Lompat ke konten
Ibrah Sejarah Ketika Kedzoliman Meruntuhkan Wibawa Mataram Ust Yunus Supanto

Ibrah Sejarah: Ketika Kezaliman Meruntuhkan Wibawa Mataram

Mengapa sebuah kerajaan besar dapat kehilangan kejayaannya hanya dalam beberapa dasawarsa? Mengapa Allah Ta’ala membiarkan sebuah negeri yang pernah begitu kuat akhirnya melemah dan jatuh?

Al-Qur’an mengajarkan bahwa kehancuran suatu kaum bukanlah peristiwa yang terjadi tanpa sebab. Di balik setiap kejayaan dan keruntuhan terdapat sunnatullah yang berlaku bagi siapa pun. Ketika amanah diabaikan, kezaliman dibiarkan tumbuh, dan manusia berpaling dari keadilan, maka Allah Ta’ala membiarkan mereka merasakan akibat dari perbuatannya sendiri. Karena itulah, seorang muslim tidak mempelajari sejarah sekadar untuk mengetahui apa yang pernah terjadi, tetapi untuk mengambil pelajaran agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

“Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS. Al-Hasyr: 2)

Allah Ta’ala juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa perubahan suatu bangsa tidak terjadi secara tiba-tiba. Kejayaan maupun kemunduran memiliki sebab. Ketika suatu masyarakat menjaga amanah, menegakkan keadilan, dan menaati aturan Allah Ta’ala, mereka memiliki sebab-sebab menuju keberkahan. Sebaliknya, ketika kezaliman, pengkhianatan, dan kerakusan mulai menguasai, maka sebab-sebab kehancuran pun mulai terbuka.

Salah satu contoh yang dapat direnungkan adalah perjalanan Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17. Di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645), Mataram mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kekuasaannya meluas, pengaruh politiknya besar, dan menjadi salah satu kerajaan terkuat di Nusantara. Namun, hanya beberapa puluh tahun setelah beliau wafat, wibawa kerajaan mulai merosot hingga akhirnya mengalami kemunduran yang mendalam.

Sebagian orang menganggap bahwa penyebab utamanya adalah kekuatan VOC. Padahal, berbagai sumber sejarah menunjukkan bahwa tekanan dari luar hanyalah salah satu faktor. Akar persoalan justru telah tumbuh dari dalam. Ketika amanah kepemimpinan mulai diabaikan, kezaliman meluas, dan ketergantungan kepada pihak asing semakin besar, maka fondasi kerajaan pun perlahan melemah.

Takhta yang Dibangun di Atas Ketakutan

Sepeninggal Sultan Agung, putranya yang bergelar Sultan Amangkurat I naik menggantikan beliau. Akan tetapi, pergantian kepemimpinan ini tidak berlangsung dalam suasana yang sepenuhnya tenang. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa menjelang akhir masa pemerintahan Sultan Agung telah terjadi ketegangan antara ayah dan putranya. Bahkan terdapat catatan mengenai upaya perebutan kekuasaan yang gagal sebelum akhirnya Amangkurat I benar-benar naik takhta.

Setelah menjadi raja, Amangkurat I menghadapi tantangan besar untuk mengokohkan pemerintahannya. Berbagai sumber, seperti Babad Tanah Jawi, karya H.J. de Graaf, maupun laporan VOC, mencatat adanya tindakan keras terhadap para bangsawan dan ulama yang dianggap tidak mendukung pemerintahannya. Sebagian disingkirkan dari lingkaran kekuasaan, sebagian dihukum, bahkan beberapa sumber menyebut adanya pembunuhan terhadap tokoh-tokoh yang dicurigai menjadi lawan politik.

Terlepas dari adanya perbedaan rincian dalam berbagai sumber sejarah, hampir semua sejarawan sepakat bahwa awal pemerintahan Amangkurat I diwarnai gejolak politik yang cukup besar. Akibatnya, legitimasi pemerintahannya tidak sekuat pemerintahan Sultan Agung sebelumnya.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan dapat diraih dengan berbagai cara, tetapi kepercayaan tidak pernah lahir dari rasa takut. Rakyat mungkin dapat dipaksa untuk tunduk, namun mereka tidak akan memberikan penghormatan apabila keadilan telah hilang.

Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah kemuliaan yang boleh diperebutkan dengan segala cara, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)

Rasulullah ﷺ bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)

Hadits ini mengingatkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin bukan diukur dari lamanya ia berkuasa, melainkan dari kemampuannya menjaga amanah. Jabatan yang tinggi tidak akan bernilai apabila diperoleh dengan mengorbankan keadilan dan hak-hak manusia.

Saat VOC Menjadi Sandaran Kekuasaan

Selain menghadapi persoalan politik di dalam negeri, Mataram juga menjalin hubungan yang semakin erat dengan VOC. Untuk mempertahankan stabilitas pemerintahannya, Amangkurat I membuat beberapa perjanjian dengan VOC pada tahun 1646, 1648, dan 1659. Melalui perjanjian-perjanjian tersebut, VOC memperoleh berbagai hak istimewa dalam perdagangan, sementara Mataram harus memenuhi kewajiban yang semakin membebani kerajaan.

Pada awalnya, kerja sama seperti ini mungkin dipandang sebagai jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa ketergantungan kepada pihak luar jarang berhenti pada satu urusan saja. Sedikit demi sedikit ia berkembang menjadi kebutuhan, kemudian berubah menjadi pengaruh, hingga akhirnya mengurangi kemandirian suatu negeri.

Kas kerajaan semakin melemah, sementara posisi tawar VOC semakin kuat. Keputusan-keputusan penting pun tidak lagi sepenuhnya bebas dari pengaruh pihak asing.

Tidak ada bangsa yang kehilangan kedaulatannya dalam satu malam. Kehilangan itu biasanya dimulai dari ketergantungan yang tampak kecil, lalu berkembang menjadi kebiasaan, hingga akhirnya sulit dilepaskan. Karena itu, musuh dari luar sering kali tidak perlu meruntuhkan sebuah negeri dengan kekuatan senjata. Mereka cukup memanfaatkan kelemahan yang telah tumbuh dari dalam.

Allah Ta’ala mengingatkan,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Ayat ini memiliki makna yang luas. Seorang muslim diperintahkan untuk menjauhi sebab-sebab yang dapat mengantarkan dirinya maupun masyarakatnya kepada kehancuran. Dalam konteks sejarah Mataram, ketergantungan yang semakin besar kepada VOC menjadi salah satu sebab yang memperlemah kemandirian kerajaan dan membuka jalan bagi campur tangan yang lebih luas pada masa-masa berikutnya.

Tatkala Rakyat Menanggung Beban Kekuasaan

Melemahnya kondisi keuangan kerajaan pada akhirnya tidak berhenti di lingkungan istana. Beban itu sedikit demi sedikit dilimpahkan kepada rakyat melalui berbagai kebijakan yang semakin berat.

Beberapa sumber sejarah, seperti Babad Tanah Jawi dan laporan-laporan VOC, mencatat adanya pungutan yang meluas terhadap masyarakat. Dalam tradisi sejarah Jawa dikenal kisah tentang “pajak pintu dan jendela”, bahkan disebut pula adanya pajak atas pohon-pohon di pekarangan. Walaupun rincian kebijakan tersebut masih menjadi pembahasan di kalangan sejarawan, hampir semua sumber sepakat bahwa beban ekonomi rakyat pada masa itu meningkat tajam.

Bagi rakyat kecil, kebijakan semacam ini bukan sekadar persoalan angka. Pajak yang berlebihan mengurangi hasil kerja mereka, mempersempit kesempatan mencari nafkah, bahkan mendorong kemiskinan. Kesalahan yang terjadi di tingkat penguasa hampir selalu berakhir menjadi beban bagi masyarakat. Ketika kehidupan semakin sulit, kepercayaan kepada pemerintah pun perlahan menghilang.

Islam mengajarkan bahwa seorang pemimpin memang memiliki wewenang untuk menetapkan kebijakan demi kemaslahatan masyarakat. Namun wewenang itu bukanlah hak untuk mempersulit kehidupan rakyat atau menjadikan mereka korban demi mempertahankan kekuasaan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

“Ya Allah, siapa yang mengurusi urusan umatku lalu mempersulit mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang mengurusi urusan umatku lalu berlaku lembut kepada mereka, maka berlakulah lembut kepadanya.” (HR. Muslim no. 1828)

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya amanah kepemimpinan. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah Ta’ala. Karena itu, para ulama rahimahumullah selalu menegaskan bahwa keadilan adalah tiang utama tegaknya sebuah pemerintahan.

Kezaliman yang Menggerus Wibawa Mataram

Selain persoalan ekonomi, berbagai catatan sejarah juga menyebutkan adanya tindakan keras terhadap keluarga keraton, para bangsawan, dan pihak-pihak yang dianggap berseberangan dengan pemerintah. Di antara peristiwa yang sering disebut adalah pembantaian terhadap keluarga keraton pada tahun 1647 serta tindakan represif lainnya yang bertujuan menanamkan rasa takut.

Apabila berbagai catatan tersebut benar adanya, maka peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa kekuasaan yang dibangun di atas rasa takut tidak akan bertahan lama. Ketakutan mungkin mampu membungkam lisan manusia, tetapi tidak akan pernah mampu memaksa hati mereka untuk mencintai pemimpinnya.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak penguasa berhasil menundukkan rakyatnya dengan kekerasan, tetapi sangat sedikit yang memperoleh penghormatan melalui kezaliman. Keadilan melahirkan kepercayaan, sedangkan kezaliman hanya melahirkan kebencian yang suatu saat akan menemukan jalannya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.” (QS. Ibrahim: 42)

Dalam hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 2577)

Kezaliman mungkin memberikan keuntungan sesaat bagi pelakunya. Namun dalam sunnatullah Allah Ta’ala, kezaliman tidak pernah menjadi pondasi yang kokoh bagi sebuah negara. Ketika keadilan hilang, rakyat kehilangan harapan. Ketika rakyat kehilangan harapan, persatuan mulai retak. Dan ketika persatuan telah retak, musuh dari luar akan lebih mudah mengambil kesempatan.

Keruntuhan yang Tidak Terjadi dalam Semalam

Akumulasi berbagai persoalan akhirnya mencapai puncaknya dalam Pemberontakan Trunajaya yang berlangsung antara tahun 1674 hingga 1677. Pasukan Trunajaya bersama kelompok-kelompok yang kecewa terhadap pemerintahan berhasil menguasai sejumlah wilayah penting, hingga akhirnya merebut Keraton Plered.

Amangkurat I terpaksa meninggalkan ibu kota dan melarikan diri ke arah barat. Dalam perjalanan menuju wilayah yang dikuasai VOC, beliau wafat di Tegal pada tahun 1677. Takhta kemudian diteruskan oleh putranya, Amangkurat II.

Namun, kerajaan yang diwariskan bukan lagi Mataram yang berjaya sebagaimana pada masa Sultan Agung. Wibawanya telah menurun, kondisi ekonominya melemah, dan ketergantungannya kepada VOC justru semakin besar. Sejak saat itu, campur tangan VOC dalam urusan Mataram semakin sulit dipisahkan dari perjalanan sejarah kerajaan tersebut.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa keruntuhan sebuah negeri hampir tidak pernah disebabkan oleh satu faktor saja. Tekanan dari luar memang dapat mempercepat kehancuran, tetapi biasanya akar persoalannya telah tumbuh dari dalam. Ketika amanah ditinggalkan, keadilan diabaikan, dan rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya, maka sebuah negeri sedang berjalan menuju titik lemahnya sendiri.

Inilah sunnatullah yang terus berulang dalam sejarah manusia. Allah Ta’ala tidak menzalimi suatu kaum, tetapi manusialah yang sering kali menzalimi dirinya sendiri dengan memilih jalan yang menyimpang dari petunjuk-Nya.

Ibrah bagi Kaum Muslimin

Kisah Amangkurat I bukan sekadar kisah tentang seorang raja pada abad ke-17. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa kejayaan sebuah negeri tidak dapat dipertahankan hanya dengan kekuatan militer, luas wilayah, atau kecakapan politik. Kekuatan sejati lahir ketika amanah dijaga, keadilan ditegakkan, dan pemimpin memandang kekuasaan sebagai tanggung jawab, bukan sebagai hak untuk berbuat sekehendak hati.

Setiap muslim mungkin tidak menjadi pemimpin sebuah negara. Namun setiap kita adalah pemimpin, paling tidak atas diri sendiri dan keluarga. Karena itu, pelajaran dari sejarah ini tetap relevan bagi siapa pun.

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita renungkan.

  • Pertama, sejarah harus menjadi ibrah, bukan sekadar cerita masa lalu. Allah Ta’ala mengabadikan kisah-kisah terdahulu agar manusia memperbaiki dirinya, bukan sekadar mengagumi atau mencela tokoh-tokohnya.
  • Kedua, kepemimpinan adalah amanah. Jabatan yang tinggi akan menjadi kemuliaan apabila dijalankan dengan adil, tetapi dapat berubah menjadi penyesalan apabila digunakan untuk menzalimi manusia.
  • Ketiga, kezaliman tidak pernah membawa keberkahan. Mungkin ia memberi kemenangan sesaat, tetapi tidak akan mampu menjaga sebuah pemerintahan dalam jangka panjang.
  • Keempat, ketergantungan yang berlebihan kepada pihak luar dapat menggerus kemandirian dan kedaulatan suatu bangsa. Kekuatan sebuah negeri bukan hanya diukur dari kekayaan atau militernya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kehormatan dan berdiri di atas kemampuannya sendiri.
  • Kelima, memperbaiki keadaan masyarakat harus dimulai dengan memperbaiki diri sendiri. Sebab Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa perubahan suatu kaum berawal dari perubahan yang ada pada diri mereka.

Penutup

Hari ini Mataram telah menjadi bagian dari sejarah. Sultan Agung, Amangkurat I, Trunajaya, dan VOC telah lama berlalu. Namun sunnatullah yang berlaku pada masa itu tidak pernah berubah. Selama amanah dijaga, keadilan ditegakkan, dan rakyat diperlakukan dengan kasih sayang, sebuah masyarakat memiliki harapan untuk tetap kokoh. Sebaliknya, ketika kezaliman dibiarkan tumbuh dan amanah dikhianati, maka kehancuran hanyalah persoalan waktu.

Karena itu, sejarah tidak boleh berhenti sebagai bacaan. Ia harus menjadi cermin bagi setiap muslim untuk bermuhasabah. Sudahkah kita menjaga amanah yang Allah Ta’ala titipkan? Sudahkah kita berlaku adil kepada orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita? Dan sudahkah kita mengambil pelajaran dari umat-umat yang telah Allah Ta’ala kisahkan?

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil ibrah dari sejarah, menjaga amanah dalam setiap tanggung jawab yang diberikan kepada kita, menegakkan keadilan sesuai kemampuan, serta dijauhkan dari segala bentuk kezaliman.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Aktif didunia dakwah di perserikatan Muhammadiyah, ketakmiran Masjid Jamik Abdurrahman Assanad, Yayasan Al Qoyyim dan IRMAS Sukoharjo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *