Lompat ke konten
Layanan dan Program UPZ Abdurrahman Assanad - Abdurrahman As-Sanad Jati Mulur Sukoharjo
Ramadhan Bulan Tazkiyah Ustadz Kh Ihsan Saifuddin

Ramadhan Bulan Tazkiyah – Momentum Rehabilitasi Hati

Kajian Shubuh Ramadhan Masjid Abdurrahman Assanad Jati Mulur

Memasuki bulan Ramadhan banyak hal yang harus kita siapkan, utamanya adalah persiapan rehab hati setelah sebelas bulan sebelumnya hati kita lelah atau rusak hingga perlu perbaikan.

Bulan Ramadhan adalah momentum perbaikan hati. Ibarat kendaraan, Ramadhan adalah momentum servis berkala tahunan. Ramadhan sebagai momentum rehab hati juga telah diingatkan oleh Amru ibn Qais, beliau berkata:

طُوبَىٰ لِمَنْ أَصْلَحَ نَفْسَهُ قَبْلَ رَمضانَ

“Beruntunglah bagi siapa yang memperbaiki jiwanya sebelum datangnya bulan Ramadhan” (Latho’iful Ma’arif:138 )

Secara umum, makna (طوبي) adalah beruntung atau nyaman, dalam tafsir Jalalain dijelaskan maknanya demikian:

أَوْ شَجَرَة فِي الْجَنَّة يَسِير الرَّاكِب فِي ظِلّهَا مِائَة عَام مَا يَقْطَعهَا

Thuba: “Adalah pohon yang tumbuh di surga, sekiranya seseorang berkendaraan lewat di bawahnya, selama perjalanan 100 tahun belum juga terlewati” (Tafsir Jalalain)

Rehabilitasi Penyakit Hati

Sehatnya badan adalah sesuatu yang sangat penting, namun yang tidak kalah pentingnya adalah sehatnya hati. Hati yang sehat diistilahkan dengan qolbun salim, ialah hati yang selamat dari berbagai penyakit hati. Termasuk penyakit hati yang banyak menimpa kaum mukminin adalah “Al-Ghil” atau “Al-Hasad“, yaitu dengki terhadap sesama mukmin.

Menjaga hati untuk terhindar dari sifat dengki termasuk sunnah yang terabaikan. Inilah hadits nabi shallallahu alaihi wasallam yang menjelaskan hal tersebut, beliau bersabda kepada Anas ibn Malik:

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّ إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لِأَحَدٍ فَافْعَلْ ثُمَّ قَالَ لِي يَا بُنَيَّ وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, “Wahai anakku, jika kamu mampu pada pagi hari dan sore hari tanpa ada dengki dalam hatimu kepada seorang pun, maka lakukanlah,“ kemudian beliau bersabda kepadaku: “Wahai anakku, itu termasuk dari sunnahku, barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaiku dan barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga” (Imam At-Tirmidzi : 2602)

Peduli Rehabilitasi Hati

Antara perawatan diri dan perawatan hati, kebanyakan manusia lebih peduli terhadap perawatan diri. Demi perawatan diri, tak sedikit orang berani bayar mahal, namun tidak demikian dengan perawatan hati.

Sekadar untuk perawatan diri, banyak orang memasang rambut palsu, gigi palsu, alis palsu, bulu mata palsu, dan lain-lain yang serba palsu.

Demi perawatan wajah, seseorang rela terbang ke luar negeri, hanya untuk oplas (operasi plastik) yang menghamburkan uang ratusan juta. Namun, sayangnya, biaya yang mahal tersebut tidak untuk rehab hati. Itulah fenomena keanehan manusia yang lebih peduli rehab diri daripada rehab hati. Padahal, rehab wajah, mau berapa pun biayanya, penampilan wajah hanyalah untuk mencari penilaian manusia.

Di mata para ulama, mengutamakan perawatan wajah daripada hati adalah perkara yang aneh.
Hal yang aneh tersebut pernah dikeluhkan oleh Imam Al Ghazali rahimahullah. Di zaman beliau saja sudah sedemikian marak, apalagi di zaman kini. Zaman yang lebih peduli pada penampilan lahiriah dibandingkan dengan penampilan batiniah.

Imam al Ghazali rahimahullah pernah berkata:

عَجِبْتُ لمن يَهْتم بوجهه وهو مَحَلُّ نَظَرِ الخَلْق، ولا يهتم بقَلْبِه وهو مَحَلُّ نَظَرِ الخَالِقِ

“Aku heran terhadap orang yang sibuk dengan penampilan wajahnya, tapi abai dengan penampilan hatinya. Padahal, penampilan wajah hanyalah tempat manusia memandang, sedangkan hati adalah tempat Allah memandang” (Imam al Ghazali)

Apa yang dikeluhkan Imam al Ghazali senada dengan apa yang juga digelisahkan Imam Asy-Syafi’i, beliau mengatakan:

عجباً من الناس يبكون على من مات جسده ولا يبكون على من مات قلبه وهو اشد

“Manusia itu aneh, mereka menangisi kematian jasadnya, namun tidak menangisi kematian hatinya, padahal kematian hati lebih berbahaya” (Imam Asy-Syafi’i)

Matinya hati jauh lebih berbahaya daripada matinya jasad. Bahkan bisa jadi, matinya jasad tidak menimbulkan bahaya sama sekali. Oleh karena kematian jasad tidak menimbulkan bahaya, orang Jawa mengatakan “wong mati ora obah, yen obah medeni bocah, yen urip goleko dhuwit

Urip golek dhuwit” bagi orang yang hatinya mati sangatlah berbahaya. Sebab dia tidak memiliki hati nurani. Demi golek dhuwit, mereka menipu, korupsi, manipulasi, dll. Hasil dari duit yang didapat untuk flexing (pamer kemewahan dan pemborosan) itulah fenomena matinya nurani.

Rehab Hati ala Imam Syafi’i

Konsep rehabilitasi hati sangatlah banyak dan beragam, di antara sekian banyak konsep rehab hati, menurut Imam asy-Syafi’i rahimahullah mencakup beberapa langkah sebagaimana beliau katakan berikut ini :

‏مَنْ أَحَبَّ أَنْ يفتح اللَّهُ قَلْبَهُ أَوْ يُنَوِّرَهُ فَعَلَيْهِ بِتَرْكِ الْكَلَامِ فيما لا يعنيه وا جتناب الْمَعَاصِي وَيَكُونُ لَهُ خَبِيئَةٌ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عَمَلٍ .«المجموع شرح المهذب١٠-٥٢»

Barangsiapa ingin agar Allah membukakan hatinya serta meneranginya, hendaklah dia tidak berkata yang sia-sia, menjauhi maksiat serta memiliki amal rahasia yang hanya diketahui dirinya dan Allah saja” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab: 1/52)

1. Tidak Berkata Sia-Sia

Tidak berkata yang sia-sia atau menjaga lisan, umumnya diistilahkan dengan “hifdzul lisan” selain akan menerangi hati, adalah juga bukti keimanan kepada Allah dan hari akhir.

Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam..” (Al-Bukhari : 6475 dan Al-Muslim : 47)

Hifzhul lisan juga menjadi sebab kemudahan meriah surga, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) niscaya aku menjamin surga baginya” (Al-Bukhari: 6474)

Hifdzul lisan juga menjadi sarana keselamatan dunia akhirat, suatu saat Uqbah bin Amir bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Wahai Rasulallah, apakah sebab utama keselamatan itu ?” Beliau menjawab, “Kendalikan lidahmu, hendaklah merasa nyaman dengan rumahmu dan menangislah atas kesalahanmu” (At-Tirmidzi :2406)

2. Menjauhi Maksiat

Hendaklah setiap orang yang ingin hatinya bening menjauhi maksiat, karena maksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan antara lain, menghalangi masuknya ilmu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat antara lain:

حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ

“Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut”

Tentang efek buruk maksiat, Imam Asy-Syafi’i punya pengalaman, beliau pernah curhat pada gurunya:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِي

Imam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:
Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku. Dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan. Dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84)

Termasuk dampak negatif maksiat adalah menghalangi datangnya rezeki. Dari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

“Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ

“Sebagaimana keberadaan takwa menjadi kunci pembuka pintu rezeki, maka lalai dalam takwa mengundang kefakiran…” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ : 85)

3. Merahasiakan Amal Shalih

Termasuk amalan yang mencemerlangkan hati adalah merahasiakan amal, inilah yang dikenal dengan “Khob’ul Amal” atau Khobi’atul Amal”.

Tentang definisi “Khobi’atul amal” dijeladkan demikian:

الخبيئة ::هو العمل الصالح الخفي الذي لايعلم به الا الله وحده

“Al Khobi’ah : Yaitu amal shalih yang dirahasiakan sehingga hanya Allah saja yang tahu”

وكل عمل صالح تكتمه عن الناس فهو خبيئة

“Setiap amal shalih yang dirahasiakan itulah khobi’ah “

Abu Hazim, seorang salafi mengatakan:

قال أبو حازم : اكتم حسناتك أشد مما تكتم سيئاتك

“Sembunyikan kebaikanmu lebih serius daripada menyembunyikan keburukanmu”

Salamah bin Dinar berkata:

اُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ

“Sembunyikan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu”

Wa shallallahu ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbih, wal hamdulillah Robbil Alamin

Ketua Yayasan Jamik Abdurrahman Assanad Jati. Aktif di bidang penulisan dan telah menghasilkan beberapa karya dalam bentuk buku cetak, di antaranya "Membeli Surga dengan Harta" serta buletin "Dalan Padang".
Instagram & Facebook: @ihsansfofficial