Khusyu’ merupakan ruh dari sholat. Sholat tanpa kekhusyukan ibarat jasad tanpa ruh; terlihat sebagai tubuh, namun kosong dari kehidupan. Demikian pula sholat—gerakannya tetap ada, tetapi tanpa khusyu’, sholat itu kehilangan nilainya di sisi Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seseorang yang menunaikan sholat tidak mendapatkan pahala kecuali yang setengah, sepertiga, seperempat… dan pahala sholat itu tergantung pada seberapa khusyu’ seseorang.”
Karenanya, mengusahakan sholat yang khusyu’ adalah sebuah keharusan bagi setiap hamba. Para ulama pun memberikan berbagai motivasi dan nasihat agar seseorang dapat meraih kekhusyukan, di antaranya dengan menjauhi perkara-perkara yang dibenci (makruh) dalam sholat. Hal-hal ini, meski tidak membatalkan sholat, namun mengurangi kesempurnaannya dan mengganggu kekhusyukan.
Berikut beberapa perkara yang dimakruhkan dalam sholat:
1. Menoleh Ketika Sholat
Pendapat ini disepakati oleh empat madzhab, berdasarkan hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata bahwa ketika bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang menoleh dalam sholat, beliau bersabda:
اختلاس يختلسه الشيطان من صلاة العبد
“Menoleh adalah kecurangan yang dilakukan oleh setan dari sholat seorang hamba.” (HR Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, Muslim, dan Nasa’i)
2. Melihat ke Atas
Berdasarkan hadits Jabir bin Samurah, Rasulullah ﷺ bersabda:
لينتهين أقوام يرفعون أبصارهم إلى السماء في الصلاة أو لا ترجع إليهم
“Hendaklah suatu kaum berhenti mengangkat pandangan ke langit ketika sholat, atau pandangan mereka tidak akan kembali kepada mereka.” (HR Muslim)
3. Duduk Iqaa’
Yaitu duduk dengan menempelkan pantat ke lantai, paha tegak, dan kedua tangan menjadi sandaran di lantai. Cara duduk ini dimakruhkan dalam sholat.
4. Meletakkan Siku di Lantai ketika Sujud
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Luruskanlah sujud kalian dan jangan membentangkan kedua siku seperti anjing.” (HR Al-Jamaah)
Maka hendaknya ketika sujud, kedua siku diangkat agar tidak menyerupai anjing. Jika perlu menyentuhkan, cukup letakkan di atas paha, bukan di lantai. Wallahu a‘lam.
5. Membunyikan Jari-jari
Berdasarkan hadits dari Ali radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
“Janganlah engkau membunyikan jari-jarimu dalam sholat.” (HR Ibnu Majah)
6. Sholat dalam Keadaan Menahan Buang Air
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada sholat (yang sempurna) ketika makanan telah dihidangkan dan ketika menahan dua hal yang kotor (buang air besar atau kecil).” (HR Muslim)
Menahan buang air sangat mengurangi kekhusyukan dan memalingkan konsentrasi.
7. Mendahului Gerakan Imam
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidakkah kalian takut apabila kalian mendahului imam dalam mengangkat kepala, Allah akan menjadikan kepala kalian seperti kepala keledai atau suara kalian menjadi suara keledai?” (HR Bukhari)
Makmum hendaknya menunggu hingga imam benar-benar berpindah posisi baru mengikutinya. Imam pun dianjurkan membaca takbir intiqal ketika hampir masuk pada posisi gerakan berikutnya.
8. Sholat Menghadap ke Gambar
Rasulullah ﷺ pernah diberi hadiah kain bergaris, lalu Aisyah menjadikannya sebagai penutup. Seusai sholat, beliau ﷺ bersabda:
“Wahai Aisyah, kembalikan kain ini kepada Abu Jahm dan mintalah ganti yang polos, karena tadi aku terganggu dengan garis-garisnya.” (HR Muslim)
Karena itu, sebaiknya tidak memakai pakaian bergambar atau bertulisan mencolok saat sholat, demi menjaga kekhusyukan diri dan orang lain.
9. Menutup Sebagian Wajah dan Memakai Pakaian Isbal
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Rasulullah ﷺ melarang isbal dalam sholat dan menutup mulut.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan dishahihkan Al-Albani)
Menutup mulut—baik dengan masker atau cadar—dapat mengganggu kesempurnaan sujud.
Catatan:
Wanita yang bercadar boleh tetap memakai cadar ketika sholat jika berada di tempat terbuka dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Namun bila ia berada di tempat tertutup dari pandangan lelaki, maka hukumnya tetap makruh.
10. Banyak Bergerak Tanpa Kebutuhan
Gerakan yang berlebihan menghilangkan kekhusyukan. Ukurannya dikembalikan pada ‘urf (penilaian umum masyarakat). Bila seseorang melihat dari luar dan bertanya, “Ini sedang sholat atau tidak? Mengapa bergerak terus?”, maka itu dianggap berlebihan.
Gerakan ringan karena kebutuhan—menggaruk yang gatal, merapatkan shaf, dan sejenisnya—tidak mengapa.
Tumakninah: Kunci Utama Khusyu’
Yang paling penting dalam meraih kekhusyukan adalah tumakninah, yaitu menyempurnakan setiap gerakan sholat dan tenang—tidak terburu-buru berpindah sebelum gerakan sempurna. Maka dalam mengaplikasikan tumakninah adalah dengan menyempurnakan gerakan sholat baru kita baca doa, misalkan kita ruku atau sujud maka jangan membaca doa ruku dan sujud sebelum gerakan ruku dan sujud kita sempurna.
Tumakninah bukan hanya sunnah, tetapi rukun sholat. Tanpanya, sholat tidak sah.
Wallahu a‘lam.
Semoga Allah memudahkan kita dalam menegakkan sholat, meningkatkan kualitasnya, dan menjadikannya sumber ketenangan hidup.
Allahumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.
Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Aamiin.
Referensi
- Fiqhus Sunnah – Sayyid Sabiq
- Salsabilah fi Ma’rifatid Dalil
- Fiqih Muyassar





