesombongan yang sering tersembunyi.

Tawadhu’ adalah ketika seorang hamba membuka hatinya terhadap kebenaran, meskipun datang dari orang fakir ataupun kaya, pejabat ataupun rakyat biasa, kawan ataupun lawan, yang lebih tua ataupun lebih muda.

Kesadaran ini membuat seseorang tidak memandang dirinya sebagai pemilik kebenaran, tetapi sebagai pencari kebenaran. Dan siapa pun yang menunjukkan kebenaran kepadanya—dialah gurunya. Jika sifat ini hadir dalam diri, berarti tawadhu’ telah mengakar dalam hati.

3. Rendah Hati dalam Berinteraksi dengan Sesama

Tawadhu’ juga tampak dalam cara kita berinteraksi. Seorang yang tawadhu’ bersikap lembut, tidak meremehkan siapa pun, dan tidak merasa lebih tinggi dalam urusan apa pun. Ia sadar bahwa manusia adalah sama di hadapan Allah ﷻ—sama-sama lemah, sama-sama banyak salah, dan sama-sama membutuhkan rahmat-Nya.

Para salaf memberi teladan yang sangat indah dalam hal ini. Mereka berkata:

  • Jika engkau bertemu orang yang lebih muda, katakanlah: “Ia lebih baik dariku, karena dosanya mungkin lebih sedikit.”
  • Jika engkau bertemu orang yang lebih tua, katakanlah: “Ia lebih baik dariku, karena amalnya mungkin lebih banyak.”

Dengan cara berpikir seperti ini, seseorang akan lebih mudah menghormati, memuliakan, dan merendahkan hatinya di hadapan siapa pun. Inilah yang membuat tawadhu’ kokoh dalam hati dan tampak nyata dalam akhlak.

Teladan dalam Ketawadhu’an

  1. Tawadhu’ Rasulullah ﷺ

Para sahabat berkata: “Jika ada seseorang bersalaman dengan Rasulullah ﷺ, beliau tidak melepaskan tangannya hingga orang itu yang melepaskan terlebih dahulu. Bila berbicara, beliau tidak memalingkan wajah. Dan setiap kali bertemu, beliau selalu tersenyum.”

Bandingkanlah dengan diri kita—seringkali ketika diajak bicara, kita mengatakan, “Maaf, saya sedang sibuk.”

  1. Rasulullah dituntun anak kecil

Dikisahkan para sahabat: ada seorang anak kecil menggandeng tangan Rasulullah ﷺ dan memintanya mengantar ke pasar Madinah untuk membeli kebutuhannya. Rasulullah pun menemaninya hingga selesai.

Padahal beliau seorang Nabi, namun beliau tidak malu berjalan bersama anak kecil hanya untuk menyenangkannya. Maka, ketika anak kita meminta ditemani bermain—temanilah.

  1. Ketawadhu’an Abu Bakar ash-Shiddiq ra.

Abu Bakar ra. setiap hari membantu membersihkan rumah seorang wanita tua tetangganya, padahal saat itu beliau adalah seorang khalifah.
Sedangkan kita—terkadang para lelaki enggan membantu pekerjaan rumah karena merasa sudah memberi nafkah.

Padahal Nabi Muhammad ﷺ sendiri, ketika ditanya oleh Aisyah ra. tentang kegiatannya di rumah, beliau menjawab bahwa beliau melakukan pekerjaan rumah. (Yuk, tanyakan pada pasangan kita, pekerjaan rumah apa yang bisa kita bantu?)

  1. Rendah hatinya Ali bin Abi Thalib ra.

Ketika Ali bin Abi Thalib ditanya siapa orang terbaik setelah Nabi Muhammad ﷺ, beliau menjawab: Abu Bakar, Umar, Utsman. Lalu ditanya lagi, Setelah itu siapa?”
Beliau menjawab, “Saya hanyalah seorang dari kaum muslimin.”
Padahal saat itu beliau adalah Amirul Mukminin.

Cara Menjadi Orang Tawadhu’

Ada tiga langkah penting untuk melatih diri agar menjadi pribadi yang tawadhu’:

  1. Mengenal Rabb kita, Allah ﷻ

Semakin kita mengenal keagungan Allah ﷻ, kebesaran ciptaan-Nya, dan betapa tidak terhitung nikmat-Nya, semakin kita sadar bahwa kita hanyalah hamba yang lemah dan selalu membutuhkan-Nya. Segala yang kita miliki adalah pemberian Allah ﷻ semata.

  1. Selalu berlatih

Setelah mengetahuinya, kita harus terus melatih diri dengan mengikuti teladan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

  1. Bertanya pada orang terdekat

Jika ingin mengetahui apakah kita sudah tawadhu’ atau belum, tanyakanlah kepada orang yang jujur dan terpercaya: teman, tetangga, atau kerabat. Cukup satu pertanyaan: “Apa pendapatmu tentang diriku?

Muhasabah

Mari meneladani ketawadhu’an Nabi Muhammad ﷺ. Para sahabat berkata:

Beliau adalah orang yang paling tawadhu’ dan paling jauh dari sifat sombong. Beliau melarang orang berdiri untuk menghormatinya, menjenguk orang miskin, duduk bersama orang fakir dan para sahabat, menambal bajunya, menjahit sandalnya, dan bekerja dengan tangannya sendiri sebagaimana kalian bekerja di rumah kalian. Beliau memakan apa yang dimakan oleh sahabatnya.

Ya Allah.. berikanlah kepada kami rezeki berupa sifat tawadhu’, dan jauhkanlah kami dari kesombongan. Tolonglah kami untuk selalu berdzikir, bersyukur, dan memperbaiki ibadah kami.
Aamiin.

Pustaka: Akhlakul Mukmin, Syaikh Amru Khalid

Pengampu Ta’limul Kitab Ma'had Abdurrahman As-Sanad.
Alumni Mulazamah di Ma'had 'Aly Darul Wahyain, Magetan.

Tag: