Lompat ke konten
Layanan dan Program UPZ Abdurrahman Assanad - Abdurrahman As-Sanad Jati Mulur Sukoharjo
Memahami Perbedaan Istidraj Musibah Azab

Memahami Perbedaan Istidrāj, Musibah, dan Azab

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم:
“إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ شَرًّا أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.”

Dari Anas radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah segerakan baginya hukuman (atas dosa-dosanya) di dunia. Dan jika Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Allah menahan (hukuman) darinya karena dosanya hingga ia datang pada hari kiamat dengan membawa dosa tersebut.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim; disahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albani)

Hadits ini memberikan kaidah penting dalam memahami berbagai peristiwa yang dialami seorang hamba di dunia. Tidak setiap nikmat merupakan tanda ridha Allah ﷻ, dan tidak setiap musibah adalah pertanda murka-Nya. Di antara nikmat, musibah, dan azab, terdapat hikmah serta ujian yang menuntut kepekaan iman.

Pelajaran Penting dari Hadits

1. Nikmat aman dan berkecukupan bukan selalu tanda Allah ﷻ ridha

Terkadang, pemberian Allah ﷻ justru merupakan bentuk ujian atau istidrāj, terutama bagi mereka yang terus-menerus bermaksiat. Sebaliknya, musibah yang menimpa seorang hamba belum tentu tanda murka Allah ﷻ; bisa jadi itu adalah sapaan rahmat agar ia kembali dan semakin dekat kepada-Nya.

2. Azab dapat turun saat manusia berada dalam kelalaian

Ketika hati mengeras terhadap peringatan Allah ﷻ, tidak lagi merasa berdosa, bahkan merasa aman meskipun berpaling dari-Nya, saat itulah azab dapat datang tanpa disadari.

3. Istidrāj terjadi ketika dosa dibiarkan tanpa teguran dan musibah

Allah ﷻ menahan hukuman, sementara seorang hamba terus diberi kenikmatan duniawi yang ia inginkan. Ia dibiarkan bersuka ria menikmati fasilitas dunia hingga, secara tiba-tiba, datang azab yang membuatnya berputus asa dari rahmat Allah ﷻ.

4. Keamanan palsu lebih berbahaya daripada musibah

Musibah sering kali menyadarkan, sedangkan nikmat yang melalaikan dapat menghancurkan iman secara perlahan tanpa terasa.

5. Wajib melakukan introspeksi saat nikmat terasa begitu mudah diraih

Apakah kemudahan itu disertai ketaatan, atau justru berjalan beriringan dengan kemaksiatan?

6. Nikmat terbesar adalah hidayah, bukan harta

Karena istidrāj menunjukkan bahwa kelimpahan dunia tanpa ketaatan dapat berubah menjadi bentuk hukuman yang tersembunyi.

Ayat-Ayat Al-Qur’an yang Berkaitan

1. Makna Istidrāj dalam Al-Qur’an

Istidrāj bermakna Allah ﷻ membiarkan manusia merasa memperoleh anugerah dan kelapangan duniawi, padahal kenikmatan tersebut bisa berasal dari perkara syubhat atau bahkan haram. Ia tidak merasa berdosa dan enggan bertaubat, hingga akhirnya Allah menghukumnya secara tiba-tiba.

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ ۖ حَتّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami buka bagi mereka semua pintu kesenangan. Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka seketika itu mereka menjadi putus asa.” (QS. Al-An‘ām: 44)

2. Musibah sebagai Teguran dan Rahmat

Musibah merupakan bentuk teguran Allah ﷻ atas kesalahan hamba-Nya agar mereka kembali sadar dan bertaubat, sehingga terhindar dari azab neraka. Hal ini selaras dengan sabda Nabi ﷺ:

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah segerakan baginya hukuman di dunia.”

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing mereka Kami siksa karena dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang Kami kirimi angin kencang berbatu, ada yang ditimpa suara keras, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada yang Kami tenggelamkan. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS. Al-‘Ankabūt: 40)

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan banyak (dosa-dosa kalian).” (QS. Ash-Shūrā: 30)

Bahkan, bagi orang-orang mukmin yang bersabar, musibah merupakan rahmat dan petunjuk. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 155–157:

“…Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah berkata: ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.’ Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

3. Azab dan Penundaan Hukuman

Azab adalah keadaan ketika Allah ﷻ menunda hukuman di dunia, lalu seluruh dosa dibalas secara sempurna pada hari kiamat.

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Itu adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Āli ‘Imrān: 182)

Pada sebagian kaum, hukuman dapat dirasakan di dunia sekaligus di akhirat, sebagaimana yang terjadi pada umat Nabi Nuh ‘alaihis salām.

Seorang dai yang aktif dalam pembinaan umat dan pelayanan masjid. Beliau mengemban berbagai amanah dakwah, di antaranya di bidang Dakwah dan Ibadah Masjid Jami’ Abdurrahman Assanad, sebagai penasihat Yayasan Al Qoyyim, Ketua PRM Jati, serta anggota bidang Kaderisasi, SDM, dan KMM PCM Bendosari. Selain itu, beliau juga terlibat dalam dakwah Yayasan IRMAS dan bertugas sebagai musyrif tahfidz di MIM 01 PK Sukoharjo, sekaligus berkhidmat sebagai marbot Masjid Jami’ Abdurrahman Assanad Jati dengan membersihkan dan merawat rumah Allah.