Mengenal Allah dalam Rububiyah serta Nama-nama dan Sifat-Nya.
Apabila seseorang ingin memiliki iman yang benar, maka fondasinya harus dibangun di atas ilmu yang benar. Sebab, iman yang tidak berdiri di atas ilmu akan mudah goyah, bahkan bisa sirna ketika ujian keimanan menimpanya. Allah ﷻ berfirman:
“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi (jurang). Jika ia memperoleh kebaikan, ia menjadi tenang; tetapi jika ia ditimpa ujian, ia berbalik kembali (kepada kekafiran).” (QS. Al-Hajj: 11)
Kaidah-kaidah Akal tentang Keberadaan Allah ﷻ
Keimanan kepada Allah harus dibangun di atas ilmu yang sahih dan sesuai dengan akal yang lurus. Di antara kaidah akal tentang kebenaran tauhid adalah sebagai berikut:
1. Ketiadaan tidak menciptakan apa pun
العَدَمُ لَا يَخْلُقُ شَيْئًا
“Sesuatu yang tidak ada, tidak akan menciptakan apa pun.”
Tidak mungkin sesuatu terjadi dengan sendirinya. Ketika kita mengamati seluruh makhluk—manusia, hewan, tumbuhan, peredaran matahari dan bulan, pergantian siang dan malam—semuanya menunjukkan kepastian adanya Dzat yang menciptakan, yaitu Allah Ta‘ala.
Allah ﷻ berfirman:
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu (pencipta), ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Tidak, bahkan mereka tidak meyakini.”
(QS. Ath-Thur: 35–36)
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang bukti adanya Pencipta. Beliau menjawab:
“Perhatikan telur. Kulitnya kokoh seperti benteng, di dalamnya hanya putih dan kuning, namun keluar darinya makhluk bernyawa yang bersuara indah — yaitu ayam. Apakah hal itu terjadi tanpa pencipta?”
2. Merenungi ciptaan menunjukkan sebagian sifat pencipta
التَّفَكُّرُ فِي المَصْنُوعِ يَدُلُّ عَلَى بَعْضِ صِفَاتِ الصَّانِعِ
“Merenungi ciptaan menunjukkan sebagian sifat Sang Pencipta.”
Jika kita melihat sebuah pintu kayu yang rapi dan kuat, kita akan mengatakan bahwa tukangnya pandai. Begitu pula ketika melihat malam dan siang, lautan dan daratan, atau berbagai detail alam—semuanya menunjukkan adanya Sang Pembuat.
Seorang Arab Badui pernah ditanya tentang bukti adanya Tuhan. Ia menjawab:
“Anak unta menunjukkan adanya induknya. Jejak kaki di padang pasir menunjukkan ada yang melewati. Maka seluruh alam ini tentu menunjukkan adanya Sang Pencipta.”
Allah ﷻ berfirman:
“Katakanlah (wahai Muhammad): Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.”
(QS. Yunus: 101)
Dengan merenungi ciptaan Allah, kita tidak hanya mengetahui adanya Sang Pencipta, tetapi juga mengenal sebagian sifat-sifat-Nya:
- Awan yang indah menunjukkan Allah Maha Indah (Jamīl) dan mencintai keindahan.
- Udara yang bersih menunjukkan Allah Maha Suci dan menyukai kesucian.
- Setiap anggota tubuh berada pada tempat yang tepat menunjukkan Allah Maha Bijaksana (Al-Ḥakīm).
- Janin yang diciptakan dalam kegelapan rahim menunjukkan Allah Maha Mengetahui (Al-‘Alīm).
- Rizki janin melalui tali pusar menunjukkan Allah Maha Pemberi Rizki (Ar-Razzāq) dan Maha Penyayang.
Semua ciptaan-Nya adalah bukti tentang kebesaran Asmā’ wa Ṣifāt Allah ﷻ.
3. Yang tidak memiliki tidak bisa memberi
فَاقِدُ الشَّيْءِ لَا يُعْطِيهِ
“Orang yang tidak memiliki sesuatu, tidak dapat memberikannya.”
Orang yang tidak memiliki harta tidak dapat memberi harta, dan orang yang tidak berilmu tidak bisa memberikan ilmu. Maka tidak mungkin makhluk ada dengan sendirinya; sebab alam semesta memiliki fungsi, kesempurnaan, dan keteraturan yang mustahil terjadi tanpa Pencipta Yang Maha Sempurna.
Semua ini adalah bukti-bukti akal bahwa seorang hamba wajib meyakini adanya Rabb yang mengatur alam semesta. Semoga Allah meneguhkan kita dalam iman dan Islam hingga akhir hayat.
Tauhid Rububiyah dan Asmā’ wa Ṣifāt
Para ulama menyebut pembahasan ini sebagai Tauhid ‘Ilmī Khabarī I‘tiqādī — yaitu penetapan keyakinan atas kesempurnaan Allah dan penyucian-Nya dari segala kekurangan serta penyerupaan. Tauhid ini mencakup:
- Tauhid Rububiyah: meyakini bahwa Allah satu-satunya Pengatur.
- Tauhid Asmā’ wa Ṣifāt: meyakini nama dan sifat Allah sebagaimana adanya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama; siapa yang menjaganya akan masuk surga.”
Allah memiliki nama dan sifat yang wajib kita imani. Yang dikenal oleh manusia berjumlah 99, namun masih banyak nama dan sifat yang Allah simpan dalam ilmu ghaib-Nya. Dalam hadits syafaat disebutkan bahwa Nabi ﷺ memuji Allah pada hari kiamat dengan pujian yang tidak pernah diajarkan di dunia.
Para ulama menetapkan beberapa kaidah penting mengenai Tauhid Asmā’ wa Ṣifāt:
- Semua nama Allah adalah ḥusnā (indah dan sempurna).
- Nama dan sifat Allah lebih tinggi dari segala yang kita bayangkan; tidak ada yang menyerupai-Nya.
- Nama dan sifat Allah adalah taufiqiyyah, ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya; tidak boleh ditetapkan dengan akal.
- Nama dan sifat Allah tidak terbatas pada jumlah tertentu.
- Nama dan sifat Allah tidak boleh ditakwilkan dari makna zahirnya tanpa dalil, seperti “tangan Allah” — dimaknai sebagaimana datangnya, tanpa menyerupakan dan tanpa menyelewengkan makna.
(Lihat: Kaidah Asmā’ wa Ṣifāt – Syaikh Ibn Utsaimin)
Marāji‘ (referensi)
Al-Iman, Ma’arijul Qabul, Fathul Majid. Azzinad Fie syarhi lum’atil i’tiqaad.





