
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agama itu nashiihah” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin.” (HR. Muslim no. 55)
Mufrodat (Kosakata)
Ad-Diin (الدِّين)
Kata ad-diin dalam hadits ini berarti agama. Arti lain ad-diin adalah al-jazaa’ — yakni pembalasan.
- Agama: إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (ad-diin) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19) - Pembalasan: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“(Allah) Penguasa hari pembalasan (yaum ad-diin).” (QS. Al-Fatihah: 4)
An-Nashiihah (النَّصِيحَة)
Berasal dari kata kerja nashaha (نَصَحَ), artinya murni dan bersih dari kotoran — seperti madu yang disaring dari lilinnya. Juga bermakna menjahit (merapatnya dua sesuatu sehingga tidak berjauhan), yaitu memperbaiki pakaian yang robek agar kembali rapat dan utuh.
Dalam bahasa Indonesia, kata “nasihat” mengalami penyempitan makna: hanya sebatas ajaran atau petunjuk yang baik.
Namun dalam bahasa Arab, “nashiihah” memiliki makna yang lebih mendalam: mencakup ketulusan hati, kesungguhan, dan usaha nyata untuk memperbaiki keadaan.
Makna nashiihah meliputi kemurnian niat, kesungguhan, dan upaya perbaikan yang mencakup hubungan seorang hamba dengan Allah ﷻ, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin, dan seluruh kaum Muslimin.
Li-man (لِمَنْ)
Dalam tata bahasa Arab, “li-” (لـ) adalah huruf jar (preposisi) yang memiliki beberapa makna, diantaranya adalah: untuk, bagi, kepada, milik, atau karena.
Dalam konteks hadits ini, “li-” dimaknai sebagai penunjuk objek penerima dari “An-Nashiihah” yang dalam arti luas bermakna: ketulusan, kesetiaan, kesungguhan, dan kebaikan yang ditujukan untuk pihak lain.
Syarah (Penjelasan Ulama)
Imam Al-Khatthabi rahimahullah menerangkan bahwa, Nashiihah adalah ungkapan yang bermakna mewujudkan kebaikan kepada yang ditujukan nashiihah. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:219)
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna nashiihah kepada Allah ﷻ mencakup: Beriman kepada-Nya, melaksanakan ketaatan kepada-Nya, menjauhkan diri dari maksiat, mencintai orang yang taat kepada-Nya, memusuhi orang yang durhaka kepada-Nya, berjihad melawan orang yang kufur kepada-Nya, serta senantiasa mengakui dan bersyukur atas segala nikmat-Nya (Syarah Shahîh Muslim II/38 oleh Imam an-Nawawi).
Faedah Hadits
Berikut adalah penjabaran faedah dan pelajaran yang dapat diambil:
1. Agama adalah ketulusan dan kesungguhan upaya
inti dari beragama adalah ketulusan dan kesungguhan dalam beramal. Ibadah tidak sah tanpa keikhlasan (nashiihah lillah), dan keikhlasan sejati dibuktikan dengan kesungguhan menjalankan ajaran Islam secara kaffah (utuh dan menyeluruh).
2. Ketulusan yang kaffah (utuh dan menyeluruh)
Nashiihah bukan sekadar memberi “nasihat” lewat kata-kata, namun juga ketulusan dan kesungguhan dalam seluruh aspek kehidupan:
- Aqidah: hanya menyembah kepada Allah ﷻ semata.
- Syari’ah: berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
- Muamalah dan Akhlak: berbuat baik, menegakkan keadilan, dan mencegah kemungkaran — baik kepada pemimpin maupun umat.
3. Nashiihah kepada Allah ﷻ
Beriman dengan tulus, mentauhidkan-Nya, beribadah hanya kepada-Nya, berharap kepada-Nya, takut kepada-Nya, dan selalu mengingat-Nya dalam setiap keadaan.
4. Nashiihah kepada Kitab Allah ﷻ
Membaca Al-Qur’an dengan tartil, memahami kandungannya, mengamalkan isinya, serta menjadikannya petunjuk hidup dalam seluruh aspek kehidupan.
5. Nashiihah kepada Rasulullah ﷺ
Meyakini kerasulannya, membenarkan seluruh ajarannya, mencintai beliau, serta mengikuti sunnah dan tuntunan beliau dalam beribadah dan bermuamalah.
6. Nashiihah kepada pemimpin kaum muslimin
Mendukung mereka dalam kebaikan, membantu menunaikan amanah, menasihati dengan bijak dan baik, serta mencegah mereka dari kemungkaran tanpa menimbulkan fitnah.
7. Nashiihah untuk kaum muslimin
Menolong dalam kebaikan, menutupi aib, menjaga kehormatan, memberi nasihat dengan kasih sayang, mendoakan, mengajarkan ilmu, dan membantu memenuhi kebutuhan saudara seiman.
Imam An-Nawawi rahimahullah menegaskan:
“Menasihati sesama muslim berarti adalah menunjuki berbagai maslahat untuk mereka yaitu dalam urusan dunia dan akhirat mereka, tidak menyakiti mereka, mengajarkan perkara yang mereka tidak tahu, menolong mereka dengan perkataan dan perbuatan, menutupi aib mereka, menghilangkan mereka dari bahaya dan memberikan mereka manfaat serta melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2:35).
Penutup
Hadits ini termasuk di antara hadits yang menjadi poros ajaran Islam. Ia merangkum hakikat ketulusan dan kesungguhan seorang Muslim dalam menjalankan agamanya secara menyeluruh — semuanya terangkum dalam satu kata: an-Nashiihah.
Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa menunaikan nashiihah dengan hati yang tulus — kepada Allah ﷻ, Rasul-Nya, dan sesama Muslim. Āmīn.





