Ketika seseorang menyatakan telah beriman kepada Allah ﷻ, maka sungguh ia telah memperoleh kemenangan yang besar. Sebab, dengan iman kepada Allah ﷻ, seseorang akan meraih keselamatan di akhirat kelak.
Lalu, apa hakikat sebenarnya dari iman kepada Allah ﷻ?
Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya mendefinisikan bahwa iman adalah perkataan dan amalan. Artinya, tidak cukup seseorang hanya berkata tanpa mengamalkan tuntutan imannya. Maka, iman yang benar mencakup dua hal pokok, yaitu:
1. Keyakinan yang benar lagi kuat, tanpa dicampuri keraguan
Inilah tanda paling utama seorang beriman. Keyakinan yang kokoh akan menjadikan seseorang memperoleh jaminan keamanan dari Allah ﷻ, baik di dunia maupun di akhirat.
Allah ﷻ berfirman:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), maka mereka itulah yang berhak memperoleh keamanan, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An‘ām: 82)
Yang dimaksud “kedzaliman” dalam ayat ini adalah syirik, yaitu menduakan Allah ﷻ. Maka, seseorang yang berdoa kepada Allah namun juga memohon kepada selain-Nya, sejatinya telah ragu terhadap Allah sebagai satu-satunya Dzat Yang Maha Memberi.
Begitu pula seseorang yang mengaku beriman kepada Allah ﷻ, namun hanya mengambil syariat yang sesuai dengan seleranya dan meninggalkan syariat yang tidak sesuai dengan dirinya—ini adalah bentuk keraguan dalam hati. Salah satu bukti hilangnya keraguan adalah mengamalkan semua perintah Allah ﷻ, baik yang sesuai keinginan maupun yang tidak.
Seorang mukmin yang benar-benar yakin kepada Allah ﷻ dan menjauhi segala bentuk kesyirikan dalam keyakinan dan amalannya, niscaya akan mendapatkan rasa aman. Ia yakin bahwa segala sesuatu yang menimpanya—baik pada dirinya, masyarakat, atau kehidupannya—semua terjadi atas takdir Allah ﷻ, dan takdir Allah itu pasti baik menurut-Nya.
2. Amalan sebagai bukti dari keyakinan, sekaligus buah dari iman
Amalan yang menjadi bukti keimanan terbagi menjadi tiga bagian. Jika salah satu dari tiga bagian ini tidak ada, berarti terdapat keraguan dalam imannya.
a. Amalan hati
Seperti takut, berharap, dan bertawakal hanya kepada Allah ﷻ. Termasuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, serta janji dan ancaman-Nya yang disebutkan dalam Al-Qur’an berupa Surga dan Neraka.
Ketika seorang beriman mengingat surga, neraka, serta apa yang akan terjadi setelah kematian, ia akan berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya.
b. Amalan lisan
Seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an, berkata benar, mengajak manusia kepada ketaatan kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya, belajar dan mengajarkan ilmu, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya.” (QS. Al-Hujurāt: 15)
Hanya meyakini bahwa Allah ﷻ adalah Sang Pencipta dan Pemberi kebutuhan tidak cukup untuk menjadikan seseorang sebagai mukmin yang benar. Iblis —la‘natullāh ‘alaih— pun meyakini hal tersebut, tetapi ia tidak mau melaksanakan perintah Allah.
c. Amalan anggota badan
Seperti melaksanakan rukun Islam yang lima dan berinteraksi dengan sesama manusia: keluarga, anak, istri, tetangga, hingga hal kecil seperti menyingkirkan gangguan dari jalan atau menuangkan air kepada orang lain. Semuanya merupakan bukti iman.
Amalan tertinggi sebagai puncak iman adalah jihad di jalan Allah ﷻ, baik dengan harta maupun jiwa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Iman itu memiliki tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling tinggi adalah ucapan ‘Lā ilāha illallāh’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi – lafadz hadits riwayat imam Muslim)
Segala amalan yang mendatangkan kecintaan Allah ﷻ dan tidak menyebabkan kemurkaan-Nya adalah bukti dari iman kita kepada Allah ﷻ.
Marāji‘ (referensi):
- Al-Iman — Abdul Majid az-Zindani
- Utsūluts-Tsalātsah — Muhammad bin Abdul Wahhab
- Fathul Majīd
- Mukhtashar Ma‘ārijul Qabūl





