Lompat ke konten
Layanan dan Program UPZ Abdurrahman Assanad - Abdurrahman As-Sanad Jati Mulur Sukoharjo
Jujur Akhlak Yang Mengantarkan Ke Surga

Jujur: Akhlak yang Mengantarkan ke Surga

Kejujuran adalah sifat yang selalu melekat pada para Nabi. Dalam sejarah, kita tidak pernah mendapati seorang Nabi berdusta, meskipun hanya sekali. Karena itu, sebagai umatnya, kita diperintahkan untuk meneladani akhlak mulia ini. Kejujuran tidak hanya menghiasi kehidupan di dunia, tetapi juga menjadi sebab seseorang dimasukkan ke dalam surga Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan terus berusaha jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, dusta membawa kepada keburukan, dan keburukan akan menghantarkan ke neraka. Seseorang yang terus berdusta akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Coba sejenak kita bayangkan. Ketika kelak kita berdiri di hadapan Allah, lalu tertulis dalam catatan amal kita: “Ini catatan si pendusta.” Bagaimana perasaan kita?
Sebaliknya, betapa bahagianya jika tertulis: “Ini catatan amal si ahli jujur.” Tentu, setiap dari kita berharap termasuk golongan kedua.

Apa Itu Jujur?

Jujur adalah akhlak mulia ketika hati, lisan, dan perbuatan berada dalam kesesuaian. Tidak ada yang disembunyikan, tidak ada yang diputarbalikkan. Karena itulah, orang yang jujur akan merasakan ketenangan dalam kondisi apa pun.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَالْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Sesungguhnya kejujuran itu menenangkan, sedangkan dusta menimbulkan keraguan.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Ketika kita berinteraksi dengan sesama manusia secara jujur, kita akan merasakan ketenangan. Dan ketenangan inilah yang hari ini sering hilang dari diri pribadi maupun masyarakat. Kejujuran adalah ciri orang beriman, sedangkan dusta adalah ciri kemunafikan. Na‘udzubillāhi min dzālik.

Karena itu, seorang mukmin harus terus berusaha menjauhi dusta. Renungkan peringatan Rasulullah ﷺ berikut:

إِذَا كَذَبَ الْعَبْدُ تَبَاعَدَ عَنْهُ الْمَلَكُ مِيْلًا مِنْ نَتْنِ مَا جَاءَ بِهِ

“Jika seorang hamba berdusta, maka malaikat yang menjaganya akan menjauh sejauh satu mil karena bau busuk dari dustanya.” (HR. Tirmidzi)

Bayangkan, dusta yang kita lakukan memiliki bau busuk sampai malaikat pun menjauh. Seandainya bau itu bisa tercium oleh manusia, niscaya tidak ada seorang pun yang ingin mendekat. Jika malaikat menjauh dari pendusta, lalu siapa yang mendekat? Tidak lain adalah setan. Na‘udzubillāhi min dzālik.

Jujur adalah Sifat Mukmin, Dusta adalah Sifat Munafik

Allah ﷻ berfirman:

لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّـٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا

“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujurannya, dan menyiksa orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab 33: 24)

Kejujuran mungkin tidak selalu mendatangkan keuntungan di dunia. Namun, yakinlah bahwa kejujuran kepada Allah dan kepada manusia akan sangat bermanfaat di akhirat.

Allah ﷻ berfirman:

هَـٰذَا يَوْمُ يَنفَعُ ٱلصَّـٰدِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ

“Inilah hari ketika kejujuran orang-orang yang jujur memberikan manfaat.” (QS. Al-Māidah 5: 119)

Bahkan pada hari kiamat, Allah akan membedakan antara orang jujur dan pendusta dari wajah mereka.

Allah ﷻ berfirman:

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ

“Pada hari kiamat engkau akan melihat orang-orang yang berdusta kepada Allah, wajah mereka menjadi hitam.” (QS. Az-Zumar 39: 60)

Wajah pendusta akan menghitam, sedangkan kejujuran akan menerangi dan memutihkan wajah pada hari kiamat. Maka, selama masih ada kesempatan, mari kita tanamkan sikap jujur sejak sekarang agar kelak kita bertemu Allah dengan wajah yang bersinar.

Sebab-sebab Dusta

Mengapa seseorang bisa terjerumus dalam kebohongan? Para ulama menyebutkan beberapa sebab utama:

1. Ingin Selamat dari Masalah

Salah satu sebab seseorang berdusta adalah keinginan untuk selamat dari masalah. Dalam sebuah atsar disebutkan:

“Pilihlah kejujuran meskipun engkau melihat dengannya engkau akan binasa, karena sesungguhnya itulah keselamatan bagimu.”

Kita dapat belajar dari kisah sahabat Nabi ﷺ, Ka‘ab bin Malik رضي الله عنه, yang tidak ikut Perang Tabuk. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan persiapan keberangkatan, Ka‘ab menunda-nunda dengan berkata, “Besok aku akan bersiap”; hingga akhirnya Rasulullah ﷺ dan para sahabat berangkat, sementara Ka‘ab belum juga siap, sehingga ia tertinggal dan tidak mungkin menyusul.

Peristiwa ini menjadi bagian dari asbābun nuzūl turunnya QS. At-Taubah ayat 117–119. Ketika Rasulullah ﷺ kembali dari Perang Tabuk, orang-orang munafik datang dengan berbagai alasan dusta. Adapun Ka‘ab bin Malik dan dua sahabat lainnya dengan jujur mengakui bahwa mereka tidak memiliki udzur apa pun yang menghalangi untuk ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.

Meskipun mereka dihukum dengan hajr (didiamkan) selama 40 hari, kejujuran itu justru menyelamatkan iman mereka dan mengangkat derajat mereka sebagai orang-orang yang jujur di sisi Allah ﷻ.

2. Ingin Mendapatkan Manfaat Dunia

Keinginan terhadap kedudukan, harta, dan gengsi dunia sering kali menjerumuskan seseorang pada dusta. Ini adalah sebab yang lebih berbahaya, bahkan lebih buruk di sisi Allah dibandingkan sebab sebelumnya, karena dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kemunafikan dan kekafiran.

Contohnya adalah Abu Jahal yang sebenarnya mengetahui kebenaran Nabi ﷺ, namun enggan mengakuinya karena takut kehilangan kehormatan kabilahnya. Pada suatu hari Nabi ﷺ mengajaknya masuk Islam, tetapi Abu Jahal menjawab, “Wahai Muhammad, engkau dusta, aku tidak akan mempercayaimu.”

Beberapa waktu kemudian, Abu Jahal justru berkata kepada temannya yang telah masuk Islam, “Sungguh aku tahu bahwa Muhammad adalah benar. Namun yang menghalangiku untuk mengikutinya adalah persaingan antara kabilahku dan kabilah Abdul Manaf. Kami selalu berlomba dalam kebanggaan: mereka berkata punya ini, kami pun berkata punya itu. Hingga ketika mereka berkata, ‘Kami memiliki seorang Nabi,’ maka apa lagi yang bisa dibanggakan oleh kabilahku?”

Keinginan untuk mempertahankan keuntungan, kedudukan, dan gengsi dunia inilah yang dapat menghalangi seseorang dari kejujuran, menumbuhkan kebencian terhadap kebenaran, dan menyeretnya pada kebinasaan.

3. Untuk Menyakiti atau Mengganggu Orang Lain

Sebagian orang berdusta bukan untuk menyelamatkan diri, tetapi untuk menyakiti orang lain. Contohnya adalah kisah saudara-saudara Nabi Yusuf عليه السلام yang berdusta kepada ayah mereka karena iri dan dengki.

Kebohongan jenis ini sangat berbahaya karena lahir dari penyakit hati. Ia bukan sekadar ucapan lisan, tetapi buah dari hasad, kebencian, dan permusuhan yang tersimpan. Dusta semacam ini sering kali menghancurkan hubungan, merusak kepercayaan, dan menorehkan luka yang sulit disembuhkan. Na‘udzubillahi min dzalik.

Seorang mukmin dituntut menjaga kebersihan hati dan lisannya. Hati yang tulus harus tercermin dalam ucapan; niat baik saja tidak cukup jika lisan menyakiti orang lain. Dengan hati dan lisan yang selaras, ucapan jujur muncul secara alami dan hubungan sosial menjadi harmonis.

Selain itu, menjauhi dusta atau ucapan yang menyakiti orang lain juga menjaga diri dari dosa yang menumpuk dan konsekuensi buruk di dunia maupun akhirat.

4. Menutupi Kebohongan Sebelumnya

Dusta sering muncul untuk menutupi kebohongan yang telah lalu. Seseorang berbohong, lalu merasa harus berbohong lagi agar kebohongan pertama tidak terbongkar. Satu kebohongan melahirkan kebohongan berikutnya, hingga akhirnya seseorang terbiasa berdusta tanpa rasa bersalah.

Inilah lingkaran setan yang berbahaya. Satu kebohongan melahirkan kebohongan berikutnya, hingga seseorang terbiasa berdusta tanpa rasa bersalah, dan hati menjadi keras terhadap kebenaran. Na‘udzubillahi min dzalik.

Seorang mukmin dituntut menjaga kebersihan hati dan lisannya. Hati yang jujur akan melahirkan ucapan yang jujur pula, sehingga kebohongan yang menutupi kebohongan tidak terjadi.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah رحمه الله berkata:

“Balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan balasan keburukan adalah keburukan setelahnya.”

Jika kejujuran melahirkan ketenangan, maka dusta menimbulkan kegelisahan yang berlapis-lapis, hingga hati menjadi keras dan sulit menerima kebenaran.

Iman dan Dusta Tidak Pernah Bersatu

Sebagai penutup, seorang mukmin hendaknya sangat berhati-hati dengan dusta. Iman dan dusta tidak akan pernah bersatu dalam satu hati.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya:
“Apakah seorang mukmin bisa pengecut?” Beliau menjawab, “Bisa.”
“Apakah seorang mukmin bisa bakhil?” Beliau menjawab, “Bisa.”
“Apakah seorang mukmin bisa berdusta?” Beliau menjawab, “Tidak.”

(HR. Imam Malik)

Semoga Allah ﷻ menjaga kita dari sifat dusta dan mengaruniakan kepada kita akhlak jujur dalam setiap keadaan.

“Yā Rabb, masukkanlah kami ke dalam tempat yang jujur dan keluarkanlah kami dari tempat yang jujur, serta karuniakan kepada kami pertolongan dari sisi-Mu.”

Referensi: Akhlāqul Mukmin, Syaikh ‘Amr Khalid

Pengampu Ta’limul Kitab Ma'had Abdurrahman As-Sanad.
Alumni Mulazamah di Ma'had 'Aly Darul Wahyain, Magetan.

Tag: